-->

Jumat, 04 Desember 2020

Sajak-Sajak Adrian Balu dan Negeri Bisu

author photo

Sajak-Sajak Adrian Balu menyajikan tema yang beragam dan menarik untuk dinikmati dan direnungkan. Selamat membaca.


"Suara kita diculik, disimpan dalam saku jas penuh fulus."


Sajak Adrian Balu pic pixabay


Untuk yang Telah Berpulang


Jangan takut
Lilin yang aku nyalakan ini
Akan membakar kesunyian di sana
Harum kembang yang aku tabur ini
Akan membawa aroma penuh rindu
Doa yang aku rapal ini
Akan membubung ke surga
Di pusara ini
Aku pasang aksara
Di gundukan tanah ini
Aku tanam rindu yang tak pernah punah
Di malam penuh deru ini
Ada doa yang setia merindu.
Doa adalah cara mengingat paling sakral.


***


Negeri Bisu

(Suara Kaum Proletar)


Negeri ini sedang bisu
Sunyi tak ada risih.
Para berdasi menebar janji sedang buruh angguk taati
Jalan-jalan riuh penuh kepul suara mayor
Yang minor jadi sunyi.
Inikah Negeri  yang sejahtera??


1/
Negeri ini sedang dilanda duka dan kita hanya bisa bisu, tak bersuara.
Suara kita diculik, disimpan dalam saku jas penuh fulus.
Sedih, bukan?
Anak-anak jadi terlantar, dan tak ada yang mau mengajar.
Negeriku butuh asupan, bukan mainan.
Sedih bukan kepalang, yang kaya tetap jaya sedang jelata tetap melata.


2/
Air mata jadi saksi, berlinang mengairi tubuh ibu Pertiwi.
Indonesia kah ini?
Sungguh, tak ada yang peka
Mereka mengurusi diri.
Ego dengan diri mau ingin dipuji.
Cuit, sendengkan telinga kalian para petinggi.
Ada banyak air mata yang belum diseka.
Ibu Pertiwi sedang berduka
Kalian sibuk pangku kaki dengan suka-suka.
Air mata Pertiwi, Air mata kami.


3/
Negeri ini sedang berduka
Sedang rindu jadi layu oleh ego petinggi.
Indonesia kah ini???
Mari perjuangkan Negeri ini dengan suara meriam bukan diam.


“Sebilah pedang telah menembus jiwa Negeri ini”
Salam Kami Kaum Proletar.


***


Ayah

(Teruntuk Lelaki Penuh Peluh)


Ayah, kau lelaki penuh peluh yang tak kenal kata keluh
Kau pandai merangkai tanah menjadi petak
Tanganmu begitu lihai membabat habis waktu
Meski wajahmu kian lusuh dan tulang punggungmu kian rentah
Kau tak pernah mengeluh meski peluh penuh seluruh
Kau lelaki paling hebat dari suluh hingga hulu tak pernah luluh
Jika kelak aku menjadi seorang Ayah
Aku ingin seperti dirimu
Penuh peluh yang tak kenal kata keluh
Ayah, tetap kuat dan sehat merawat tuamu selalu.
Selalu ada rindu dan doa untukmu;
“Pada wajahmu yang tua, cintaku tiada pernah menua”.


***


Malam Ini Tak Ada Malam Minggu


Malam ini telah menjelma rindu
Rindu ingin bertemu
Bersanda gurau
Dibalik layar telepon


Rinduku terbuat dari touch
Yang mengetik kata menjadi kalimat
Menghantarnya lewat signal
Rasa yang melayang
Diatas dadamu.


Malam ini tak ada
Malam Minggu
Yang ada hanya aku
Yang terus menunggu.
Di malam-malam
Yang menggebu.


Adrian Balu, seorang peminat sastra, kelahiran Kota Kupang, NTT. Pernah mengikuti Tetralogi menulis bareng bersama Penerbit Palaray Media dalam Antologi Puisi Berjudul Teragak (2020) dan pernah menjuarai Lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh UKMF Seni Semar. Sekarang sedang melanjutkan studi di STFK Ledalero, Maumere.


Laman Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi, & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com


Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan







This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post