Selasa, 30 Januari 2018

Membangkitkan Budaya Literasi Indonesia yang Tertidur

author photo
Tulisan Arif Putra Ananda
Jadi, dari singgungan hal ini maka untuk dapat mendorong minat baca masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah namun juga tanggung jawab diri pribadi sebagai warga negara Indonesia.
Budaya literasi Indonesia masih rendah dan jauh dibandingkan dengan negara lainnya. Maka budaya literasi ini harus diatasi agar budayanya tetap terjaga dan mengalami peningkatan. Sehingga budaya literasi Indonesia dapat lebih berkembang dan menunjukkan kemajuan serta mengubah pandangan negara lain terhadap Indonesia bahwa budaya literasinya rendah dan berada diurutan bawah lagi.

membangkitkan budaya literasi Indonesia yang tertidur
pixabay

Masih rendahnya budaya literasi yang ada di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor satudiantaranya karena sarana membaca yang minim. Hal ini disebabkan oleh faktor kuncinya yaitu perpustakaan, yang mana di dalam perpustakaan tersebut masih terdapat kekurangan.

Contohnya seperti buku-buku yang tersedia masih minim dan koleksinya masih bersifat pengarang lama serta belum ada terbitan dan edisi terbaru.  Sehingga hal itu menyebabkan siswa malas berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan.

Sebagian dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar 5% masih berfokus pada pengeluaran buku teks pelajaran. Lima persen tersebut bukan pengeluaraan buku yang bersifat sastra dan pengetahuan umun yang dapat menumbuhkan minat baca siswanya.

Baca Juga: Literasi Membentuk Karakter Bangsa yang Bermoral dan Berkreativitas Tinggi

Jadi, dari singgungan hal ini maka untuk dapat mendorong minat baca masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah namun juga tanggung jawab diri pribadi sebagai warga negara Indonesia.

Padahal menurut saya membaca itu merupakan hal yang menyenangkan bahkan membuat kita jadi lebih berimajinasi dengan kata yang tertuang dalam buku. Imajinasi yang ada dapat mendorong kita menjadi lebih cepat dalam menumbuhkan ide tentang sesuatu hal.

Fakta menurut Badan Pusat Satistik (BPS, 2016) menunjukkan data yang mengejutkan bagi bangsa Indonesia. Bahwa di Indonesia 85,9% masyarakat lebih memilih menonton televisi daripada mendengar radio hanya 40,3%, dan memilih membaca koran sebesar 23,5%.

Baca Juga: Mencekoki Literasi Lebih Dini

Budaya literasi Indonesia masih sangat jauh daripada negara lain. Pasalnya anak Indonesia banyak menghabiskan waktu untuk menonton sekitar 300 menit per hari yang digunakan untuk menonton. Apalagi jika hari libur sekolah dapat dipastikan anak Indonesia pasti lebih sering menonton di pagi hari, sedangkan siang digunakan untuk bermain.

Waktu libur yang ada digunakan hanya untuk nonton dan bermain, sedangkan belajar pada saat sekolah saja. Berbeda dengan negara lain yang memiliki waktu menonton televisi anak-anak di Australia 150 menit, di Amerika 100 menit, dan Kanada 60 menit.

Baca Juga: Membangkitkan Budaya Literasi Indonesia yang Tertidur

Kita sebagai salah satu warga negara harus mendukung budaya literasi Indonesia agar lebih baik lagi. Kita bisa membuat perpustakaan kecil yang ada di rumah.

Sebagai langkah  awal  kita mulai dengan buku cerita yang disukai anak-anak. Kita berusaha untuk memberikan batasan waktu bagi anak-anak dalam menonton televisi dan menambah waktu membaca buku pengetahuan agar nalarnya tetap berjalan.

Baca Juga: Upaya Meningkatkan Literasi Kalbar dengan “Paket Lengkap”

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post