Jumat, 16 Februari 2018

Cerpen | Ratu

author photo
Karya Nanda Sukma Ayuni

     Hello, guys! Aku Ratu Pricilla, biasa dipanggil Rara. Usiaku hampir menginjak 17 tahun. Baru saja aku naik kelas dan sekarang duduk di kelas teratas SMA Purnama. Tahun depan aku akan segera lulus dan rencananya akan melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas di Seoul, Korea Selatan. Ayahku pemilik saham terbesar di salah satu perusahaan ternama. Ibuku pemilik butik besar yang sudah memiliki beberapa cabang di kota ini.

Sumber: https://pxhere.com

     Sesuai dengan namaku, orang sering menyebutku ‘Ratu’ di SMA Purnama. Mengapa? Karena menurut mereka akulah yang paling cantik dan populer di SMA Purnama. Tak hanya itu, aku juga selalu menjadi peringkat pertama satu sekolah setiap akhir semester. Aku juga berbakat di bidang seni, olahraga juga. Dan aku sangat suka memasak. Entah sudah berapa banyak siswa laki-laki yang menyatakan cintanya padaku. Tapi tak seorangpun berhasil menarik hatiku. Ya, semuanya aku tolak! Pasti kalian juga berpikir sama dengan sebagian orang, “Rara sok jual mahal”, “Rara sok cantik”, “Mentang-mentang punya segalanya, sok banget”. Kalian tau? Aku benar-benar tidak peduli dengan semua anggapan itu. I don’t care! Terserah mereka mau bilang apa, itu hak mereka bukan? Toh, mereka mau berteman denganku karena aku punya segalanya kan? Apalagi mereka yang menyatakan cintanya padaku, sudah pasti 100% aku yakin mereka hanya memandangku dari fisik dan apa yang aku miliki. Huh! Menyebalkan.

     Tapi tetap saja, hingga hari ini aku masih memegang gelar ‘Ratu’ di SMA Purnama. Hari-hariku selalu dipenuhi keceriaan dan dikelilingi oleh teman-temanku. Aku tidak peduli mereka pura-pura baik ataupun tulus, itu urusan mereka. Yang jelas aku bahagia dengan semua yang kumiliki hingga saat ini. Cantik, pintar, kaya, populer, nyaris sempurna. Semua perempuan pasti mendambakan hal itu, bukan? Itulah mengapa aku sangat bahagia. Ya, sangat bahagia sebelum kedatangannya.

                       ***

     “Pagi, semua. Maaf hari ini ibu agak telat. Ada beberapa hal yang harus ibu urus.”

     Pelajaran Bahasa Indonesia mengawali pagi hari ini. Bu Sinta, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus wali kelasku yang sangat baik dan lembut tampak sibuk membereskan peralatan yang ia bawa tadi dan meletakkannya di atas meja guru.

     “Oh iya, hari ini sekolah kita kedatangan murid baru. Dan dia akan ditempatkan di kelas ini.”

     Seisi kelas langsung dipenuhi bisik-bisik penasaran mendengar ucapan Bu Sinta. Tetapi, aku tak begitu peduli. Toh sebentar lagi dia akan datang dan aku akan langsung tau siapa murid baru itu.

    “Tenang dulu semuanya. Ibu tau kalian pasti penasaran. Sebentar lagi dia akan datang bersama Bapak Kepala Sekolah.” Sambung Bu Sinta.

     Tak lama, terdengar suara ketukan pada pintu kelas yang terbuka saat itu. Semua pandangan langsung tertuju pada Bapak Kepala Sekolah yang berdiri di ambang pintu bersama seseorang yang berdiri di belakangnya. Bu Sinta dengan segera mempersilakannya masuk dan menyuruh murid baru itu memperkenalkan diri.

     “Hai, teman-teman. Aku Chika Anindya. Semoga kita bisa berteman baik ya.” Suasana kelas yang baru saja tenang kembali riuh dan malah bertambah riuh ketika mendengar suara yang begitu lembut dari Chika, murid baru yang kuakui sangat cantik dan feminim itu.

     “Waduh, Ra. Saingan tuh.” Bisik Rio, teman laki-laki yang duduk tepat di belakangku.

