-->

Senin, 21 Februari 2022

Cerpen Poligami

author photo

cerpen Sri Wahyuni

literasikalbar.com - Sri Wahyuni mengangkat cerita yang tak biasa bagi perempuan. Dalam cerita poligami disajikan bahwa tokoh mau dimadu. Namun, penulis tidak menggambarkan sisi dari seorang istri pertama. Tidak ada penggambaran jelas apakah istri pertama mau dimadu atau tidak.

Cerpen Poligami karya Sri Wahyuni
Cerpen poligami pic pixabay


Cerpen Poligami


Ketika kita melihat kondisi terburuk dari seseorang dan kita masih bertahan untuk tetap terpaut dalam sebuah ikatan itulah cinta.

 

Namanya Marini. Ia adalah seorang gadis desa yang kecantikannya sangat alami. Dengan wajah yang elok, memiliki hidung yang mancung dan bulu mata yang sangat lentik. Tinggi badan Marini di atas rata-rata anak gadis di kampungnya. Rambutnya panjang ikal bergelombang dan warna kulitnya khas orang jawa, sawo matang. Jika Marini dipoles sedikit saja maka kecantikannya sebanding dengan artis sinetron saat ini. Bahkan karena kecantikaanya itu ia menjadi bunga desa yang mendapat julukan Anna Maria. Orang-orang sering menyebut dia Anna Maria bintang film kawakan karena wajahnya mirip  dengan Anna Maria. 


Marini hidup dalam keluarga yang sangat sederhana bahkan bisa dikatakan kekurangan. Orang tuanya hanya menjadi buruh tani yang harus menghidupi lima anak. Dan marini adalah anak terakhir di keluarganya. Dengan kehidupan serba kekurangan seperti itu Marini hanya bisa mengenyam pendidikan sampai SD saja. Itu sudah lebih baik dibanding kakak-kakanya yang SD saja tidak tamat. 


Setelah tamat SD Marini berusaha mencari pekerjaan, seperti kebanyakan anak-anak di kampungnya. Karena sekitar tahun 80-an tamatan SD sudah dapat bekerja di pabrik waktu itu. Marini akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai buruh pabrik textile. Kebetulan anak-anak gadis yang ada di desanya saat itu juga cukup banyak yang bekerja di pabrik tersebut. Pabrik tekstil tempat Marini  bekerja cukup besar sehingga upah yang diterima Marini sebagai buruh biasa lumayan untuk tabungan dan sedikit membantu orang tuanya.


Tak jauh beda dengan di kampung, Marini juga jadi kembang di pabriknya. Banyak teman-teman cowok yang meliriknya. Namun Marini waktu itu belum terpikirnya olehnya untuk mempunyai teman dekat. Banyak tema-teman cewek juga iri melihat ketenaran dan kecantikan Marini. Kecantikan Marini membuatnya menjadi ikon di pabriknya. Setiap pabrik ada acara atau kedatangan tamu maka Marinilah yang akan ditunjuk menjadi penerima tamunya dengan memakai baju kudusan.


Di kampungnya, banyak anak perjaka yang ingin mendekati Marini. Salah satunya adalah Parjiman, anak dari juragan beras yang cukup terpandang di kampung Marini. Sepulang dari kerja Emaknya menghampiri Marini yang berada di kamar untuk ganti baju.


“Nduk, tadi kamu ditanyakan Mak Darsi?” kata emaknya.


“Mak Darsi? Ada apa Mak?” sahut Marini sembari terlihat menyelidik dari sudut netranya.


“Itu lho Parjiman, anak Mak Darsi, kelihatannya suka sama kamu Nduk,” sahut Emak.


“Halah, Emak. Ngapain sih ngomongin itu, Mar gak suka!” bersungut-sungut Marini keluar kamar meninggalkan ibunya sendirian yang tidak bisa berkata apa-apa kalau Marini sudah marah.


Begitulah banyak perjaka di kampungnya yang ingin meminang Marini tetapi Marini  tetap kekeh dengan pendiriannya, dengan alasan masih ingin bekerja dan belum mau nikah. Akhirnya Marini menikmati masa gadisnya dengan cukup bahagia bersama tema-teman pabriknya walau terkadang Marini dapat shif malam yang menharuskan Marini masuk sekitar pukul sebelas malam. Dan yang sering  Marini jumapi di saat mau masuk dan keluar dari pabrik adalah Pak Satpam. Satpam di pabrik Marini Bernama Widodo. Widodo adalah salah satu satpam di pabrik Marini. Widodo seorang lelaki yang gagah, santun, dan tidak banyak bicara. Widodo termasuk lelaki yang cukup tampan. Kulitnya bersih dan terang ada kumis menggumpal di bawah hidungnya, itu yang membuatnya semakin menawan.  Marini cukup akrab dengan Widodo karena Widodo sangat ramah, santun, dan karismatik.


