-->

Kamis, 24 Februari 2022

Sajak Dzaki Al Fikri Bunga Cahaya Malam pada Ayah

author photo

literasikalbar.com – Dzaki Al Fikri meramu kata dengan rasa yang dialaminya. Banyak terselip perasaan yang merupakan ungkapan hati. Mungkin saja kegundahan, kerinduan, dan kecintaan terhadap sosok (Ayah dan Ibu). Sajak Dazki Al Fikri mengajak kita menyelam dikedalaman makna.


Sajak Dzaki Al Fikri Bunga Cahaya Malam pada Ayah


Sajak Dzaki Al Fikri Bunga Cahaya Malam pada Ayah


Ibu kau yang selalu adaAyah kau sangat mulia
 

Lepas


Saat ini siapa saja boleh berkata

Tentang hidupku

Debat yang hanya menghancurkan diri

Padahal hanya saja aku belum bisa


Jadi hal yang tidak mereka sangka

Ada baiknya aku diam saja

Walau kadang lara menghancurkan kesabaran

Dan ada baiknya aku tidak marah 

Karna ku yakin langkah ku tidak berhenti


Hari demi hari kadang ku berfikir sendiri

Sejenak aku merenungi jejak masa lalu ku

Belum siap rasa nya menelan takdir pahitku


Berjuang sendiri untuk mendewasakan diri

Kusadar masa kian larut dengan tujuan

Kini mereka yang peduli hanya membuang muka


Dengan iringan tak bersuara 

Mata seakan berbicara padahal tak ada suara

Bibir tak lagi mengucap kata hanya saja sebagai perumpamaan saja

Dan kini ku tlah memilih untuk berjalan sendiri

Hidup ini belum selesai

 kuharus berlari dan mengejar  berusaha Langit belum bisa

 merubah diri awan hitam

 membawa ku terbang Maka

 aku harus berjuang mati demi hati yang sejati


***


Bungaku

 

Bunga mekar indah berseri 

Berdiri seolah kumasih di sini

Harum semerbak dihati Sanubari

Namun indah di pelupuk mata

Tak seindah yang kurasa


Bungaku kini engkau pergi tak tau kemana

Semerbak harum mu pun sudah tiada lagi

Mungkin aku sudah kehilangan arah

Kemana lagi langkah ini bicara

Hanya kepada-Mu aku mengadu

 

Tuhan betapa aku merindukannya

Akan hadirnya dia dalam hidupku

Walau kini dia tlah pergi 

Kuyakin suatu saat kitakan bersua


Baca Sajak Anisa Maharani Arianto dalam Langkah Rahasia


***


Aku atau Kau yang Tau?


Aku kemarin berfikir untuk menjawab 

dan kau bilang kau lebih tau jawaban itu 

Aku berjalan di ujung waktu

Kau bilang waktu lebih tau dibanding jalan

Ini aku atau kau yang tau 


Aku gagal lagi kali ini 

Dan kau bilang usahaku ini kurang 

Aku selalu ingin benar

Tapi kau selalu tau aku salah 


Sebenarnya ini aku atau kau yang tau

Jariku letih menulis catatanmu 

Dan kau bilang tulisanku lebih jelek darimu 

Dan yang terakhir kawan 

Kau ingin apa saja

aku selalu mengalah 

dan sekarang kau tau apa

dan aku tau apa 

Sudahlah lupakan


***


Harapanku pada Ayah


Ayah saat ini dewasa tlah kurasa

Remaja usiaku saat ini mungkin saja

Kau sosok pahlawanku dan kuyakin itu

Ayah ingatkah wajah anakmu ini

Kau tak pergi tanpa alasan

dan aku dewasa bukan karena selalu malas-malasan


Kutau hidup ini lebih rumit 

Dari apa yang kubayangkan 


Tolong panggil aku sekali saja dalam mimpiku 

Boleh saja kau panggil namaku 

Boleh saja kau panggil sebutanku 

dan boleh saja kau panggil sesukamu 

Karna aku anakmu


Ayah kuyakin kau masih ingat denganku

Ayah banyak yang tlah kau ajarkan 


Walau waktu bersamamu jarang kurasakan 

Malam ayah semoga kau tetap bahagia 

Sekali lagi panggil aku anakmu


***


Baktiku Bukan Balasanku


Tengah malam aku hirup sedikit angin sejuk ini 

Kau tau apa yang kufikirkan? 


Melangkah satu langkah lebih jauh

Ibu kau yang selalu ada


Ayah kau sangat mulia 

Tuhan membisikkan aku tentang kalian


Yang tak seorang pun akan tau 

Panas nya matahari ini juga bukan masalah besar


Letih mu .. 

Air mata mu..

Aku tak pernah tau..


