Cerpen Muhammad Arbin
Harga cabe naik, beras naik, semuanya naik. Beberapa
orang pesimis akan kenaikan harga yang begitu cepat sehingga membuat beberapa
orang berpikir untuk berhenti membeli kebutuhan pokok di pasar Swalayan. Terutama
para buruh serabutan yang hidupnya pas-pasan, bekerja seharian bagai kuda besi
yang tak kenal lelah hanya untuk mendapatkan harapan untuk hidup. Sementara
itu, para tikus berdasi yang hanya duduk-duduk santai, rapat di hotel-hotel
mewah tanpa memperdulikan para buruh dan pekerja-pekerja serabutan.
Aksi demo pun dilakukan oleh lapisan
masyarakat dan tenaga pendidik demo turun ke jalan demi memperjuangkan hak mereka
menuntut keadilan kepada mereka yang menguasai negeri ini. Tak terkecuali Munir
seorang anak dari orang tua yang kurang mampu berada ikut dalam aksi tersebut.
”Kepada
siapa lagi kita harus berharap di negeri ini?” tanya sang kawan kepada Munir.
”Tenang,
kita masih ada harapan untuk memperjuangkan hak kita sebagai rakyat sipil”
balas Munir.
”Apalah
arti demo kalau ujung-ujungnya suara kita tidak akan didengarkan!!” Ngeluh sang
kawan yang lain.
Munir
pun dengan bijak mengatakan ”memang kita tidak akan didengarkan oleh para para
tikus-tikus di atas, setidaknya kita sebagai rakyat sudah mengeluarkan apa yang
menjadi keluh-kesah kita, didengarkan atau tidak biarkan saja urusan mereka di
akhirat kelak”
Tiba-tiba
di tengah pembicaraan mereka, orang-orang berdesakan lari pontang-panting untuk
menyelamatkan diri mereka. Di tengah kerumunan orang yang berlari, salah
seorang berteriak ”Semuanya, selamatkan diri kalian pakai masker kalau ada
masker segera menjauh dari area ini !!” Suara sirine polisi kedengaran dari
arah yang tak terduga.
Munir
dan kawan-kawannya ikut berlarian sambil mencari kawasan atau tempat aman untuk
mereka melarikan diri. Sementara itu, polisi menembakkan gas air mata ke
seluruh pendemo yang ada di jalanan. Suasana pun seketika berubah menjadi
tempat yang di penuhi dengan gas air mata, padahal itu semua dibeli menggunakan
uang dari rakyat atau pendemo.
Akibat dari tembak gas air mata yang
ditembakkan Polisi secara brutal, banyak rakyat yang terkena gas air mata
termasuk salah satu temannya Munir yang bernama Ucup. Ucup terkena gas air mata
setelah ikut berlari bersama Munir dan para pendemo yang lain. Ucup segera
dilarikan ke tempat puskesmas terdekat. Munir dan teman-temannya pun ikut untuk
menemani Ucup di sana.
”Taik
emang para aparat coklat gatau diri, asal menembak gas air mata ke kerumunan
tanpa rasa bersalah sedikitpun” Ucap Bahlul kawan Munir.
”Sudahlah,
sudah. Tidak perlu emosi atas kejadian yang menimpa Ucup. Kita semua di sini bersyukur
bisa selamat meskipun Ucup harus jadi korbannya” Ucap Munir.
***
Keesokan harinya, Munir dan kawan-kawannya
pergi ke kampus untuk menimba ilmu dan memperdalam intelektual mereka.
Tiba-tiba mereka terkejut dengan apa yang mereka saksikan di depan mata mereka
ketika memasuki kampus, deretan mobil tentara sudah ada di dalam kampus mereka.
Mereka pun bertanya kepada satpam di sana.
”Ada apa nih Pak Satpam kok tiba-tiba ada
mobil Tentara banyak banget di sini berjejeran ?” Tanya Munir (dengan rasa
penasaran).
