Minggu, 07 Desember 2025

Tikus-Tikus Kantor

author photo

 Cerpen Muhammad Arbin

literasikalbar.com

tikus kantor
 

Harga cabe naik, beras naik, semuanya naik. Beberapa orang pesimis akan kenaikan harga yang begitu cepat sehingga membuat beberapa orang berpikir untuk berhenti membeli kebutuhan pokok di pasar Swalayan. Terutama para buruh serabutan yang hidupnya pas-pasan, bekerja seharian bagai kuda besi yang tak kenal lelah hanya untuk mendapatkan harapan untuk hidup. Sementara itu, para tikus berdasi yang hanya duduk-duduk santai, rapat di hotel-hotel mewah tanpa memperdulikan para buruh dan pekerja-pekerja serabutan.

Aksi demo pun dilakukan oleh lapisan masyarakat  dan tenaga pendidik demo  turun ke jalan demi memperjuangkan hak mereka menuntut keadilan kepada mereka yang menguasai negeri ini. Tak terkecuali Munir seorang anak dari orang tua yang kurang mampu berada ikut dalam aksi tersebut.

            ”Kepada siapa lagi kita harus berharap di negeri ini?” tanya sang kawan kepada Munir.

            ”Tenang, kita masih ada harapan untuk memperjuangkan hak kita sebagai rakyat sipil” balas Munir.

            ”Apalah arti demo kalau ujung-ujungnya suara kita tidak akan didengarkan!!” Ngeluh sang kawan yang lain.

            Munir pun dengan bijak mengatakan ”memang kita tidak akan didengarkan oleh para para tikus-tikus di atas, setidaknya kita sebagai rakyat sudah mengeluarkan apa yang menjadi keluh-kesah kita, didengarkan atau tidak biarkan saja urusan mereka di akhirat kelak”

            Tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka, orang-orang berdesakan lari pontang-panting untuk menyelamatkan diri mereka. Di tengah kerumunan orang yang berlari, salah seorang berteriak ”Semuanya, selamatkan diri kalian pakai masker kalau ada masker segera menjauh dari area ini !!” Suara sirine polisi kedengaran dari arah yang tak terduga.

            Munir dan kawan-kawannya ikut berlarian sambil mencari kawasan atau tempat aman untuk mereka melarikan diri. Sementara itu, polisi menembakkan gas air mata ke seluruh pendemo yang ada di jalanan. Suasana pun seketika berubah menjadi tempat yang di penuhi dengan gas air mata, padahal itu semua dibeli menggunakan uang dari rakyat atau pendemo.

             Akibat dari tembak gas air mata yang ditembakkan Polisi secara brutal, banyak rakyat yang terkena gas air mata termasuk salah satu temannya Munir yang bernama Ucup. Ucup terkena gas air mata setelah ikut berlari bersama Munir dan para pendemo yang lain. Ucup segera dilarikan ke tempat puskesmas terdekat. Munir dan teman-temannya pun ikut untuk menemani Ucup di sana.

            ”Taik emang para aparat coklat gatau diri, asal menembak gas air mata ke kerumunan tanpa rasa bersalah sedikitpun” Ucap Bahlul kawan Munir.

            ”Sudahlah, sudah. Tidak perlu emosi atas kejadian yang menimpa Ucup. Kita semua di sini bersyukur bisa selamat meskipun Ucup harus jadi korbannya” Ucap Munir.

***

Keesokan harinya, Munir dan kawan-kawannya pergi ke kampus untuk menimba ilmu dan memperdalam intelektual mereka. Tiba-tiba mereka terkejut dengan apa yang mereka saksikan di depan mata mereka ketika memasuki kampus, deretan mobil tentara sudah ada di dalam kampus mereka. Mereka pun bertanya kepada satpam di sana.

”Ada apa nih Pak Satpam kok tiba-tiba ada mobil Tentara banyak banget di sini berjejeran ?” Tanya Munir (dengan rasa penasaran).

