-->

Kamis, 25 Januari 2018

Apakah Media Cetak Masih Digemari Kids Zaman Now?

author photo

Tulisan Endrayatno

Remaja lebih memilih gawai (gadget) untuk membuka beberapa sosial media yang dimilikinya seperti instagram, twitter, dan facebook, belum lagi remaja yang menggemari game online.

Berbicara tentang membaca dan menulis pada jaman sekarang ini terutama di kota Pontianak sangatlah kurang digemari. Melihat dari aktivitas remaja sekarang yang sudah dimanjakan dengan teknologi yang sangat modern membuat mereka malas untuk membaca majalah/koran yang terletak begitu saja di rumahnya.
Apakah Media Cetak Masih Digemari Kids Zaman Now?
pixabay


Mereka menganggap bahwa isi tulisan sebuah media cetak tersebut tidak begitu penting baginya dibandingkan serunya aktivitas di dalam gawai miliknya itu, tidak ada daya tarik baginya di dalam koran/majalah itu yang membuat mereka malas untuk membaca. 

Padahal ada banyak yang didapat dari dalam majalah/koran yang memuat informasi pengetahuan kita menjadi luas. Apalagi negara kita sekarang mengalami tingkat minat membaca yang sangat rendah yaitu peringkat ke-60 di dunia (menurut The Worlds Most Literate Nations). Semakin banyaknya remaja tidak mau membaca sebuah media cetak akan berdampak yang sangat besar pada negara ini.

Kecanggihan teknologi berdampak terhadap minat membaca dan menulis yang semakin menurun di kalangan remaja, terutama di kota Pontianak. Media cetak yang sudah diubah ke dalam bentuk elektronik. Mungkin di satu sisi mengurangi limbah kertas, sedangkan di sisi lain menurunkan minat membaca para remaja.

Baca Juga:

Gerakan Literasi Sekolah Membangun Budi Pekerti Generasi Muda


Media sosial menjadi satu di antara faktor paling berpengaruh terhadap perilaku malas untuk membaca dan menulis. Hal ini akan menjadi PR besar bagi mereka yang mempunyai perusahaan media cetak agar para remaja khususnya Kota Pontianak ikut membaca dan berperan aktif untuk mengirimkan tulisan-tulisan miliknya ke media yang masih ada.

Apalagi sekarang media Indonesia dihebohkan dengan ditutupnya media massa dari US Rolling Stone yang dikenal media musik terbesar di dunia. Segala kepemilikan merek di bawah Rolling Stone Indonesia atau yang terhubung dengan Rolling Stone Indonesia telah dikembalikan kepada pemilik merek Rolling Stone di New York, Amerika Serikat, dan Rolling Stone International dilansir dari cnnindonesia.com

Mungkin ini adalah satu penyebab dari warga Indonesia sekarang yang kurang minat membaca, padahal sudah banyak inovasi yang dilakukan Rolling Stone Indonesia itu sendiri seperti berita musik yang selalu kekinian, membahas konten-konten diluar musik sampai membuat acara-acara musik berkelas. Hal ini dilakukannya untuk memanjakan para pembaca agar selalu setia dan antusias mengikuti berita yang disajikan oleh majalah Rolling Stone.

Baca Juga:

Guru Sebagai Faktor Utama dalam Kelancaran Literasi Sekolah


Transisi media cetak ke elektronik memang sulit diprediksi. Layaknya kematian yang tak dapat di tebak dan sulit dimengerti. Apalagi sekarang media elektronik yang sudah menjalar lebar, tetapi media cetak masih tetap dibutuhkan saat ini.

Paling tidak media berkertas ini dapat digunakan untuk menyalurkan informasi kepada khalayak yang belum melek teknologi. Selain itu, “transaksi” antara komunikan dan komunikator dapat dikontrol langsung, jika terjadi penyaluran informasi yang bertentangan atau bahkan merusak norma sosial.

Akan tetapi, yang terpenting dari muara perubahan ini ialah, janganlah mensirnakan budaya literasi. Membaca dan menulis adalah tradisi dan warisan ulama Islam yang patut dilestarikan sebagai tonggak terbangunnya peradaban. So, tunggu apalagi, perbanyaklah membaca dan menulislah mulai hari ini.

Baca Juga:

Dampak Gadget Terhadap Minat Baca


This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post