Selasa, 09 Januari 2018

Rendahnya Tingkat Literasi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

author photo
Tulisan Sylvia Andaresta
"Orang tua menjadi contoh bagi anak-anaknya untuk menumbuhkan minat baca sejak dini karena memang pendidikan pertama dan utama itu adalah melalui keluarga."

Berbicara mengenai Literasi sudah menjadi rahasia umum bahwa tingkat literasi (Membaca) di Indonesia sangat memprihatinkan terlihat dari hasil studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu di mana Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara mengenai minat baca.

Tidak hanya itu menurut UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,0001% yang artinya 1.000 dari penduduk hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Data dari survei 3 tahunan BPS juga mencatat bahwa tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66%, sementara minat menonton mencapai 91,67%.
Rendahnya Tingkat Literasi, Siapa yang Bertanggung Jawab?
pixabay.com

Dari hasil-hasil yang kita lihat memang sangat memprihatinkan, dan siapa yang harus disalahkan akan hal ini? Orang tua? Pemerintah? atau perusahaan yang menayangkan program-program di TV?

Namun, tidaklah tepat untuk mencari-cari siapa yang salah akan hal ini, tetapi di sinilah kita dapat melihat dan memperbaiki apakah peran dari orang tua, pemerintah, dan masyarakat sudah berjalan dengan maksimal serta siapakah yang berperan besar dalam hal ini.

Kita dapat melihat dari hasil survei yang ada, anak-anak dominan memiliki minat menonton dari pada membaca. Padahal seperti yang kita ketahui anak-anak merupakan aset negara untuk kemajuan bangsa. Membaca merupakan unsur penting dalam membuka wawasan dan kemajuan dalam pola berfikir.

Tidaklah masalah jika tayangan yang ditonton mengandung unsur pendidikan dan meransang anak-anak untuk aktif dalam belajar, tetapi tidak dapat kita pungkiri bagaimana tayangan-tayangan di televisi saat ini mempengaruhui anak. Hal seperti ini memanglah peran orang tua itu sangat penting dalam mengontrol.

Orang tua menjadi contoh bagi anak-anaknya untuk menumbuhkan minat baca sejak dini karena memang pendidikan pertama dan utama itu adalah melalui keluarga. Berikutnya barulah pendidikan di Sekolah. Terkadang orang tua tidak mengerti akan hal ini. Apalagi di daerah-daerah termasuk Kalimantan Barat sehingga pendidikan di sekolahlah yang berperan sepenuhnya bagaimana menumbuhkan minat baca.

Tidak seperti dalam keluarga, pendidikan di sekolah tidak dapat sepenuhnya menangani hal ini selain memang kebiasaan dari keluarga itu sendiri ditambah lagi belum lengkapnya fasilitas terutama perpustaakan, buku-buku di sekolah maupun di daerah.

Memang pemerintah memiliki banyak program yang baik untuk dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Seperti program literasi, 15 menit membaca sebelum memulai pelajaran di sekolah. Selain itu mengadakan book fair dan seminar literasi serta program lainnya.

Namun, hal tersebut belumlah menyadarkan masyarakat untuk memulai membaca apalagi di daerah pedalaman yang belum dapat menjangkau dan mengikuti kegiatan seperti book fair sehingga kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya membaca.

Seperti di daerah Kabupaten Ketapang tepatnya di Desa Betenung Kalimantan Barat dengan program pemerintah yang ada telah tersedia buku-buku di kantor desa yang dapat dipinjam, dibaca, dan digunakan masyarakat walaupun belum tersedianya fasilitas seperti gedung perpustakaan. Dari hal ini terlihat bahwa pemerintah sangat memperhatikan masyarakat di pedalaman hanya saja kurangnya sosialisasi dan kontak langsung kepada masyarakat sehingga buku yang ada hanyalah menjadi pajangan saja.

Nah, lalu bagaimana minat baca masyarakat dapat meningkat padahal fasilitas tersedia tetapi kesadaran masyarakatnya kurang? Di sinilah peran penting generasi muda para akademisi yang sedang menuntut ilmu. Kita tidak bisa melimpahkan tanggung jawab ini hanya kepada pemerintah apalagi di daerah seperti pedalaman-pedalaman Kalimantan Barat yang sulit dijangkau.

Pemuda daerah berperan besar dalam literasi untuk membangun minat baca masyarakat di daerahnya. Pemuda tidak hanya menuntut ilmu di Universitas-Universitas ternama namun harus memberikan efek positif di daerahnya seperti menjadi agen dan penggiat literasi. Agen dan penggiat literasi yang terus menggemakan pentingnya membaca dan menulis secara konsisten.

Sosialisai kepada masyarakat itu penting, tidak hanya melalui sosialisasi formal dengan pembicara yang menyampaikan materi. Masih banyak cara yang menyenangkan untuk menyampaikan dan menyadarkan bahwa membaca itu penting.

Sosialisasi dan kegiatan literasi yang rutin akan menularkan dampak positif kepada masyarakat. Dampak positif terutama pada orang tua yang menjadi “GURU sejak dini” bagi anak-anaknya sehingga jiwa literasi dapat tertanam pada anak.

Oleh karena itu, setiap akademisi, pemuda dan akan lebih baik lagi seluruh masyarakat untuk dapat bergandengan tangan dalam memajukan literasi di daerah dan di seluruh Indonesia.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post