-->

Minggu, 12 Desember 2021

Sajak Ratih Wahyuningsih dalam Definisi Rindu Senja

author photo

literasikalbar.com - Ratih pandai memoles perasaan menjadi rangkaian puisi yang apik. Puisi yang bukan sekadar ungkapan perasaan tetapi ada pesan yang terkandung. Selain perasaan Ratih memasukkan diksi yang berkaitan dengan alam dan kehidupan.


Puisi ratuh wayuningsih
Puisi ratih wahyuningsih pic pixabay


Sajak Ratih Wahyuningsih dalam Definisi Rindu Senja


"Terus kupacu langkah meski kadang terengah. Memburu ribuan mimpi tiada kenal lelah."


Suatu Sore Selepas Hujan


Duduk bersamamu melepas penat 

Merangkai cinta berkawan secangkir teh hangat

Saat derai gerimis turun sore itu

Tanah kering, ranum basah mencair


Seribu warna pelangi turun ke bumi

Bersama kepak sayap bidadari

Memberi warna panorama indahnya langit


Gerimis mulai reda 

Pada senja; maha sempurna 

Alam sujud tafakur dalam syukur

Selaksa doa puja terpanjat 

Seribu puji terangkai suci

Selaras kidung senja mengalun menyemai asa

Menabur benih


Kabut abu menopang senja merayap

Selaras waktu berganti gelap

Khayal buyar menepis jejak

Di ujung senja, kau dan aku terpahat.


Bekasi : 12.09.19


Baca Juga: Puisi Masa Lalu dan Lara


***


Definisi Rindu


Desau angin senja  lirih, sendu

Menyentuh tajam ujung daun bambu

Mengetuk sisi hati berderit pilu 


Kusematkan pada kelip bintang

Sebaris  larik manis yang sengaja kurangkai

Kutitipkan pada merahnya rembulan

Seribu puja selaksa doa kupanjat 

Dibelah jarimu segenggam  janji kuat terikat


Kusematkan seikat kembang 

Untuk kau jaga di setiap harinya

.

Dalam bentangan langit kembali kulukis wajahmu

Meski hanya siluet hitam bercampur kabut abu

Aku berlari dari kisi hatiku sendiri

Mengusir ingat dahsyat   meluap


Serpihan rindu telah menjadi candu

Memahat palung hati sisakan nyeri

Diamku lara netraku nanar sarat bara

Membakar atma 


Rindu tinggal definisi

Terbungkus rapi

Kusematkan pada hijaunya daun 

Luruh jatuh bersama bening embun 


Kembali hatiku pada-Mu 

Sang pemberi rindu 


Bekasi: 10.02.2


Baca Juga : Puisi Alam Vadilah Anggraeni


***


Nak Rantau


Lebih dari dua dasawarsa kutinggalkan 

Kampung berpagar gunung,  

Sungai bening deras  mengalir 

Tempat  angin berhembus begitu sejuk, 

Udara segar bersih

Gelak canda sanak saudara  

Berbagi cerita sehari-hari


Wangi bunga liar di rimbun semak 

Lenguh kerbau dalam balutan lumpur sawah 

Hamparan hijau padi 

Menabur selaksa rindu di setiap hari


Jauh di rantau kusemai harap, rembulan jatuh dalam dekap

Terang bias mentari hinggap dalam pelukan

Terus kupacu langkah meski kadang terengah

Memburu ribuan mimpi tiada kenal lelah


Samsi  tersenyum lembut menatap di sela waktu

Rembulan merah jambu jadi saksi bisu


Setiap aku kembali pada rangkulmu

Menopang segenap rindu 

Peluk mesra kerabat terasa begitu hangat

Memahat rasa cinta erat mengikat


Satu waktu aku kan kembali 

Dan tak’kan pergi lagi

Menepi sendiri di sudut bumi


Bekasi : 20.01.2020


***


Puja Senja


Akulah pengagum senja 

Ranum memerah menabur selaksa warna

Raut langit memutih abu melukis bilur perak 

Serpihan awan terserak, berarak melukis  langit

 

Sang fajar penjaga hari 

Redup cahayanya merajuk hati

Hantar pulang setiap derap  kaki


Akulah penikmat senja  

Setia  di gerbang gelap

Kala satwa hening memuja 

Nyaring  seruan takbir memanggil

Selaksa kepala  sujud tafakur  merunduk

Digerbang-Mu aku merajuk

Menghiba atas segala cela  kian tebal menjelaga


Akulah pengagum senja 

Di gerbangmu aku merajuk dengan segala pinta


Bekasi: 22.01.2020


Baca Juga : Cerpen Musim Ngayau Noor Fadillah


***


Karena Kucinta


Tak mengapa kudiam di sini, bercumbu dengan ribuan mimpi. 

Menanti tanpa kata pasti

Di jeda mimpi terdampar dalam nyata, kembali menuai perih 

Mengulum kilap tajam belati

Tak tahu lagi bentang putih bumantara, atau hijaunya jenggala.

Lama hanyut dalam kubang luka


Tak mengapa kuberdiri di sini, 

Menantang sengat terik mentari yang kerap tajam menguliti. 

Melintas gerimis memintas deras, hingga menembus badai 

Menopang kelam kala rembulan tiada, kerlip gemintang pun entah kemana.

Dirajam mesra gulita, bersenggama dengan larik asa.

Lengkung pelangi singgah di bahu mimpi


Biarkanku di sini, sembunyi diri di balik semak perdu, mengupas buih-buih rindu

Mengenangmu adalah santapan pilu, yang terus kutelan tanpa kurun waktu

Entah didetik yang mana? Aku berhenti menyakiti diri, 

Hingga wajah manismu lalu terganti.


Bekasi: 11.06.2021

***


Ratih Wahyuningsih tinggal di Kecamatan Setu,  Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ratih Guru di SMPN 1 Setu Kabupaten Bekasi  untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia serta Dosen di Kampus IV Universitas Pancasakti, anggota aktif dari HPAI Kab. Bekasi. Tergabung menjadi anggota dari  KPPBR ( Komunitas Pendidik Penulis Bekasi Raya). Torehan karya sastra berupa antologi puisi dan cerpen. Kontak Ratih di facebook Ratih Wahyuningsih atau instagram ratihningsih 10


Berkaitan dengan isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Literasi Kalbar sebagai wadah kreativitas berliterasi baca tulis.


Laman Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi, & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com


Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan





This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post