”Ohh soal itu, kemarin pemerintah membolehkan Tentara memasuki kampus dan mengajar mahasiswa, memang adek-adek sekalian belum dikasih tahu sama pihak kampus ?” Tanya Satpam dengan santainya.

”Memang kemarin kita sempat mendengar berita, akan tetapi kita tidak menyangka secepat itu Tentara dibolehkan masuk area kampus” Jawab Bahlul.

”Sudah-sudah biarkan saja mereka seenaknya kayak gimana yang penting kita sudah menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa dengan belajar yang bener, masalah Tentara masuk kampus nanti kita bahas dan berdiskusi dengan kawan-kawan organisasi yang lain” Balas Munir dengan cepat sambil mengajak teman-temannya masuk ke kelas dengan cepat.

***

Setelah kelas selesai kelas Munir dan kawan-kawan mengikuti diskusi akbar yang  diadakan oleh BEM  untuk membahas Tentara yang bisa masuk ke kampus secara tiba-tiba ke dalam kampus tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lebih urgent dan penting.

”Bagaimana ceritanya Tentara bisa masuk kampus ? padahal sebelumnya kita sudah mengetahhui bahwa Tentara tidak diajarkan untuk berpikir kritis ?” Celetuk peserta diskusi.

”Hah.. tidak tau aja kalian itukan yang digunakan oleh tikus-tikus kantor yang merampas uang rakyat untuk membungkam kita semua di sini, karena cuma kita yang berani menyuarakan ketidakadilan yang rakyat rasakan. Lagi pula mereka sudah tidak ada senjata lagi untuk membungkam kita semua di sini, nah satu-satunya cara untuk membungkam kita, ya dengan memasukkan/mengizinkan Tentara masuk ke kampus” Ucap Bahlul.

”Benar juga apa yang dikatakan Bahlul bahwa kita semua di sini dibungkam untuk tidak melakukan pergerakan lagi seperti sebelumnya” Ucap Udin (peserta diskusi).

Munir mengatakan kepada semua peserta diskusi ”Ya, kalau begini tidak ada yang bisa dilakukan selain melakukan demo besar-besaran yang lebih besar daripada demo sebelumnya, akan tetapi kita perlu persiapan yang matang dulu karena pasti musuh kita semua kali ini bukan hanya Polisi akan tetapi Tentara yang membawa perlengkapan, sudah seperti perang saja”

”Tapi bagaimana caranya ? demo kemarin saja sudah memakan korban banyak termasuk teman kelas kita ? apakah kita harus membawa perlengkapan perang seperti di film-film?” Celetuk peserta yang lain.

”Iya, bagaimana caranya jangan cuma seperti demo kemarin yang asal-asalan demo tanpa mempertimbangkan rencana-rencana yang lain?” Celetuk lainnya lagi.

Semua mata tertuju pada Munir yang dari tadi memperhatikan mereka semua. Munir dengan tegas menjawab ” Simpel saja, rencana tidak perlu seperti biasa akan tetapi satu hal yang saya tegaskan, bahwa di dalam hati kalian yang paling dalam menginginkan negeri ini menjadi negeri yang lebih baik lagi. Maka dari itu nyalakan sumbu api yang ada di dalam hati kalian karena sebanyak apapun polisi yang menghadang, jika hati di dalam kalian menyala demi menegakkan kebenaran dan keadilan, kalian tidak akan takut dengan segala rintangan yang ada di depan. Besok kita berangkat ke gedung DPR, semua peserta demo membawa masker dan peralatan P3K untuk menjaga-jaga apabila baju coklat menyemburkan gas air mata”. Semua mahasiswa yang berada di sana memberikan tepuk tangan dengan ketegasan dan orasi Munir yang membara-bara.