Dan janji ku .. akan selalu menyayangi

Mungkin harapan ku adalah senyum kalian


Karna tak pernah bisa air mata ku membalas mu

Meski darah menggantikannya.


Baca Cerita Poligami


***


Jalan


Di tengah gersangnya matahari

Saat orang orang sibuk berbincang 

Menengok ke arah mana mereka tak tau


Berdiri aku di sini 

Bayangan hangat menemani

Waktu yang tak pernah berhenti

Aku pun juga tak berhenti


Jejak teknologi yang hening

Seperti robot saja?

Apa baiknya aku tertawa? 

Melihat hidup yang kritis ini?


Baiknya aku bernyanyi sendu rayu 

Pada tahun tahun yang lalu

Keringat tak lupakan daku

Iya itu aku tapi mereka juga tak tau


Aku terjebak lagi

Oleh janji yang tiada arti 

Aku bisa...

Walau dianggap gila ..

Kehidupan kian gila 

Orang gila yang mendadak hilang ingatan? 

Aku tak tahu itu 

Yang pasti jalan ini tak seelok apa pikirku itu 

Yang pasti hidup ku tak sebahagia itu

Dan yang pasti aku ..hnaya aku yang dapat mengubah 

Hidup ku dalam perjalanan ku esok.


***


Tertinggal


Jalan jalan batu mengikir jiwaku 

Masihkah aku paham apa maksudmu

Menahan segala tekanan dari perkataanmu

Jalan yang menyisakan arti dihidupku


Duri manis darimu tak pernah membuatku gila

Bahkan saat awan tak lagi diatas langit

Aku masih bisa datang padamu 

Waktu tak bisa menahanku

Bahkan tidak untuk saat ini dan nanti


Aku akan lebih dulu mengitari mimpimu 

Sebelum kau hilang bersama kenanganku

Aku akan selalu lebih dulu tertawa bersamamu 

Sebelum kau tertinggal, terkubur bersamaku

Karna jiwaku tinggallah bersamamu 

Dan kau bukan lah siapa bagi hidupku saat itu.


***


Mengapa Masih Ada


Oh...malam apakah kau dengar aku 

Aku rapuh lelah dan hampir mengeluh

Oh... aku hilang harapan semua bagaikan duri yang tajam

Dia sinar yang indah menyinari hidupku

Tapi ... tak lagi hidup dalam jiwa ini


Aku tak tau bagaimana bisa kau mendengar aku 

Disaat hujan menerpa angin 

Disaat petur menyambar listrik 

Aku bahkan tak bisa bicara saat tatapan mu mengibas takdirku 

Bahkan tak sesekali kau menari dalam penyesalan kemarin.

Andai...angin saat itu membawa ku menghilang 

Aku hanya melihat kerapuhan itu 

Dan aku tak bisa menghilangkan semua itu

 mengapa kau masih ada di sini?

Kuharap untuk sekian kalinya kau hilang selamanya..


Baca Artikel Upaya Memicu Anak Supaya Mau Membaca


***


Cahaya Malam 


Hujan tak pernah berhenti untuk membasahi hari

Angin tak pernah hilang untuk membawanya datang

Petir tak pernah berubah saat ia menyambar takdir


Tersesat saat ku hilang arah 

Jatuh dalam penyesalan yang buruk dimata 

Jauh dari segenap harapan 

Perjalanan yang tak pernah menyisakan bahagia 


Sinar yang tak pernah kutenui

Kekuatan takdir yang tak bisaku kenali

Saat ini malam selalu di dalam mimpiku

Dan engkau cahaya malamku


Tak pernah sesekali kau redup dalam harapanku

Tak pernah sesekali ku melihat kau jauh 

Sinar yang tak pernah jua hilang 

Bahkan sampai saat ini bintang tak pernah kembali

Dan kau tetap di sini 

Tak pernah aku pahami kehendakmu 

Tapi kau tetap di sini. tetap di sini. dan di sini tetap


Kaulah sinarku 

Kaulah cahayaku

Kaulah bintang kecilku 

Tak akan pernah hilang, sekalipun kupergi 


***


Genting


Titipkan aku pada mu saat ku pergi

Terima lah pengharapan jauh dalam apapun jua

Aku ...aku .. aku 

Tak pernah tenang hidup ku 

Kecuali bersama mu 


Aku...

Berharap kau bisa menenangkan jalan ku

Aku...

Menanti segala tentang mu 

Aku... 

Sedang berlari mengejarmu

Dan aku ... 

Akan selalu mengejar impian mu 

Dan impian ku 

Bahkan jika hari ini

Esok diri ku takkan tenang


***

Berkaitan dengan isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Literasi Kalbar sebagai wadah kreativitas berliterasi baca tulis.

Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi, & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com

Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post