Dari hari ke hari Widodo dan Marini terlihat semakin dekat. Entah angin apa yang telah mendekatkan dua hati itu. Widodo sering bertandang ke rumah Marini di sela-sela pulang kerja. Semua keluarga menyambut baik Widodo karena laki-laki itu memang santun dan ramah.


Di tempat kerja Marini dan Widodo sudah jadi bahan gunjingan kedekatan mereka. Ternyata yang menjadi bahan gunjingan bahkan cibiran satu pabrik karena kenyataannya Widodo adalah laki-laki yang sudah beristri.


Kabar tentang Widodo yang sudah beristri sampai juga di telinga orang tua Marini. Betapa panas dada kedua orang tua Marini mendengar berita itu.


“Maksudmu gimana ini Mar, mau bikin orang tuamu ini mati! Anak ngga tau malu!” Lanjut ibunya dengan muka yang memeah kelihatan menahan amarah di dada.


Marini masih tertunduk. Banyak pikiran yang berkecamuk di dadanya. Sementara sesak dadanya menahan segaa resah yg menghimpit.


Marini tidak bisa memungkiri, dia sudah tau dari awal kalau Widodo itu beristri tapi hatinya terlanjur terpaut pada satpam pabriknya itu. Banyak hal yang tidak sanggup diungkapkan oleh Marini. Sudah berkali-kali hatinya ingin menjauh dari Widodo tapi tidak bisa. Demikian juga Widodo mereka berdua tidak lagi bisa dipisahkan, cinta mati.


Suara-suara sumbang dan mencibir banyak sekali ditujukan untuk mereka berdua. Keluarga Marini juga sudah tidak sanggup lagi mendengar celotehan dan cibiran tetangga yang memberi merk Marini adalah perebut lelaki orang. Setiap hari yang terlihat di keluarga Marini hanyalah mendung di wajah mereka. Hantaman masalah besar itu membuat mereka malu dan hamper tidak mau keluar rumah.


Marini akhirnya keluar dari pekerjaanya. Dia berhenti bekerja di pabrik itu yang mempertemukannya dengan Widodo. Semenjak berita itu muncul dan terkuak di pabrik dan di kampungnya bahwa marini ternyata menjalin hubungan dengan suami orang maka Marini memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.


Kedua orang tua Marini memberi pilihan kepada Marini untuk segera memutuskan hubungannya dengan satpam pabrik itu. Namun rupanya begitu erat terpaut hati keduanya . tak dapat dipisahkan lagi. Sepertinya sudah terlalu dalam hubungan hati anatar kedua anak manusia itu. 


“Kamu putuskan hubunganmu dengan Widodo atau kamu pergi dari rumah ini, aku tak sudi punya anak kayak kamu yang hanya bikin malu kami keluargamu!” suara Emak Marini memekik keras. 


Marini tak juga beringsut dari kamarnya. Sudah beberapa hari dia hanya berada di dalam kamar. Sesekali keluar untuk urusan ke belakang. Matanya terlihat sembab , kuyu dan pucat. Dalam kepalanya hanya memikirkan peristiwa hidup yang dialami saat ini. Dadanya terasa sesak. Ia terlalu mencintai Widodo dan tak sanggup untuk meninggalkannya. Tak digubris juga omongan dan kemarahan kedua orang tuanya.


Keluarga Marini menentang keras hubungan keduanya. Terutama Ibu Marini, Ibu Marini tak sanggup lagi .Dia menyutuh Marini untuk pergi dari rumah daripada membuat malu seluruh keluarganya.


Setelah beberapa hari tak bertemu dengan Marini, malam itu Widodo memberanikan diri dating ke rumah Marini. Dia sudah bertekad akan menghadapi apapun resiko dari pihak keluarga Marini. Ketika sampai di rumah Marini, Widodo sudah sejak sejak awal membayangkan apa yang akan diterimanya. Ia sudah siap menghadapi kemarahan keluarga Marini.


“Kamu itu lelaki perusak masa depan anakku!” pekik Emak Marini sambil menudingkan tangannya. Mendengar itu Widodo tak beringsut, ia hanya menunduk terdiam.


“Hubungan kalian berdua mencoreng muka kami! Lebih baik kalian pergi jauh agar kami tidak menanggung beban ini!” Teriak Emak Marini parau sambil terdengar sesenggukan. 


Widodo masih merunduk. Lidahnya terasa kelu mendapatkan cercaan dari Emak Marini. Sementara itu Bapak Marini hanya terdiam sambal sesekali menghela nafas panjang. Widodo merasa menjadi pesakitan di tengah-tengah keluarga Marini yang sedang menumpahkan amarah kepadanya. Marini masih di kamar belum juga mau menampakan batang hidungnya. 


“Bu..saya..,” ucap Widodo tertahan.


“Saya ingin menikahi Marini Bu,” ucap Widodo Kembali menundukkan kepala. Banyak yang berkecamuk di dadanya.


“Kamu itu sudah merusak masa depan Marini, sudah punya istri malah mengganggu anak gadis! Dan kamu juga hanya satpam terus gimana mau menghidupi anakku!” masih dengan nada tinggi Emak Marini.