     “Berisik!” Tanpa sengaja, karena kesal pada Rio, suaraku keluar cukup nyaring dan membuat seisi kelas melihat kearahku. Teman-temanku salah paham, mengira aku tidak senang dengan kedatangan Chika. Padahal, aku hanya sangat kesal pada Rio yang suka sekali menggangguku. Dengan sinis aku menoleh ke arah Rio yang terlihat tersenyum puas.

     Begitulah seterusnya. Chika pun dipersilakan duduk disalah satu bangku yang kosong. Dan sebelum meninggalkan kelas kami, Bapak Kepala Sekolah mengatakan bahwa Chika adalah keponakannya.
                         ***
     Beberapa bulan berlalu sejak Chika pindah ke SMA Purnama. Hari-hariku mulai berubah sejak kedatangan Chika. Teman-temanku tampaknya lebih suka berteman dengan Chika yang lebih ramah dibandingkan denganku yang terkesan cuek menurut mereka. Dan siswa laki-laki yang biasa mengejar-ngejarku pun tampaknya mulai berpaling ke Chika. Sudah aku bilang, mereka semua hanya melihat dari fisik. Menyebalkan, bukan?

     Chika baik ke semua orang, termasuk aku. Anehnya, aku merasa ada yang mengganjal dari sifatnya. Misalnya disaat pelajaran olahraga. Saat itu, aku yang baru saja kembali dari ruang ganti dan mendapatinya sendirian di kelas. Ia menghampiriku.

      “Rara, bisa tolong kuncirin rambutku nggak? Gerah nih mau olahraga.” Ujarnya seraya mendekatiku.

      “Bisa, sini.” Ia memberikan pita untuk rambutnya dan berdiri membelakangiku. Dengan segera aku mengikatkan rambutnya dengan pita yang ia berikan. Tak lama terdengar suara langkah kaki teman-teman sekelasku datang menuju ke kelas. Tampaknya mereka juga telah selesai mengganti baju di ruang ganti. Tiba-tiba Chika berteriak seperti kesakitan.

      “Aduh.. Rara udah, Ra. Sakit.”

      Aku terkejut. Belum sempat aku berkata-kata, teman-teman sekelas langsung mendekati kami dan segera memisahkan Chika dariku.

     “Apa sih, Ra? Kasar banget kamu! Kamu apain Chika?” Rasti yang memisahkan Chika dariku sontak menghardikku.

     “Apanya, Ras? Aku nggak ngapa-ngapain.” Aku mencoba membela diri, karena memang aku tak melakukan apa-apa. Aku rasa tadi aku hanya membantu mengikatkan rambut Chika dan aku bisa pastikan bahwa aku sudah melakukannya dengan hati-hati.

     “Alah! Gak usah pura-pura deh, Ra! Kita semua tau, sejak Chika pindah kesini kamu merasa tersaingi kan? Kamu merasa udah nggak jadi ‘Ratu’ lagi kan? Makanya kamu nyakitin Chika!” sambung Lola yang berdiri di sisi Chika.

     “Iyalah, jelas. Mana mungkin kamu jadi ‘Ratu’ lagi, Ra. Harusnya kamu tuh sadar diri. Kamu nggak pantes jadi ‘Ratu’ hanya karna kamu punya segalanya. Kamu tuh kasar! Chika jauh lebih baik daripada kamu!” ucap Siska yang berdiri tepat didepanku. Mereka harus tau, aku juga tak begitu peduli dengan julukan ‘Ratu’ itu. Huh!

      Samar-samar aku melihat Chika yang tersenyum puas diantara teman-teman yang mengelilingiku saat itu. Hampir saja amarahku meledak jika tak dihentikan oleh seseorang yang tiba-tiba datang  dan memecah kerumunan itu.

     “Hei! Apa nih main keroyokan?” Sudah kuduga yang datang itu adalah Rio. Laki-laki paling menyebalkan yang pernah kutemui. “Udah, Ra. Nggak usah diladeni cewek-cewek rempong ini. Ayo pergi!”

      Tanpa persetujuan Rio menarik lenganku dan membawaku pergi dari kerumunan yang saat itu menyoraki kami. Entah kemana Rio membawaku pergi secara paksa. Aku terus memberontak.

      “Rio lepas! Apaan sih!” dengan sekuat tenaga aku melepaskan tanganku dari Rio. Dan akhirnya aku berhasil melepaskannya saat kami berada diruangan terbuka di ujung koridor sekolah di lantai 3, memang kelasku berada di lantai paling atas sekolah yaitu lantai 3. “Nggak usah sok ngebelain deh! Mau jadi pahlawan kesiangan? Hah?!” aku mendorongnya hingga menjauh dariku.

