Senin, 18 Desember 2017

Dialog Sastra Kalbar

Dialog Sastra Kalbar
Dialog Sastra Kalbar

Oleh Rahmat Menong

Ternyata saya masih bisa diberi kesempatan untuk hadir di acara Dialog Komunitas Bahasa dan Sastra bagi Penulis sastra di Kalimantan Barat Tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat. Selasa 23 Agustus 2016. Inilah untuk pertama kalinya saya datang kesini.

Sebelumnya sempat saya tulis. Eh, ternyata saya lupa nge-save tulisan yang saya buat tadi pagi. Jadi deh, buat tulisan lagi. Tapi gak apa2 juga sih, kan tadi hanya beberapa puluh kata yang saya tulis. Saya paksakan diri untuk menuliskan ini. Setidaknya ini adalah bentuk rasa syukur dan terimakasih saya kepada Balai Bahasa Kalimantan Barat, sebab telah memberi kesempatan bagi saya untuk jadi peserta.

Banyak hal yang saya dapatkan dan tentunya bisa saya terapkan dikehidupan sehari-hari dari mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini tentunya bertujuan untuk mensukseskan dalam Rangka Gerakan Literasi Nasional (RGLN). Kegiatan yang diikuti oleh sastrawan Kalbar, para guru, mahasiswa dan siswa satu orang saja.

Tampak begitu antusias dan rame ternyata. Sebelumnya saya kira, nih acara palingan belasan orang yang hadir. Ternyata dugaan saya meleset. Saya lihat, begitu rame motor yang parkir di depan Aula Balai Bahasa Kalbar. Sebuah keadaan yang tak saya sangka sebelumnya. Ternyata begitu banyak orang yang mencintai sastra di bumi West Borneo ini. Sastra di Kalbar hidup dan takkan pernah mati.

Dengan tema Kemana Arah Sastra Kalbar? Ada keresahan yang dialami sastrawan. Kurangnya pembelajaran sastra disekolah. Serta sekolah kekurangan guru yang mengajarkan sastra.

Apalagi untuk pelajaran Mulok (Muatan Lokal) di sekolah2, kenapa ya kok yang diajarin itu cara menanam, kan aneh. Saya yakin, semua orang sudah tau, cara menanam, seharusnya yang namanya Mulok itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan budaya. Kenapa sekolah tidak mengajarkan sesuatu yang berbau budaya dan muatan lokal? Mungkin ini bisa jadi renungan kita bersama. He.

Waktu saya SMA, pelajaran Muloknya Bahasa Inggris. Apakah Bahasa Inggris itu sesuatu yang lokal dan budaya? Tidak kan!. Saya kira, bukan di sekolah saya saja yang demikian, banyak sekolah2 lainnya yang demikian. Ini tentunya kembali kepada kebijakan sekolah masing2. Aneh juga ya, kok muatan lokal, belajarnya bahasa asing.

Di sesi terakhir, peserta diajak bagaimana caranya menulis kreatif dan bernilai ekonomi. Intinya bagaimana penulis itu bisa hidup dari tulisannya. Kalo kata pemateri (Ya Allah saya lupa siapa namanya), “Jangan tulis apa yang bisa kita tulis, tapi tulislah sesuatu yang bisa kita jual.” Ujar mantan Redaktur penerbit Kompas itu. Beliau juga telah menghasilkan 87 buah buku serta ratusan artikel dan cerpen.

Itu aja dulu tulisan saya kali ini. Terima kasih buat Balai Bahasa Kalimantan Barat yang telah memberi kesempatan buat saya untuk jadi peserta. Semoga di tahun depan bisa berkesempatan hadir lagi (itu pun jikalau diadakan lagi).

Sumber: https://rahmatmenong.blogspot.co.id/2016/08/dialog-sastra-kalbar.html

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post