“Tapi kami saling mencintai  Bu, kami ngga mau pisah!” Widodo menjawabnya


“Terus kamu mau punya dua istri, Marini kau jadikan madu buat istrimu!”


“Kamu tahu tidak, Marini itu banyak sekali yang mendekati, banyak yang ingin menjadikan istri, tapi karena Kamu Marini menolaknya, Sekarang dia terpuruk gara-gara kamu!” sahut Emak Marini sambal berkacak pinggang dan menuding Widodo. Widodo hanya bisa terdiam. 


Tiba-tiba Marini keluar dari kamar menangis sejadi-jadinya.


“Mak, ampuni Marini Mak, jangan salahkan Mas Wid, kami berdua sama-sama salah Mak.” Marini bersimpuh dan memeluk kedua kaki emaknya yg masih berdiri di depan Widodo. 


Emak Marini juga tidak kuat menahan rasa amarah, kecewa yang bercampur aduk jadi satu. Keluarlah suara raungan tangisan dari anak beranak itu. Dan akhirnya mereka berpelukan. Entah perasaan apa yang bercampur aduk dalam pikiran dan dada mereka yang saat itu berada di ruang tamu Rumah Marini.


Sejurus kemudian Bapak Marini membuka pembicaraan.


“Mak, Mar dan kamu Widodo, Bapak ingin bicara pada kalian.” Sambil memandang ke empat orang yang ada di depannya.


“Bapak sangat kecewa dengan kalian berdua. Seluruh keluarga malu dengan kalian. Tapi bagaimanapun ini sudah menjadi takdir-Nya. Dan ternyata kalian memang sudah tidak bisa dipisahkan. Bapak berharap kalian bertanggung jawab dengan hubungan ini,’’ kata Pak Sarno bapak Marini.


“Widodo, Bapak ingin bertanya sama kamu Wid?”


“Iya Pak,” jawab Widodo dengan lirih.


“Bagaimana tanggung jawabmu terhadap anakku Wid?”


“Saya sudah bertekad akan menikahi Marini Pak, Saya sangat mencintai Dek Mar?”


“Terus, bagaimana dengan istrimu?” tanya Pak Sarno lagi sambal mengernyitkan dahi.


“Istri saya sudah tau Pak, dan istri saya bersedia memiliki madu,” jawab Widodo lagi dengan agak tegas.


Pak Sarno menghela nafas panjang dan terasa berat terdengar mendengar jawaban dari Widodo. Terbayang dalam benak Pak Sarno, anak kesayangannya yang selama ini menjadi bunga desa akan dinikahi seorang satpam yang sudah beristri.


Sejenak dia memalingkan mukanya kearah Marini.


“Nduk, kamu bagaimana, sudah siap dengan keadaan ini?” tanya Pak Sarno.


“Saya sudah siap Pak, saya mencintai Mas Wid?” jawab Marini tertunduk menatap lantai.


Sementara di sudut ruang tamu terdengar isak tangis Emak Marini yang dari tadi hanya diam terpaku mendengar kesepakatan dua sejoli itu.


Pihak pabrik sudah mendengar peristiwa yang terjadi antara dua karyawannya itu. Tapi pihak pabrik tidak memecat Widodo karena ia termasuk karyawan yang baik dan punya dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya. Widodo dimutasi ke anak cabang pabrik tersebut yang ada di Sumatra. Sementara Marini tahu diri dan mengundurkan diri sebagai karyawan sebelum pihak pabrik memecatnya. Dengan kondisi seperti itu maka mereka berdua akan merantau Ke Sumatra meninggalkan segala kenangan dan kehidupan di Jawa. 


“Dek, istriku tidak bersedia aku cerai, dia masih ingin mempertahankan perkawinan kami,” ucap Widodo kepada Marini.


Marini menjawab dengan lirih, ”Ya Mas, aku harus siap menanggung segalanya dengan menjadi yang kedua.”


Akhirnya, hari pernikahanpun berlangsung. Tidak ada pesta yang gemerlap seperti anak-anak gadis lain yang menikah. Hanya beberapa keluarga dari Widodo dan beberapa dari keluarga Marini yang menyaksikan kesakralan akad nikah kedua sejoli itu.


Wajah-wajah suram  terlihat pada orang-orang yang ada di acara itu. Entah apa saja yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Kecewa, malu dan  marah mungkin sekarang yang berkecamuk di dada dan beradu di kepala mereka.


Tapi berbeda dengan dua sejoli itu, walaupun terlihat agak sedikit sembab, namun terlihat jelas pancaran kebahagiaan di raut muka Marini karena akhirnya bisa bersatu dengan kekasih hatinya. Demikian juga Widodo, terlihat bahagia.


Ketika kita melihat kondisi terburuk dari seseorang dan kita masih bertahan untuk tetap terpaut dalam sebuah ikatan itulah cinta. Tak ada alasan untuk mencintai dan dicintai.


This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post