”Ohh soal itu, kemarin pemerintah membolehkan
Tentara memasuki kampus dan mengajar mahasiswa, memang adek-adek sekalian belum
dikasih tahu sama pihak kampus ?” Tanya Satpam dengan santainya.
”Memang kemarin kita sempat mendengar berita,
akan tetapi kita tidak menyangka secepat itu Tentara dibolehkan masuk area
kampus” Jawab Bahlul.
”Sudah-sudah biarkan saja mereka seenaknya
kayak gimana yang penting kita sudah menjalankan kewajiban kita sebagai
mahasiswa dengan belajar yang bener, masalah Tentara masuk kampus nanti kita
bahas dan berdiskusi dengan kawan-kawan organisasi yang lain” Balas Munir dengan
cepat sambil mengajak teman-temannya masuk ke kelas dengan cepat.
***
Setelah kelas selesai kelas Munir dan
kawan-kawan mengikuti diskusi akbar yang
diadakan oleh BEM untuk membahas
Tentara yang bisa masuk ke kampus secara tiba-tiba ke dalam kampus tanpa
mempertimbangkan hal-hal yang lebih urgent dan penting.
”Bagaimana ceritanya Tentara bisa masuk kampus
? padahal sebelumnya kita sudah mengetahhui bahwa Tentara tidak diajarkan untuk
berpikir kritis ?” Celetuk peserta diskusi.
”Hah.. tidak tau aja kalian itukan yang
digunakan oleh tikus-tikus kantor yang merampas uang rakyat untuk membungkam
kita semua di sini, karena cuma kita yang berani menyuarakan ketidakadilan yang
rakyat rasakan. Lagi pula mereka sudah tidak ada senjata lagi untuk membungkam
kita semua di sini, nah satu-satunya cara untuk membungkam kita, ya dengan
memasukkan/mengizinkan Tentara masuk ke kampus” Ucap Bahlul.
”Benar juga apa yang dikatakan Bahlul bahwa
kita semua di sini dibungkam untuk tidak melakukan pergerakan lagi seperti
sebelumnya” Ucap Udin (peserta diskusi).
Munir mengatakan kepada semua peserta diskusi ”Ya,
kalau begini tidak ada yang bisa dilakukan selain melakukan demo besar-besaran
yang lebih besar daripada demo sebelumnya, akan tetapi kita perlu persiapan
yang matang dulu karena pasti musuh kita semua kali ini bukan hanya Polisi akan
tetapi Tentara yang membawa perlengkapan, sudah seperti perang saja”
”Tapi bagaimana caranya ? demo kemarin saja
sudah memakan korban banyak termasuk teman kelas kita ? apakah kita harus
membawa perlengkapan perang seperti di film-film?” Celetuk peserta yang lain.
”Iya, bagaimana caranya jangan cuma seperti
demo kemarin yang asal-asalan demo tanpa mempertimbangkan rencana-rencana yang
lain?” Celetuk lainnya lagi.
Semua mata tertuju pada Munir yang dari tadi
memperhatikan mereka semua. Munir dengan tegas menjawab ” Simpel saja, rencana
tidak perlu seperti biasa akan tetapi satu hal yang saya tegaskan, bahwa di
dalam hati kalian yang paling dalam menginginkan negeri ini menjadi negeri yang
lebih baik lagi. Maka dari itu nyalakan sumbu api yang ada di dalam hati kalian
karena sebanyak apapun polisi yang menghadang, jika hati di dalam kalian
menyala demi menegakkan kebenaran dan keadilan, kalian tidak akan takut dengan segala
rintangan yang ada di depan. Besok kita berangkat ke gedung DPR, semua peserta
demo membawa masker dan peralatan P3K untuk menjaga-jaga apabila baju coklat
menyemburkan gas air mata”. Semua mahasiswa yang berada di sana memberikan
tepuk tangan dengan ketegasan dan orasi Munir yang membara-bara.
