-->

Sabtu, 07 September 2019

Sejarah Kalimantan Barat dalam Novel M.Yanis

author photo
"Penulis buku ini berhasil merekonstruksi perjalanan hidup M. Yanis dan fakta sejarah yang terdapat di dalam kedua novel tersebut. Di samping itu, secara tidak langsung pula hasil penelitian ini memperlihatkan M. Yanis berhasil meletakkan catatan-catatan sejarah bangsa yang lebih lengkap daripada catatan sejarah."


Dr. Ahadi Sulissusiawan, M.Pd.

Buku ini berhasil membuktikan bahwa pengalaman pribadi pengarang dalam proses kreatif memainkan peranan penting untuk menghasilkan karya, seperti yang dapat dilihat dalam novel Kapal Terbang Sembilan (1983) dan Djampea (1998). Buku ini menggambarkan dengan gamblang bagaimana pengarang mereproduksi cerita sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan Barat berdasarkan kedua novel tersebut.

Sebuah buku menarik dalam membedah novel sejarah dengan deskripsi yang cukup menawan. Alhasil, buku ini pun mencatat bahwa pengarang sebagai novelis telah menunjukkan kemampuan menganyam peristiwa serta mengesahkan catatan sejarah tentang perang dan segala peristiwa yang ada pada waktu itu.

Berdasarkan hasil kajian buku ini dapat disimpulkan bahwa terdapat lima citra manusia dalam novel Kapal Terbang Sembilan dan Djampea.

Pertama, terdapat citra manusia dalam hubungan manusia dan Tuhan, yaitu gambaran mengenai citra manusia taat menjalankan ajaran agama.

Kedua, gambaran mengenai citra manusia dalam hubungan manusia dan alam, memberi bayangan adanya citra manusia mendayagunakan alam.

Baca Juga: Membangun Motivasi Literasi

Ketiga, adanya citra manusia dalam hubungan manusia dan masyarakat, yaitu sebuah deskripsi mengenai citra manusia berjiwa penolong, citra manusia menghargai orang, citra manusia mematuhi adat dan etika sosial, citra manusia sebagai manusia pelopor, dan citra manusia berjiwa pengabdi.
Keempat, terdapat citra manusia dalam hubungan manusia dan manusia lainnya, yaitu gambaran mengenai citra manusia berjiwa pemarah, citra manusia mementingkan persahabatan, citra manusia keras kepala, citra manusia sombong, dan citra manusia ramah.

Kelima, wujud pula citra manusia dalam hubungan manusia dan diri sendiri, yaitu citra manusia bimbang dan citra manusia pasrah. Penulis buku ini juga berhasil mengeksplorasi fakta sejarah yang terdapat di dalam novel Kapal Terbang Sembilan (1983) dan Djampea (1998). Saudara Dedy Ari Asfar dan Prima Duantika telah membuktikan bahwa kedua novel tersebut mengandung narasi dan fakta sejarah perjuangan di Kalimantan Barat.

Hasil analisis yang dilakukan Saudara Dedy Ari Asfar dan Prima Duantika dalam buku ini membuktikan bahwa novel-novel karya M. Yanis merupakan novel sejarah yang menggambarkan perjuangan aktivis kemerdekaan di Kalimantan Barat.

Penulis buku ini berhasil merekonstruksi perjalanan hidup M. Yanis dan fakta sejarah yang terdapat di dalam kedua novel tersebut. Di samping itu, secara tidak langsung pula hasil penelitian ini memperlihatkan M. Yanis berhasil meletakkan catatan-catatan sejarah bangsa yang lebih lengkap daripada catatan sejarah.

Hal ini menjadi masuk akal karena di dalam baris-baris kalimat yang diungkapkan terkandung juga emosi, aspirasi, dan aktivitas keseluruhan kehidupan masyarakatnya. Malahan, M. Yanis mampu menceritakan kembali dalam bentuk kreatif dengan menggunakan bahasa sebagai lidah penyampainya.

Situasi Indonesia khususnya lagi Kalimantan Barat yang pada masa itu dijajah oleh Jepang dan Belanda telah menjadi inspirasi M. Yanis untuk menulis kembali peristiwa-peristiwa penting dalam novelnya. Perjalanan panjang M. Yanis semasa bekerja di perusahaan Sumitomo (yang pernah dikuasai Jepang dan Belanda) serta sebagai Kepala Bagian Lokal pada Dinas Distribusi Keresidenan Kalimantan Barat tergambarkan dalam novel-novel yang dihasilkannya tersebut.

