Selasa, 03 Desember 2019

Cerpen | Lelaki dalam Antrean

author photo
"Sambil terburu-buru lelaki itu menyeru dengan tegas, “lelaki dalam antrean”. Reyhan berusaha mengejar lelaki itu, tetapi sosoknya telah menghilang dan menyatu di antara orang-orang yang berseliweran di jalanan."
Foto oleh Kat Jayne dari Pexels

Cerpen Ruslan Abdul Munir

Lembanyung telah menyapa Ibu kota Jakarta. Sang mentari telah menampakan kemuramannya. Langit pekat merebah menenggelamkan seisi dunia, terkecuali Jakarta.

Hiruk pikuk kehidupan di ibu kota, seakan tidak ada perbedaan suasana antara siang dan malam. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Semakin ketatnya kehidupan di Jakarta, membuat semua orang harus memutar otak untuk tetap bisa hidup.

Ada suasana yang berbeda yang terjadi pada malam itu, gemerlap kembang api satu per satu meluncur mengudara di belantara bumantara malam. Riuh kegembiraan tergambar dari rona sebagian wajah.

Cahanya kembang api memenuhi langit Ibu kota Jakarta, menyisakan keindahan di hati sebagian insan. Sorak kemenangan menghantarkan pergantian malam tahun baru 2019 itu dengan penuh kegembiraan.

Di bawah hingar-bingar suasana malam pergantian tahun baru 2019, kesunyian menyelimuti sebuah rumah berukuran kecil yang berdiri di tengah-tengah bangunan bertingkat. Rumah yang berdinding lusuh, tidak ada cahaya lampu yang menyala di beranda rumahnya. Beruntung rumah itu masih terlihat remang remang terpapar cahaya lampu dari rumah-rumah di sebelahnya.

Alunan merdu lantunan ayat suci Al-Quran dari rumah itu seakan memecah kesunyian di malam yang begitu pekat. Desiran angin yang menyentuh ranting-ranting pohon dan dedaunan kering membuat suara semu yang terdengar begitu nyata. Alunan merdu itu perlahan melemah, sekan membuka simpul kehangatan di malam itu.

Akhir tahun menjadi kisah pilu bagi Reyhan Sahid Ahsan, seorang remaja berusia 18 tahun yang kini tengah dirundung pilu akibat ayah tercintanya telah terlebih dahulu dipanggil oleh sang Khalik. Dirinya yang kini masih mengenyam bangku putih abu-abu, membuatnya harus memutar otak untuk tetap bisa hidup tanpa ayahnya lagi.

Kondisi Ibunya yang sering sakit-sakitan menambah beban pikiran yang harus Reyhan pikirkan saat ini. Kini hanya dirinyalah dan ibu tercintanya yang menghuni rumah kecil itu.

Langkah kaki nya perlahan beranjak menuju sudut kamar, ia membuka kait pengunci jendela kamar. Tubuhnya tegak terpancang di muka jendela. Desiran angin yang menyusup ke dalam pori-pori kulitnya, semakin membuat kaku dan membeku. Tanpa sadar ia menggesek-gesekan kedua tangannya sekedar untuk mencari kehangatan di tengah dinginnya malam.

Pandangannya tertuju pada langit yang  sudah seperti lautan api  yang akan menenggelamkannya. Rintikan hujan satu per satu meluncur dari belantara bumantara. Titik-titik hujan itu perlahan membesar memadamkan lautan api yang menyala-nyala di langit ibukota Jakarta. Matanya perlahan terpejam seraya berdoa memohon ampunan dimalam  pergantian tahun ini.

Kabut tebal masih menyelimuti ibu kota Jakarta. Aroma petrichor yang menyengat akibat hujan semalam masih terasa. Matahari masih enggan untuk menampakkan dirinya ke dunia. Aktivitas di kota Jakarta mulai ramai oleh orang-orang yang berseliweran. Begitupun dengan Reyhan dan Ibunya, mereka telah sibuk mengemasi kue-kue dagangannya sejak subuh tadi untuk dijajakan siang nanti.

Berhubung Reyhan masih menikmati masa liburan sekolah, jadi tugas Ibunya ia gantikan sementara.
“ibu istirahat saja di rumah ya. Biar aku saja yang dagang”

“Memangnya kamu tidak ada pekerjaan lain nak? Sekolah kamu bagaimana?” Tanya Ibunya.

“ Tidak ada Bu, lagian masuk sekolah pun masih dua hari lagi kok.” Jelas Reyhan.

Mentari mulai menyingsing dari ufuk timur, mentransferkan cahaya keseluruh penjuru dunia. Reyhan perlahan mendorong gerobak dagangannya dengan sekuat tenaga.

Ia tidak hanya menjual kue-kue kering saja, tetapi juga sayuran yang ibunya dapatkan dari para pengepul. Tubuhnya yang semampai sungguh tidak sebanding dengan besar gerobak yang ia dorong. Tetapi beban yang ia dorong itu tidak ada apa-apanya dibanding beban hidupnya saat ini.

ia berjalan menyusuri gang-gang sempit di area perumahan di sana, ia mulai menjajakan dagangannya dengan harapan hari ini semua dagangannya ludes terjual. Setelah berjam-jam ia berkeliling, keringat mulai berseleleran di tubuhnya. Matahari persis di atas kepalanya, menjilati tubuhnya yang kumal terpapar debu jalanan dan asap kendaraan.