***

Hari yang di tunggu pun akhirnya tiba. Seluruh mahasiswa berkumpul di lapangan dan mulai berjalan ke gedung DPR tempat orasi yang akan di langsungkan. Munir dan kawan-kawannya pun juga tak mau kalah, mereka membawa sound system besar menggunakan mobil menuju ke gedung DPR. Seluruh arakn-arakan mahasiswa memenuhi jalanan bahkan tidak ada tempat untuk motor dan mobil saking banyaknya mahasiswa yang bergerak ke gedung DPR. Para baju coklat dan baju loreng hijaupun sudah siap dengan posisinya memarkirkan kendaraan besar-besar mereka di depan gedung DPR untuk mengantisipasi mahasiswa bila berbuat rusuh.

Seluruh arak-arakan mahasiswa dari berbagai kalangan sampai di gedung DPR. Terlihat Polisi dan Tentara sudah siap menggunakan senjata mereka, senjata yang dibeli menggunakan uang rakyat. Para mahasiswa pendemo pun datang dan mulai dorong-dorongan dengan para baju coklat dan baju loreng hijau, karena mereka ingin masuk ke gedung DPR tetapi dicegah oleh aparat keamanan. Aksi dorong-dorongpun sudah tidak bisa dikendalikan lagi, para baju coklat dan loreng hijaupun mulai memukul mahasiswa yang berupaya mendobrak masuk ke dalam gedung DPR. Melihat keadaan yang sudah tidak kondusif akhirnya Munir berdiri dengan gagah memberikan orasi di atas mobil yang sudah dia siapkan ”Untuk semua mahasiswa yang berdesak-desakan semuanya tolong tenang, kita semua di sini menginginkan kedamaian bukan dengan cara seperti ini, kita semua tidak mau lagi ada yang menjadi korban. Semunya berhenti”

Seluruh mahasiswapun berhenti berdesak-desakan dan kondisi mulai tenang. Di sanalah Munir mulai memberikan orasi kepada para tikus kantor yang ketakutakan bagai kangguru yang masuk ke dalam perut Ibunya. Munir pun berkata ”Salam perjuangan untuk kita semua! Hidup pelajar! Hidup rakyat Indonesia! Hari ini kami berdiri di sini bukan sekadar untuk bersuara, tapi untuk menuntut keadilan yang telah lama hilang dari gedung ini! Gedung yang seharusnya menjadi tempat wakil rakyat memperjuangkan kepentingan rakyat, kini menjadi sarang tikus-tikus yang menggerogoti masa depan bangsa! Wahai para tikus-tikus kantor di DPR, dengarlah suara kami! Kami tahu kalian sibuk menguras kekayaan negara, mengabaikan suara rakyat, dan mempermainkan hukum demi kepentingan pribadi dan kelompok!!! Kami tidak takut menyebut kalian dengan sebutan yang sebenarnya, karena tikus itu adalah simbol dari pengkhianatan dan kejahatan yang kalian lakukan! Kami datang bukan untuk membuat, tapi untuk menuntut agar kalian segera bertanggung jawab! Kami menuntut transparansi, keadilan, dan pengabdian yang sesungguhnya kepada rakyat yang kalian wakili! Jangan lagi kalian abaikan suara pelajar, suara buruh, suara rakyat kecil yang terus terinjak-injak haknya! Kami akan terus melawan sampai keadilan ditegakkan! Kami tidak akan diam! Kami tidak akan mundur! Ingat, rakyat ini bukanlah budak yang bisa kalian perdaya! Kami adalah generasi penerus bangsa yang akan terus mengawasi dan menuntut perubahan! Jika kalian masih menganggap kami musuh, maka bersiaplah menghadapi gelombang perlawanan yang semakin besar!! Kami meminta salah satu dari kalian duduk dan berdiskusi bersama kali bukan bersembunyi seperti anak kecil yang ketakutan mendengar suara kilatan petir!! Hidup mahasiswa hidup rakyat Indonesia!!”