Baca Juga: Tragedi Mandor Berdarah

Hal ini menunjukkan bahwa M. Yanis merupakan individu yang melihat dan merasakan langsung perjuangan pergerakan kemerdekaan sehingga berhasil mencatat peristiwa-peristiwa bersejarah di Kalimantan Barat dengan tepat dan cermat. Berdasarkan pertimbangan di atas, saya bangga sebagai penyunting ahli buku Citra Manusia dan Sejarah Kalimantan Barat dalam Novel-Novel M. Yanis ini, baik dari sisi teknis bahasa maupun isi kajian menyajikan informasi bermanfaat untuk ahli sastra sekaligus sejarahwan.

Buku yang ditulis Saudara Dedy Ari Asfar dan Prima Duantika ini membuka cakrawala dan pengetahuan tentang pendekatan sastra dalam menganalisis sastra sejarah. Buku ini pantas dibaca khalayak umum yang ingin mendalami tentang sastra sekaligus sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan Barat dalam kurun waktu 1942—1950.

Buku ini juga sangat layak dibaca mahasiswa, dosen, dan peneliti di Kalimantan Barat, baik itu bidang sastra maupun sejarah.Dalam konteks Kalimantan Barat sesungguhnya sosok penulis seperti M. Yanis memiliki keistimewan dalam menulis sebuah realitas sosial yang terjadi dalam masyarakatnya ketika aktif sebagai birokrat pada zaman kolonial.

Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat Kalimantan Barat semasa penjajahan berlangsung telah memperkarya mata batinya. Ia menceritakan kembali kenyataan tersebut dalam karya sastra, seperti yang terlihat dalam novel Kapal Terbang Sembilan (1983) dan Djampea (1998) yang banyak memuat kebenaran maknawi sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Barat ketika berjuang melawan penjajah.

Baca Juga: Sajak-Sajak Ramos Marpaung

Pandangan M. Yanis tentang sejarah Kalimantan Barat dan manusia-manusia yang ada dalam situasi perjuangan tersebut memang menarik untuk ditafsirkan. Sebagai seorang penulis M. Yanis menyadari bahwa gambaran tokoh,citra manusia,peristiwa, dan latar sejarah yang dihasilkannya bukan hanya sekedar dokumen sejarah melainkan juga sebuah karya sastra yang memiliki ketegangan (lension).

Dengan kata lain sejarah merupakan satu fakta atau sesuatu yang dapat dibuktikan dengan fakta. Sejarahwan mau tidak mau terikat pada fakta-fakta yang pernah terjadi. Artinya, sejarahwan tidak bebas dalam penggarapan bahan-bahan sejarah itu. Akan tetapi, seorang penulis novel sejarah dapat lebih bebas mencipta ceritanya sendiri.

Imajinasinya mampu mengelola data sejarah dan kenyataan yang terjadi dalam masyarakatnya menjadi sebuah novel yang bercerita tentang situasi alam yang berlaku dalam masyarakat ketika itu secara lebih bebas dan penuh dengan ketegangan.

Citra manusia yang terdapat dalam novel sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Barat karya M. Yanis ini merupakan gambaran yang menyeluruh mengai situasi dan perilaku manusi berdasarkan pemikiran penulisnya. Hal-hal mengenai pandangan hidup sikap, dan perilaku tokoh dalam berhubungan dengan tuhan, alam, masyarakat manusia lainnya, dan dirinya sendiri tentu menjadi gambaran yang coba divisualkan penulis dalam teks novel.

Baca Juga: Perempuan Bersepatu Merah di Kota Pati

Hal demikian perlu diketahui karena pemikiran penulis tentang manusia-manusia yang ada di Kalimantan Barat pada waktu itu tentu menyimpan fenomena menarik. Oleh karena itu, perlu diketahui citra manusia secara lebih mendalam.

Tulisan ini akan semakin menambah wawasan mengenai sastra modern yang berkembang di Kalimantan Barat. Selain itu, akan terungkap fakta sejarah dalam sebuah karya sastra dengan berlandaskan pada dua novel sejarah M. Yanis, yaitu Kapal Terbang Sembilan dan Djampea.

Novel Kapal Terbang Sembilan diterbitkan oleh Yayasan Perhuruan Panca Bakti pada tahun 1983, novel ini memiliki 228 halaman sedangkan novel Djampea diterbitkan oleh Badan Penerbit Untan yang bekerja sama dengan Dewan Kesenia Kalimantan Barat pada tahun 1998 dan terdiri atas 300 halaman.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post