     Rio menyeringai dan terus melangkah mendekatiku. Refleks, aku melangkah mundur menjauhinya. “Udah aku tolongin loh, nggak mau bilang makasih, nih?”

     “Apaan sih, Rio? Pergi, nggak!” Aku terus melangkah mundur hingga punggungku membentur tembok. Skak! Rio berada tepat di depanku sekarang. Ia begitu dekat denganku. Jantungku berdebar kencang karena merasa takut, entah apa yang akan ia lakukan padaku.

     Ia semakin mendekat padaku dan berbisik, “Hei, Ratu Pricilla.” Tanpa sadar aku memejamkan kedua mataku. “Bisa nggak kamu berhenti aja jadi ‘Ratu’ SMA Purnama dan jadi ‘Ratu’ yang lain? Hmm.. jadi ‘Ratu’ untukku misalnya?”

         Sontak aku langsung membuka mataku seakan tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

     “Hahaha. Ternyata ‘Ratu’ yang galak ini bisa takut juga ya.” Rio mengacak rambutku pelan lalu pergi begitu saja meninggalkanku yang masih terkejut dengan ucapannya. Lalu ia berhenti sejenak dan memandang kearahku, “Soal ucapanku tadi.. aku nggak bercanda loh. Dah, Ratu.”

     Aku bisa mendengar suara tertawanya yang begitu menyebalkan sembari ia melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkanku. “Rio!!! Dasar rese!!” Aku berteriak kesal setelah tersadar dari keterkejutanku. Rio hanya melambaikan tangannya sambil terus melangkah tanpa melihat kearahku.
                       ***
     Hari-hariku yang begitu menyebalkan tak berakhir sampai di situ saja. Tampaknya Chika selalu berusaha mencari celah untuk membuat reputasiku menjadi buruk di mata teman-temanku. Hampir setiap hari ia selalu mencoba untuk menjebakku.

      Tak hanya itu, Rio juga tak pernah bosan untuk terus mengikutiku kemanapun aku pergi. Bahkan saat aku dirumah ia selalu mengirimiku pesan-pesan menyebalkan seperti “Selamat malam, Ratuku. Jangan lupa makan. Jangan sakit.”, “Semangat belajarnya, Ratuku. Fighting!”, atau bahkan “Selamat tidur, Ratuku. Mimpi indah yaa. Eh, mimpi Rio maksudnya.”. Sangat menggelikan, bukan? Sejak kapan aku menjadi Ratunya? Memang, aku sudah biasa menerima pesan-pesan seperti ini dan aku selalu menanggapinya dengan sikap biasa. Tapi, entah mengapa kali ini pesan Rio menjadi dominan dan selalu berhasil membuatku kesal.

     Bahkan, pagi ini ia datang kerumah untuk menjemputku pergi ke sekolah bersamanya. Dengan terpaksa aku ikut dengannya karena Ibu yang menyuruhku. Ibu mengatakan bahwa tidak enak pada Rio jika aku menolak karena ia sudah datang menjemputku. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, mulutnya tak bisa berhenti bernyanyi mengikuti alunan musik. Untung saja suaranya tidak begitu buruk. Tapi ingat! Aku sama sekali tidak memujinya.

     Hari ini, Rio berhasil membuatku tak bisa menolaknya mengikutiku kemanapun aku pergi. Hingga ke kantin pada saat jam istirahat ini. Aldi, teman dekat Rio yang juga berada di kantin saat itu mendekati kami.

     “Wah. Jadi sekarang ‘Ratu’ SMA Purnama sama Rio? Hebat banget, bro. Haha.” Ucap Aldi sambil tertawa.

     “Iya dong. Sekarang kan udah jadi Ratu-ku. Iya kan, Ra?” tanya Rio padaku dengan bangga.

     “Terserah!” Aku tak kuasa meladeni mereka. Daripada aku meledak disini, lebih baik dengan segera aku membeli roti dan membawanya ke kelas. Tentunya Rio masih tak bosan membututiku.

