Rabu, 28 Agustus 2019

Rendahnya Budaya Literasi, Siapa yang Kurang Peduli?

author photo
"Pemerintah merupakan agen utama yang paling memperhatikan memperhatikan dan terus berupaya dalam memajukan literasi bangsa. Bentuk perhatian pemerintah adalah melalui pemberian sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan literasi tersebut."

kalimantan barat berliterasi
Rendahnya Budaya Literasi, Siapa yang Kurang Peduli? Sumber gambar: pixabay

Tulisan Patricia Fantania

Budaya literasi terus diupayakan untuk bisa diterapkan di Indonesia. Hal ini tentunya sangat positif sehingga dapat meningkatkan angka melek huruf masyarakat yang tentu berdampak pada semakin membaiknya kualitas sumber daya manusia yang ada. Tetapi hal yang terus diupayakan tersebut tidak memberikan dampak yang signfikan bagi kemajuan literasi bangsa.

Minat membaca Indonesia masih saja rendah. UNESCO pada tahun 2015 silam, mendata minat membaca di Indonesia hanya sebesar 0,001% yang artinya dari seribu orang Indonesia hanya satu orang yang gemar membaca. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State Unversity mengenai Most Littered Nation In the World tahun 2016, negara Indonesia menduduki peringkat kedua terakhir dalam hal minat membaca.

Seberapa sulitkah membaca sebuah buku? Apakah sangat sulit, sehingga tidak tertarik sama sekali untuk membaca sebuah buku? Sebenarnya membaca itu tidak sulit, karena membaca merupakan kemampuan dasar yang kita miliki dan telah didapat sejak usia dini. Jadi, seharusnya membaca bukanlah suatu hal yang sulit dan tidak seharusnya kita hindari.

Baca Juga: Pentingnya Budaya Literasi Bagi Milenial

Selain itu, di sekolah-sekolah telah disediakan fasilitas membaca seperti perpustakaan sekolah yang diisi dengan berbagai koleksi-koleksi buku. Koleksi tersebut setiap tahunnya ditambah dan diperbaharui. Perpustakaan umum yang ada sangat mudah untuk dijangkau lokasinya, koleksi buku-buku dan fasilitasnya juga cukup lengkap. Toko-toko buku juga tidak susah untuk ditemukan dan buku-buku yang ditawarkan banyak pula pilihannya.

Jadi, siapakah yang kurang peduli? Apakah pemerintah, guru, atau orangtua?

Pemerintah merupakan agen utama yang paling memperhatikan memperhatikan dan terus berupaya dalam memajukan literasi bangsa. Bentuk perhatian pemerintah adalah melalui pemberian sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan literasi tersebut. Perpustakaan salah satunya, gedung dan koleksi-koleksinya terus diperbaharui dan difasilitasi sebaik mungkin supaya dapat menjadi tempat masyarakat untuk mengembangkan budaya literasinya.

Selain itu, pemerintah juga gencar meningkatkan budaya literasi dengan diadakanya pameran buku atau Book Fair baru-baru ini yang dilaksanakan setiap tahun. Dalam pameran tersebut dihadirkan ribuan buku yang dijual dengan harga murah. Dengan adanya pameran tersebut pemerintah mengharapkan masyarakat bisa memiliki dan membaca buku yang beragam tanpa perlu takut kantong kering.

Baca Juga: Tak Seindah Salju Musim Dingin

Tidak hanya pameran saja tetapi pemerintah juga meluncurkan mobil perpustakaan keliling yang akan digunakan di beberapa daerah. Serta dilakukannya peluncuran aplikasi ipusnas.id  yaitu aplikasi perpustakaan berbasis digital yang bisa diakses melalui android. Sehingga dapat mempermudah masyarakat dalam membaca ataupun meminjam buku secara digital. Semua upaya yang dilakukan tersebut membuktikan bahwa pemerintah sangat peduli dan mendukung kemajuan literasi di negeri ini.

Guru dan orang tua yang merupakan agen pendukung juga telah menunjukkan kepeduliannya terhadap literasi. Guru adalah seorang pendidik yang tentunya telah berupaya sebagai pembimbing di sekolah untuk terus mengembangkan kemampuan menulis dan membaca. Serta menggalakkan untuk menggunakan buku sebagai sumber informasi utama dalam pelajaran.

Kemudian orang tua di sini menunjukkan kepeduliannya dengan mengajarkan budaya literasi dan mendampingi anaknya dari kecil untuk memperoleh kemampuan menulis dan membaca serta mendukung anak dalam kegiatan yang berkaitan dengan literasi. Selain itu, orang tua juga yang memberikan fasilitas kepada anak mereka berupa buku.

Berdasarkan uraian di atas maka jawaban dari pertanyaan siapa yang kurang peduli adalah diri sendiri. Mengapa? Karena di jaman sekarang ini di saat munculnya berbagai teknologi canggih dan masuknya berbagai budaya asing membuat kita lupa diri. Hampir setiap saat orang-orang menggunakan gadget tapi memegang buku mungkin hampir tidak pernah.

Baca Juga: Sajak-Sajak Ramos Marpaung

Jika memegang buku saja tidak pernah, apalagi membacanya. Memang sekarang ini membaca buku bisa dilakukan di gadget kita tetapi apakah yang dibaca selama ini adalah buku, saya yakin bahwa hampir semuanya hanya membaca postingan-postingan orang dan berita-berita hoax yang ada di media online.

Kebiasan-kebiasan itu haruslah dibuang, mulailah untuk lebih peduli terhadap literasi. Berawal dari diri sendiri, biasakan untuk membaca buku bukan membaca beerita yang belum diketahui kebenarannya. Tidak rugi jika melepaskan gadget selama beberapa saat dan menggantinya dengan buku. Dengan begitu malah akan banyak manfaat yang dapat diperoleh.

Semua telah menunjukkan kepeduliannya terhadap literasi maka kita juga harus tanggap dan turut peduli karena semua itu untuk kemajuan literasi bangsa ini yang tentunya akan menjadi kebanggaan semua warga negaranya. Termasuk literasi di Kalmantan Barat juga harus sangat digencarkan.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post