Minggu, 10 November 2019

Revolusi Oktober 1946 di Kalimantan Barat

author photo
"Suatu narasi sejarah yang bersifat informatif periode sejarah kemerdekaan Indonesia dalam perlawanan terhadap posisi Belanda di Kalimantan Barat."


Judul      : Revolusi Oktober 1946 di Kalimantan  Barat
Penulis   : M. Rikaz Prabowo
Penerbit : Enggang Media
Cetakan : kedua
Jumlah halaman: 115
Kota Penerbit/Tahun: Pontianak, 2019

literasikalbar.com - Buku Revolusi Oktober 1946 di Kalimantan Barat merupakan suatu buku yang berangkat dari hasil penelitian penulis M. Rikaz Prabowo yang mengangkat perjuangan rakyat di provinsi ini dalam melawan ancaman berkuasanya kembali Belanda. Mengambil garis waktu tahun 1942 hingga Oktober 1946, buku ini membahas secara lugas tiap fase perkembangan sosial-politik masyarakat di Kalimantan.

Mulai dari awal berkuasanya Jepang, Peristiwa Mandor Berdarah, perlawanan Pang Suma, menyerahnya Jepang hingga masuknya kembali Belanda yang membonceng sekutu sehingga mendorong bentrokan di berbagai kota di wilayah ini mulai September-Desember 1945 dan puncaknya, sesuai buku ini terjadi pada Oktober 1946.
Baca Juga : Membaca Buku Membuang Waktu
Revolusi Oktober 1946 dilatarbelakangi semakin kuatnya berkuasa Pemerintahan Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang bahkan juga didukung oleh beberapa kekuatan politik feudal-lokal di Kalimantan Barat. Hal ini juga didorong karena semakin represifnya Pemerintah NICA dalam membungkam hingga menangkap kaum republiken atau pihak yang dianggap non-kooperatif.

Padahal pada 20 September 1945, pemuda-pemuda dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam Pemuda Penyongsong Republik Indonesia (PPRI) telah menyatakan bahwa Karasidenan Kalimantan Barat berintegrasi pada NKRI. Sedangkan tujuan dari aksi ini secara umum ialah merebut kota-kota yang diduki NICA dan menegaskannya dibawah panji-panji kemerdekaan Republik Indonesia.

Aksi perlawanan di bulan Oktober (berlanjut November) 1946 terjadi di beberapa kota seperti Bengkayang, Ngabang, Pontianak, Mempawah, dan Nangapinoh. Skenario pemberontakan di Singkawang tidak sempat terlaksana karena ketatnya penjagaan aparat NICA, yang juga terjadi sebelumnya di Sambas dengan penangkapan para pejuang.
Baca Juga : Cerpen Pelet Borneo
Perlawanan bahkan juga meluas hingga ke desa-desa di sekitarnya. Oleh karena perlawanan tersebut terjadi di sekitar bulan Oktober 1946 – bahkan merupakan suatu pemberontakan umum. Maka tidak salah jika buku ini diberi judul Revolusi Oktober 1946 di Kalimantan Barat.

Buku ini juga masih membahas sekilas bagaimana cara aparat NICA melakukan penumpasan pada pejuang republiken tersebut. Corak perlawanan pun akhirnya berubah dari perjuangan militer ke perjuangan politik. Bahkan juga berjuang melalui seni lewat pertunjukan tonil atau sandiwara dan jalur pers, melalui siaran radio dan surat kabar.
Baca Juga : Membaca Buku Offline Kurang Diminati
Buku ini menjadi suatu narasi sejarah yang bersifat informatif bagi siapa saja pembaca yang tertarik dengan periode sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebab, buku ini menyampaikan bahwa perlawanan terhadap posisi Belanda di Kalimantan Barat juga tidak kalah heroik daripada yang terjadi wilayah lain di negeri ini.

Lagipula terdapat banyak pelajaran-pelajaran dan suri tauladan yang dapat diambil dari para pendahulu seperti dr. Mas Soedarso, Alianyang, Bardan Nadi, Gusti Muhammad Affandi Rani, dan masih banyak lagi yang merelakan harta dan nyawa demi tegaknya Merah Putih.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post