      Tak jauh dari kelas, aku melihat Rasti, Lola dan Siska berdiri memperhatikan kelas yang terlihat begitu sepi dan tak ada orang di dalamnya. Tiba-tiba Rasti langsung masuk kelas dan berteriak seperti terkejut melihat sesuatu. Aku langsung berlari menuju kelas yang juga diikuti oleh Rio dan teman-teman sekelasku yang datang entah dari mana. Aku melihat Rasti, Lola dan Siska mengelilingi Chika di depan mejaku.

      “Tolong jelasin ini apa?! Ini ulah kamu kan, Chika?! Jawab!” aku kaget melihat Rasti membentak Chika sambil menunjukkan sehelai baju olahraganya yang sepertinya telah sengaja dirobek menggunakan gunting. Teman-teman yang lain memilih diam menyaksikan.

     Chika berusaha mengelak dan tampak menyembunyikan sesuatu dibelakangnya. “A..apa? Bu..bukan aku.”

     Lola menarik tangan Chika yang ia sembunyikan di belakangnya. Betapa terkejutnya seisi kelas melihat tangan Chika memegang gunting. Aku lebih terkejut lagi karena yang dipegang Chika adalah gunting milikku. “Wah! Hebat. Ini jelas-jelas pegang gunting.” Chika mulai terpojok dengan perkataan Lola.

     “I..ini kan gunting Rara. Bukan aku pelakunya. Bu..bukan aku!” Ia tampak mulai akan menuduhku dengan memasukkan gunting ke dalam tasku yang entah sejak kapan terbuka. Aku hanya bisa terdiam memandanginya.

    “Jangan ngelak lagi deh, Chika. Kita liat dengan mata kepala sendiri kalau kamu yang gunting baju olahraga Rasti dengan sengaja pake gunting Rara, biar kita semua ngira kalau Rara pelakunya. Iya, kan?” Ucap Siska semakin membuat Chika terpojok.

    “Wah.. jadi selama ini itu kelakuan kamu ya, Chika? Tapi kamu sengaja menjebak Rara, biar kita semua benci Rara? Gitu, ya?” sambung Rosi yang berdiri di belakangku.

     “Duh, ya. Aku kira kamu tuh bener-bener baik sejak kamu pindah ke sini. Ternyata kita semua udah salah paham sampe jahatin Rara. Padahal yang jahat itu kamu! Huh!” Dina yang sedari tadi hanya diam memperhatikan juga ikut buka suara.

     “Huu..” Yang lain pun ikut menyoraki Chika yang kini tampak menahan tangis. Chika yang tak tahan lagi langsung berlari untuk pergi meninggalkan kelas dan menabrakku yang berdiri di depan pintu. Teman-temanku mendekatiku dengan ekspresi merasa bersalah karena sejak kedatangan Chika mereka berubah dan menjauhiku, terutama Rista.

     “Rara, aku minta maaf ya. Sejak kedatangan Chika aku malah jadi jahatin kamu dan percaya gitu aja sama Chika. Maaf ya.” Rista yang tampaknya begitu merasa bersalah padaku memegang kedua lenganku.

     “Iya, Ris. Santai aja. Gapapa kok.”

     Rio buka suara, “Tuh, liat sendiri kan? Kalian semua udah salah paham. Mana mungkin Rara jahat, ya walaupun galak sih tapi dia baik kok. Iya nggak, Ratu-ku?” dengan santai ia merangkul pundakku.

     Sontak aku menyikut perutnya. Ia langsung melepaskan rangkulannya dan memegangi perutnya. “Rese! Sejak kapan aku jadi Ratumu? Dasar!” Aku begitu kesal, teman sekelasku tampaknya tertawa geli melihat kami.

    “Sejak..” Rio berpura-pura sedang berpikir. “Hari ini? Kamu harus jadi Ratuku mulai hari ini.” Rio mendesakku dan membuat seisi kelas bersorak.

     “Cieeee..”

     “Apasih? Rese!” Aku langsung meninggalkan kelas yang riuh dengan sorak teman-teman sekelasku dan juga Rio yang menurutku hanya bercanda itu. Ya, karena dia memang senang sekali menggangguku sejak dulu, bukan?
                            ***
      Tak terasa waktu begitu cepat bergulir. Beberapa bulan berlalu begitu saja, ujian akhir pun telah kulalui. Dan yang perlu kalian ketahui, Rio masih setia mengganggu dan membuntutiku hingga sekarang. Hingga hari ini, ah mungkin tidak. Maksudku sebelum hari ini, karena hari ini tak kulihat Rio muncul. Padahal hari ini pengumuman kelulusan. Entah kemana ia pergi. Kenapa rasanya jadi.. uh! Kenapa sih aku ini? Kenapa aku jadi mencarinya begini? Apa karena aku sudah terbiasa setiap hari diganggu dan diikuti olehnya, jadi hari tanpa dia terasa seperti ada yang kurang. Begitukah? Ah tidak mungkin!