Orasi munir menjadikan percikan api yang sangat besar kepada seluruh pendemo yang ikut hadir. Karena tidak ada satupun perwakilan tikus kantor yang keluar, para mahasiswa pun kembali berdorong-dorongan dengan aparat mereka terus memaksa untuk memaksa masuk bagai gelombang air yang terus-menerus menghantam tembok. Tiba-tiba segelintir mahasiswa melemparkan bom molotop ke para petugas keamanan. Suara ledakanpun di dengar oleh Munir yang berada tidak jauh dari bom molotop  yang dilemparkan.

”Semuanya mundur-mundur” Teriak Munir kepada para pendemo.

Situasipun berubah sangat drastis, baju coklat pun menembahkan gas air mata ke seluruh pendemo dan kali ini tak hanya itu dia bahkan menembak mahasiswa dengan peluru karet. Para pendemo yang memaksa masuk di garda terdepan menjadi korban yang paling awal, seluruh mahasiswa lari kocar-kacir tak tentu arah ke mana dan arah mana karena tembakan gas air mata yang tiada henti membuat pandangan mereka terganggu. Munir yang sedang berlari tertembak dan menjadi korban atas amukan para petugas tersebut. Munir dibawa oleh para petugas keamanan yang entah ke mana. Situasi yang awalnya damai berubah menjadi pembantaian terhadap warga sipil. Para mahasiswa berhamburan entah ke mana mereka.  Akhirnya keadaan pun menjadi kondusip setelah seluruh mahasiswa meninggalkan gedung DPR.

Kemudian mahasiswa yang ikut demopun berkumpul di kampus dan menayakan siapa saja teman siapa mereka yang ditangkap oleh para aparat. Dan hanya Munir saja yang tidak ada di tempat. Teman Munir yang bernama Sumenep mempertanyakan hal tersebut kepada Anton kawan Munir.

”Munir ke mana ? bukannya dia bersama kamu tadi ?” tanya Sumenep.

”Loh bukan, kita tadi terpisah ketika polisi mulai menembbakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet” jawab Anton.

”Yang serius kamu ? masak tidak ada tanda-tanda hidung Munir kelihatan?” tanya Sumenep (rasa khawatir).

”Serius, tidak ada satupun tanda-tanda dari Munir dari tadi” jawab Anton.

”Ya, kalau sudah begini kita berarti harus melaporkan kejadian ini ke Polisi agar kita tahu pasti Munir kemana sebenarnya” Jawab Andre peserta diskusi.

Tapi Anton dan Sumenep yakin pasti Munir akan datang menemui mereka. Akhirnya harapan sudah tidak muncul karena berjam-jam mereka di sana dan para peserta diskusi pergi meninggalkan mereka berdua yang terus berharap Munir datang. akhirnya mereka pun sepakat untuk mengajukan laporan kehilangan. Anton dan Sumenep berdiri di depan meja polisi dengan wajah penuh harap. Mereka menyerahkan berkas laporan kehilangan Munir, berharap ada secercah perhatian dari aparat yang seharusnya melindungi rakyat. Namun, yang mereka dapat hanyalah tatapan dingin dan janji kosong.

“Coba tunggu saja, nanti kami kabari kalau ada perkembangan,” kata seorang petugas dengan suara datar, tanpa sedikitpun kesungguhan.

Anton dan Sumenep saling berpandangan, kecewa tapi tak bisa berbuat apa-apa. Di luar kantor polisi, angin malam berhembus dingin, seolah turut merasakan hampa yang menyelimuti hati mereka. Munir, sahabat mereka, hilang tanpa jejak, dan seakan dunia pun tak peduli. Namun, dalam keheningan itu, tekad mereka justru semakin membara. Jika polisi tak mau bertindak, maka mereka sendiri yang akan mencari kebenaran. Karena kehilangan seorang sahabat bukan hanya soal hilangnya satu nyawa, tapi juga hilangnya keadilan dan harapan.

 

 

 

 

Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post