Rabu, 08 Februari 2023

Puisi Ayu'dya Despani dan Perempuan Hujan

author photo

Literasi Kalbar - puisi Ayu'dya Despani dan perempuan hujan menyajikan puisi mungkin beranjak dari pengalaman pribadi penulis. Puisi yang rasanya dekat dengan pembaca karena puisi tentang keluarga. Mungkin puisi yang sepertinya mendedahkan rasa melankolis pada pembaca.


Puisi Ayu'dya Despani dan Perempuan Hujan


Perempuan dan Hujan


perempuan dalam renungan berkecipuk di ceruk rindu tunduk terduduk meresapi deras hujan


menunggu seteduh pilu bermusim ia semayamkan derai

di lapang dada, di dasar kecewa

bernisankan satu nama nan kian membatu

—membisu

namun, restu menjelajahi terlalu pasi adanya

hingga gerimis mengkeramatkan tangis tiada lagi kenang yang hadirkan linang

tersebab telah mati rasa,
mati hati

bersama ingatan nun terus terkikis

—tertumpas

habis

Pontianak, 22 Oktober 2022


Baca Juga : Lomba Menulis Terbaru 2023


***


Pulangnya Sang Kupu-Kupu


ruang penuh raung
kenang dalam kening
ada meruncing di tebing-tebing nadi
yang detak denyutnya menolak 'tuk dipungkiri


gelisah menyekap dada tangis membakar doa-doa tempat-tempat tersemat angkat bicara
dari pintu-pintu mana saja terbangnya rendah


dentang-denting berlalu malam di percumbuan waktu
adalah pemberhentian lelah diri
kupu-kupu pulang tanpa terang
dengan sepasang sayap nar layu lagi usang


demikian air mata tumpah dalam patah
: sepatah-patahnya


Pontianak, 10 Oktober 2022


***


Sebisu Rumah Ibu


pada dinding-dinding batu pada dada yang pintunya diketuk-ketuk gelisah kulihat engkau duduk menekuk wajah menimang-nimang gundah hingga tanggul di matamu bedah
: luah membasah


seperti cerita yang diwariskan waktu ke waktu seperti kisah yang bisa saja berulang menjadi abu
betapa angkara nyaris meleburkan harta paling berharga
: pusaka seribu buku


adalah seni paling sepuh namun, tinta mengotori secara salah
dan rumah kita tak lagi ramah


ibu...

bak lakon wayang yang bergerak atas kehendak sang dalang
akankah sahaya menghamba memangku arang?
sedang riuh suara bernada sumbang
terus saja merutuk bayang


jawablah, bu ...!
usah lagi bisu
; menandai yang lalu


Pontianak, 11 September 2022


Baca Juga : Lomba Menulis Gratis JNE Hadiah Puluhan Juta


***


Tentang yang Hilang


malam ditakarnya dengan ambigu
di bibir gulita, ia enggan menyatu
hatinya sebatang kara terkenang sibiran tulang yang lama ditunggu


entah harus ke mana
lagi mencari gadis kecil berbingkai cahaya dalam harumnya aroma doa? sedang bayang kelam terus saja memaksa kalah dengan kedua mata linang membasah


malam menutup laku gadis kecil kini tenang dalam dekapan dalam pejam

—isak tangis tak lagi menyeru, "Ibu ...!


Pontianak, 5 Oktober 2022


***


Serindu Tungku Ibu


di atas tungku perapian yang kayu-kayunya
dari keras belantara kehidupan
kerak kering periukmu mengalas perut-perut tandas kami


belum lagi fajar menyingsing
: langit menguntum kuning saban hari
jari-jemarimu itu menyuapi mulut ini dengan bulir-bulir luhur ketulusan


hingga rambang petang urat-urat meng(g)urat wajah hingga rebah
: berkalang tanah


Pontianak, 02 September 2022


***




Ayu'dya Despani atau akrab disapa Moy berdomisili
di Kota Khatulistiwa Pontianak, Kalimantan Barat. Berlatar ilmu pendidikan, perindu ulung yang terkadang melankolis ini hampir satu dekade bergelut dalam penulisan teks nonfiksi. Baginya, berpuisi adalah istirahatnya di mana pikiran, perasaan, dan kata-kata akan tetap bernapas.


Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post