     Tapi, karena penasaran akhirnya terpaksa aku bertanya pada Aldi. “Al, Rio kemana? Tumben gak keliatan.”

     “Ciee nyariin. Kangen ya?” Sudah kuduga akan begitu reaksi Aldi. Dia memang tak jauh berbeda dengan sahabatnya itu. Iya, sama-sama menyebalkan.

      “Al, please. Aku serius.” Aku mulai memasang tampang kesal.

      “Hehe iya iya peace. Tapi, emangnya Rio gak kasi tau kamu? Dia kan mau pindah ke Singapura ikut ayahnya dan lanjut kuliah disana. Hari ini dia pergi, jam 10 berangkat dari sini.” Aldi melihat jam tangannya, “15 menit lagi, Ra!”

      Aku terkejut mendengar perkataan Aldi. “Kenapa baru kasi tau sekarang sih? Bandara kan jauh, Al.” Ucapku lemas.

      “Nggak jauh. Masih ada waktu, Ra. Cepat pergi sekarang.”

      “I..iya iya. Makasih, Al.”

      Aku tak bisa berpikir panjang dan entah apa yang ada dipikiranku sehingga aku begitu saja mengikuti perintah Aldi dan segera pergi ke bandara. Sebenarnya apa yang aku lakukan dan untuk apa? Mengapa aku berusaha menyusul Rio? Dia sama saja kan dengan laki-laki yang lain? Laki-laki yang mengejar-ngejarku karena fisikku atau karena apa yang aku milikku. Begitukah? Lalu mengapa sekarang aku berlari di bandara berusaha untuk menyusulnya seperti adegan yang biasa aku lihat di drama Korea? Ah, entahlah! Rio, kau menyebalkan!

     Sampai! Aku sampai. Tapi, aku terlambat. Sekarang sudah pukul 10.02. Oh, tidak! Aku lemas. Aku merasa kosong. Hampa. Rio jahat! Mengapa ia tak memberitahuku? Bukan, bukan Rio yang tak memberitahuku melainkan aku yang mengabaikan pesan darinya sejak semalam. Benar saja, saat ini sudah ada 50 pesan di hpku yang belum kubaca dan semuanya darinya. Sekarang aku semakin lemas dan tak berminat untuk membuka pesannya itu. Baru kali ini aku menyesal mengabaikan Rio, padahal aku seringkali mengabaikannya. Dan ya.. kuakui sekarang aku benar-benar menyesal. Penyesalan selalu datang di akhir, bukan?
                              ***
     Tanpa sadar aku kembali ke sekolah yang kini sudah sepi. Jangan tanya sedari tadi aku bolak-balik dari sekolah ke bandara lalu kembali lagi ke sekolah dengan apa. Oh ayolah, sekarang teknologi sudah canggih, kalian bisa bepergian dengan gampang kemanapun kalian mau menggunakan aplikasi antar jemput online. Sudah cukup, mari kembali ke dimana aku berada sekarang.

     Sekolah sudah sepi, tampaknya sudah tak ada orang kecuali pak satpam yang selalu setia menjaga sekolah di pos satpam dekat gerbang dan beberapa staff yang masih bertugas di kantor lantai dasar. Aku menuju ke lantai 3, tempat kelasku berada. Aku melangkahkan kaki menuju ruangan terbuka di ujung koridor. Sepanjang jalan bayangan Rio yang selalu mengikuti kembali terputar ulang di memoriku. Aku merasa konyol. Sebenarnya apa yang terjadi padaku sejak tadi? Tidak. Aku rasa bukan hanya tadi. Tapi sudah sejak lama, aku sudah terbiasa dengan Rio yang selalu mengikutiku, selalu mengirim pesan setiap saat. Terbiasa. Lalu rasa apalagi ini? Terasa sesak. Rasanya aku baru menyadari sesuatu. Sadar akan rasa yang sebenarnya sudah timbul sejak lama. Sadar akan rasa yang muncul karena terbiasa. Kalian tau rasa apa? Rindu? Nyaman? Sayang? Atau bahkan mungkin.. cinta?