Andai saja matahari itu hidup, mungkin ia telah muntah mencium tubuhnya yang bau keringat. Ekor matanya melirik kesebelah seberang jalanan. Di sana terdapat tempat berteduh, ia segera melangkahkan kakinya karena tak tahan menahan sengatan terik matahari.

Ia merebahkan kakinya yang terasa pegal karena berjalan cukup jauh seharian. Ia termangu memikirkan sesuatu yang selama ini terus menghantuinya.

Besok adalah tanggal dua Januari 2019, tepat pada hari ulang tahun Ibunya yang ke lima puluh tahun. Reyhan berencana untuk membelikan kue ulang tahun di hari spesial ibunya itu.

Setelah ia bolak-balik menghitung uang  yang ia miliki, ternyata masih belum cukup untuk membeli satu kue ulang tahun. Ia sengaja menyisihkan uangnya dari jauh-jauh hari untuk membelikan Ibunya kue ulang tahun. Tanpa pikir panjang  ia segera beranjak menuju toko kue yang akan ia beli.

Sepuluh menit sudah ia berjalan kaki, dari kejauhan Reyhan menyipitkan matanya. Ternyata benar itu adalah toko kue yang  ia cari. Suasana di sana terlihat sangat ramai dengan pembeli. Memang tidak hanya kue ulang tahun saja yang dijual di sana, tetapi berbagai macam kue dijual di toko itu.

Reyhan memarkirkan gerobak dorong di pinggir trotoar dan ia langsung pergi ke toko itu. Ia mulai melangkah masuk ke dalam toko dan melihat-lihat harga kue ulang tahun yang akan ia beli. Akan tetapi, hasilnya nihil semua kue-kue itu tidak ada yang sesuai dengan isi dompetnya.

Ia tidak patah semangat, Ia membawa kue itu ke kasir, semoga saja harganya bisa berkurang.

"Permisi Mbak, saya mau beli kue ini”

“Silakan Dek” Jawab wanita yang berada di kasir.

“Tapi uang saya kurang seratus ribu Mbak." Dengan wajah yang sedikit memelas.

“Tidak bisa Dek, soalnya ini sudah harga pas untuk ukuran kue ulang tahun”

Reyhan tak sadar bahwa di tempat itu ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan. Di tengah-tengah antrean panjang  lelaki dewasa kira-kira sudah berkepala dua itu merasa simpatik terhadap Reyhan.

Sebenarnya disaku Reyhan ada sedikit uang hasil berjualan seharian. Akan tetapi, ia tidak berani memakai uang itu dan memutuskan untuk beranjak dari toko itu.

Lelaki dewasa itu lantas menghampiri kasir sebelah

“Permisi Mbak”

"Ada yang bisa saya bantu Pak?” Tanya wanita yang berada di kasir itu.

“Anak yang tadi sepertinya ingin membeli kue ini ya Mbak?” Tanya lelaki itu menyelidiki.

"Betul Pak, tapi uang anak itu tidak cukup." Jelas wanita itu.

"Ya sudah, ini saya bayar ya”

Lelaki itu langsung keluar dari toko dan berusaha mengejar Reyhan yang tengah berjalan menghampiri gerobak dorongnya.

“Tunggu Dek...”

Reyhan seketika membalikan badannya.

kBapak siapa?” Reyhan terheran-heran melihat sosok lelaki yang membawa bingkisan kue itu.

Lelaki itu tiba-tiba menyodorkan bingkisan kue itu kepada Reyhan.

“Ini buat kamu Dek, ambilah!”

"Tapi Pak saya tidak punya uang untuk membayarnya."

Tanpa kata-kata lelaki itu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan memberikan kepada Reyhan.

Belum sempat ia menanyakan nama lelaki itu pergi dengan langkah yang terburu buru.

"Pak tunggu, nama Bapak siapa?” Seru Reyhan.

Sambil terburu buru lelaki itu menyeru dengan tegas, “Lelaki dalam antrean”.

Reyhan berusaha mengejar lelaki itu, tetapi sosoknya telah menghilang dan menyatu di antara orang-orang yang berseliweran di jalanan. Ia membuka secarik kertas yang lelaki itu berikan kepadanya.

“Setiap kebaikan yang kamu lakukan, pasti akan kembali lagi kepadamu suatu saat nanti” Kata-kata itu sepertinya sudah tidak asing lagi di telinganya.

Pikirannya melayang  jauh ketika Reyhan tengah membantu ayahnya berjualan, di tengah perjalanan mereka mendapati anak yang sedang kelaparan. Tanpa basa basi Ayahnya langsung memberikan sebungkus nasi yang mereka beli untuk makan siangnya kepada anak itu.

Reyhan masih ingat kata-kata itu, "Setiap kebaikan yang kamu lakukan, pasti akan kembali lagi kepadamu suatu saat nanti."

Reyhan semakin yakin bahwa yang dikatakan mendiang ayahnya itu adalah benar. Mungkin Allah telah mengutus seorang malaikat tak bersayap kepada Reyhan sekadar untuk membantu membahagiakan ibu di hari spesial ulang tahun melalui lelaki dalam antrean.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post