-->

Minggu, 28 Juni 2020

Sajak-Sajak Septiadi Gunawan, Bulan dan Tubuh Pacarmu

author photo
Sajak-Sajak Septiadi Gunawan dan Tubuh Pacarmu termuat di laman Literasi Kalbar. Puisi bergairah mengenai rindu, benci, dan sayang yang diramu dengan bergelora. Selamat membaca puisi yang bergairah.

literasi kalbar
Sajak-Sajak Septiadi Gunawan, Bulan & Tubuh Pacarmu, pic pixabay.com

Karya Septiadi Gunawan

Aku Mati di dalam Tubuh Pacarmu


Kita adalah asing yang mengakrab
Ditemukan dari ketidaksengajaan pertemuan
Berawal dari saling tatap
Kemudian turun melintasi jalur – jalur napas
Melewati kerongkongan 
Menembus visera-visera

Aku berhenti sejenak 
Melihat lagi petunjuk 
Mencari tempat dimana kini kau menetap

Didalam sinyal sangat susah
Aku mencoba untuk menelponmu
Tapi ada peringatan
Maaf baterai anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini

Akupun belajar melupakan
Membiarkan ruang gelap ini membunuh diriku 
Sedang kau terang disana
Membiarkanku mati didalam ruang sepi dan penyesalan 

***


Jarak Rindu dan Pertemuan


Aku pernah membenci jarak
Sebelum akhirnya  aku akui 
Beberapa hal memang harus di beri jarak

Aku pernah memusuhi rindu
Sebab ia selalu datang dengan tiba-tiba
Sebelum akhirnya aku sadari 
Bahwa beberapa rindu memang harus di pendam

Aku pernah berdoa  pada Tuhan
Agar jarak tidak menciptakan rindu
Tapi Tuhan tak mengabulkan

Kali ini aku bukan pernah 
Tapi sedang berdiri menonton konser
Katanya
Kalau ada waktu untuk bertemu lagi, kita bertemu ya

***

Untukmu yang Pergi Bersama Rinai


Diluar hujan, turun sangat lebat
Orang – orang lebih memilih bersembunyi dibalik selimut
Ada juga yang memilih melahap semangkok bakso

Di teras-teras ruko
Orang-orang ramai berlindung
Dari rintik  yang tak mereka harapkan

Di jalanan-jalanan kota
Mobil-mobil melaju sangat pesat
Tak perduli seberapa tinggi genangan yang mereka lalui
Pengendara roda dua selalu benci
Saat mobil-mobil itu melaju di genangan
Percikannya terkadang memancing kemakian

Yang menarik ada satu pria
Duduk di pojok warung kopi dengan buku ditangannya
Ku perhatikan dari balik jendela
Wajahnya mirip sekali seperti orang yang meninggalkanku
Seseorang yang membuatku murung
Seseorang yang selalu membuatku rindu
Seseorang yang mengajariku untuk tak membenci hujan
Walaupun pada akhirnya hujan yang merebutnya dariku

Untukmu yang memilih pergi dengan rinai
Semoga selalu bahagia dan tenang disana

***

Paket Sedih dan Bahagia


Aku ingin bertanya teman
Silahkan tanyakan saja
Mengapa kesedihan harus tercipta ?
Hahaha
Mengapa kau tertawa
Baik akan ku jawab
Lucu dong kalau hidup kita selalu diatas terus
Pernah dengar istilah hidup seperti roda?
Seperti itu juga Tuhan ciptakan cara kerja sedih dan bahagia

Sesungguhnya kita punya sedih dan bahagianya masing – masing
Tak perlu kau cemaskan
Yang perlu kau yakini
Kesedihan tercipta sepaket dengan kebahagian

***

Puisi Untuk Bulan 


Hai bulan
Kabar baikkan kamu?
Semoga selalu baik ya
Aku dengar sekarang kamu sudah dikenal banyak orang
Selamat ya, sukses selalu
Masih ingatkan malam-malam di pos ronda
Ataupun sore – sore di sungai venus

Semenjak kepergianmu ke kota kala itu
Jalanan – jalanan desa sepi
Pos – pos ronda hanya di isi oleh bapak – bapak yang gemar bermain  kartu
Sungai venus pun hanya di isi oleh ibu – ibu untuk mencuci

Terlebih aku,
Yang kau tinggalkan tanpa pertemuan
Masih ingat sekali aku mimpi – mimpi kita
Yang kini terkubur secara terpaksa

Selepas kepergianmu
Tak ada lagi tempat untuk aku melihat senja
 Dari sisi yang berbeda,dimatamu

Selepas keputusanmu
Aku lebih suka duduk di waduk desa dengan sendiri
Berteman akrab dengan kemurungan dan kesepian

Teruntuk bintang
Aku mohon jaga Bulan baik – baik
Jangan buat ia kecewa, sedih dan terluka
Aku pamit undur diri
Kini giliranmu untuk menjaganya

Doaku untuk kalian
Semoga selalu bahagia
Jangan lupa selalu tertawa

Salam hangat dariku
Purnama Aksara


Laman Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi  & opini.
Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com

Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan 


BACA JUGA


Sajak-Sajak Yana


Sajak Sonny Kelen & Rumah Masa Lalu


Virus Corona dan Aktivitas 14 Hari Membaca Buku



This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post