***
Hari yang di tunggu pun akhirnya tiba. Seluruh
mahasiswa berkumpul di lapangan dan mulai berjalan ke gedung DPR tempat orasi yang
akan di langsungkan. Munir dan kawan-kawannya pun juga tak mau kalah, mereka
membawa sound system besar menggunakan mobil menuju ke gedung DPR. Seluruh
arakn-arakan mahasiswa memenuhi jalanan bahkan tidak ada tempat untuk motor dan
mobil saking banyaknya mahasiswa yang bergerak ke gedung DPR. Para baju coklat
dan baju loreng hijaupun sudah siap dengan posisinya memarkirkan kendaraan
besar-besar mereka di depan gedung DPR untuk mengantisipasi mahasiswa bila
berbuat rusuh.
Seluruh arak-arakan mahasiswa dari berbagai
kalangan sampai di gedung DPR. Terlihat Polisi dan Tentara sudah siap
menggunakan senjata mereka, senjata yang dibeli menggunakan uang rakyat. Para
mahasiswa pendemo pun datang dan mulai dorong-dorongan dengan para baju coklat
dan baju loreng hijau, karena mereka ingin masuk ke gedung DPR tetapi dicegah
oleh aparat keamanan. Aksi dorong-dorongpun sudah tidak bisa dikendalikan lagi,
para baju coklat dan loreng hijaupun mulai memukul mahasiswa yang berupaya
mendobrak masuk ke dalam gedung DPR. Melihat keadaan yang sudah tidak kondusif
akhirnya Munir berdiri dengan gagah memberikan orasi di atas mobil yang sudah
dia siapkan ”Untuk semua mahasiswa yang berdesak-desakan semuanya tolong
tenang, kita semua di sini menginginkan kedamaian bukan dengan cara seperti
ini, kita semua tidak mau lagi ada yang menjadi korban. Semunya berhenti”
Seluruh mahasiswapun berhenti berdesak-desakan
dan kondisi mulai tenang. Di sanalah Munir mulai memberikan orasi kepada para tikus
kantor yang ketakutakan bagai kangguru yang masuk ke dalam perut Ibunya. Munir
pun berkata ”Salam perjuangan untuk kita semua! Hidup pelajar! Hidup rakyat
Indonesia! Hari ini kami berdiri di sini bukan sekadar untuk bersuara, tapi
untuk menuntut keadilan yang telah lama hilang dari gedung ini! Gedung yang
seharusnya menjadi tempat wakil rakyat memperjuangkan kepentingan rakyat, kini
menjadi sarang tikus-tikus yang menggerogoti masa depan bangsa! Wahai para
tikus-tikus kantor di DPR, dengarlah suara kami! Kami tahu kalian sibuk
menguras kekayaan negara, mengabaikan suara rakyat, dan mempermainkan hukum
demi kepentingan pribadi dan kelompok!!! Kami tidak takut menyebut kalian
dengan sebutan yang sebenarnya, karena tikus itu adalah simbol dari
pengkhianatan dan kejahatan yang kalian lakukan! Kami datang bukan untuk
membuat, tapi untuk menuntut agar kalian segera bertanggung jawab! Kami
menuntut transparansi, keadilan, dan pengabdian yang sesungguhnya kepada rakyat
yang kalian wakili! Jangan lagi kalian abaikan suara pelajar, suara buruh,
suara rakyat kecil yang terus terinjak-injak haknya! Kami akan terus melawan
sampai keadilan ditegakkan! Kami tidak akan diam! Kami tidak akan mundur! Ingat,
rakyat ini bukanlah budak yang bisa kalian perdaya! Kami adalah generasi
penerus bangsa yang akan terus mengawasi dan menuntut perubahan! Jika kalian
masih menganggap kami musuh, maka bersiaplah menghadapi gelombang perlawanan
yang semakin besar!! Kami meminta salah satu dari kalian duduk dan berdiskusi
bersama kali bukan bersembunyi seperti anak kecil yang ketakutan mendengar
suara kilatan petir!! Hidup mahasiswa hidup rakyat Indonesia!!”
Orasi munir menjadikan percikan api yang
sangat besar kepada seluruh pendemo yang ikut hadir. Karena tidak ada satupun
perwakilan tikus kantor yang keluar, para mahasiswa pun kembali
berdorong-dorongan dengan aparat mereka terus memaksa untuk memaksa masuk bagai
gelombang air yang terus-menerus menghantam tembok. Tiba-tiba segelintir
mahasiswa melemparkan bom molotop ke para petugas keamanan. Suara ledakanpun di
dengar oleh Munir yang berada tidak jauh dari bom molotop yang dilemparkan.
”Semuanya mundur-mundur” Teriak Munir kepada
para pendemo.
Situasipun berubah sangat drastis, baju coklat
pun menembahkan gas air mata ke seluruh pendemo dan kali ini tak hanya itu dia
bahkan menembak mahasiswa dengan peluru karet. Para pendemo yang memaksa masuk
di garda terdepan menjadi korban yang paling awal, seluruh mahasiswa lari
kocar-kacir tak tentu arah ke mana dan arah mana karena tembakan gas air mata
yang tiada henti membuat pandangan mereka terganggu. Munir yang sedang berlari
tertembak dan menjadi korban atas amukan para petugas tersebut. Munir dibawa
oleh para petugas keamanan yang entah ke mana. Situasi yang awalnya damai
berubah menjadi pembantaian terhadap warga sipil. Para mahasiswa berhamburan
entah ke mana mereka. Akhirnya keadaan
pun menjadi kondusip setelah seluruh mahasiswa meninggalkan gedung DPR.
Kemudian mahasiswa yang ikut demopun berkumpul
di kampus dan menayakan siapa saja teman siapa mereka yang ditangkap oleh para
aparat. Dan hanya Munir saja yang tidak ada di tempat. Teman Munir yang bernama
Sumenep mempertanyakan hal tersebut kepada Anton kawan Munir.
”Munir ke mana ? bukannya dia bersama kamu
tadi ?” tanya Sumenep.
”Loh bukan, kita tadi terpisah ketika polisi
mulai menembbakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet” jawab Anton.
”Yang serius kamu ? masak tidak ada
tanda-tanda hidung Munir kelihatan?” tanya Sumenep (rasa khawatir).
”Serius, tidak ada satupun tanda-tanda dari
Munir dari tadi” jawab Anton.
”Ya, kalau sudah begini kita berarti harus
melaporkan kejadian ini ke Polisi agar kita tahu pasti Munir kemana sebenarnya”
Jawab Andre peserta diskusi.
Tapi Anton dan Sumenep yakin pasti Munir akan
datang menemui mereka. Akhirnya harapan sudah tidak muncul karena berjam-jam
mereka di sana dan para peserta diskusi pergi meninggalkan mereka berdua yang
terus berharap Munir datang. akhirnya mereka pun sepakat untuk mengajukan
laporan kehilangan. Anton dan Sumenep berdiri di depan meja polisi dengan wajah
penuh harap. Mereka menyerahkan berkas laporan kehilangan Munir, berharap ada
secercah perhatian dari aparat yang seharusnya melindungi rakyat. Namun, yang mereka
dapat hanyalah tatapan dingin dan janji kosong.
“Coba tunggu saja, nanti kami kabari kalau ada
perkembangan,” kata seorang petugas dengan suara datar, tanpa sedikitpun
kesungguhan.
Anton dan Sumenep saling berpandangan, kecewa
tapi tak bisa berbuat apa-apa. Di luar kantor polisi, angin malam berhembus
dingin, seolah turut merasakan hampa yang menyelimuti hati mereka. Munir,
sahabat mereka, hilang tanpa jejak, dan seakan dunia pun tak peduli. Namun,
dalam keheningan itu, tekad mereka justru semakin membara. Jika polisi tak mau
bertindak, maka mereka sendiri yang akan mencari kebenaran. Karena kehilangan
seorang sahabat bukan hanya soal hilangnya satu nyawa, tapi juga hilangnya
keadilan dan harapan.


Tulis Pendapat Anda 0 comments
EmoticonEmoticon