     Tapi, apalah dayaku. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Semua terlambat sudah. Lebih baik aku pergi dari sini. Untuk apa aku mengharapkan Rio yang mungkin akan kembali dan berdiri di hadapanku sekarang? Ini bukanlah cerita di novel, ftv, apalagi drama Korea. Kalian harus tau, hidup tak seindah itu. Jadi jangan mengharapkan semuanya akan berakhir dengan indah seperti yang kalian bayangkan.

     “Tap..tap..tap..”

     Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki mengikutiku. Aku mulai merinding karena tiba-tiba teringat cerita horor tentang sekolah ini yang memang ada sisi angkernya. Aku mempercepat langkahku. Tetapi suara langkah kaki itu juga semakin mendekat. Oh, Tuhan. Apalagi ini? Apa salahku? Mengapa hari ini begitu indah? Ah tidak, maksudku sebaliknya. Tapi, baiklah. Aku menyerah. Dengan tubuhku yang bergetar dan keringat dingin yang mulai bercucuran, aku menghentikan langkahku. Benar saja, suara langkah kaki itupun berhenti. Oh tidak.. begitu dekat.. tepat dibelakangku sekarang. Dan hawa dingin tangannya seperti menyentuh pundakku.

     “Aaaa!!! Tidaakk!! Jangan ganggu aku, ini masih siang!! Mama tolong!!” aku berteriak histeris dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Air mataku mengalir begitu saja. Aku sungguh ketakutan.

     “Hei, hei. Rara. Kamu kenapa? Jangan takut ini aku.” Samar-samar kudengar tapi kurasa sekarang ia berada di depanku dan memegang kedua pundakku.

     “Pergi, pergi. Jangan ganggu aku. Aku mohon..” aku masih menangis ketakutan dan menutup wajahku.

     “Rara, tenang, Ra. Ini aku. Bukan setan atau hantu.” Sekarang hantu itu memelukku. Eh.. hantu? “Ra, ini aku Rio.”

     Dengan segera aku melepas pelukannya dan mendorongnya. Aku menutup mataku dan mengusapnya. Memastikan yang berada dihadapanku sekarang nyata atau tidak. “Ri..Rio? Kok kamu.. bukannya kamu..” aku tergagap. Tak bisa berkata-kata dan masih tak percaya.

     “Kenapa aku disini? Ya.. aku mau ambil amplop kelulusanlah, nih.” Ia menunjukkan amplop kelulusan ditangannya. “Tadi pagi aku nggak datang karna.. kesiangan. Hehe.”

     “Bego!” racauku tiba-tiba. Karena hanya kata itu yang bisa kuucapkan setelah apa yang aku lakukan hari ini.

     “Eh.. siapa yang bego? Oh, aku baru ingat cerita Aldi yang bohongin tadi. Katanya dia bilang ke kamu kalau aku pergi ke Singapura ya? Terus kamu langsung lari ke bandara? Bener, Ra? Haha. Makanya baca pesanku dong.”

     Sumpah! Aku tak bisa lagi menahan rasa malu. Entah sudah semerah apa wajahku sekarang. Aku langsung menutup wajahku kembali dengan kedua tanganku, mencoba menyembunyikan rasa malu. Tak bisa lagi berkata-kata. Tiba-tiba Rio memelukku.

     “Haha sembunyi sini. Makasih udah ngejar aku sampe ke bandara walau aku nggak ada disana. Makasih ya, Rara. Eh bukan, makasih ya Ratu-ku.”

     Bisa kupastikan Rio sedang menahan tawa gelinya sekarang. Bodohnya aku. Aku tak habis pikir dan tak bisa lagi menahan air mataku. Rio melepas pelukannya dan memegang kedua pundakku kemudian menundukkan badannya agar wajahnya sejajar denganku. Memang dia lebih tinggi daripada aku. Ia pun mengusap lembut air mata dipipiku.

     “Gimana? Udah nyaman? Sayang? Atau.. cinta sama aku, Ratu-ku?” dengan tersenyum dan setengah berbisik ia berhasil membuatku tak bisa berkata-kata.

     “Berisik!” hanya itu yang dapat keluar dari mulutku. Aku langsung memeluknya dan menyembunyikan wajahku. Bisa ku pastikan, ia pasti tersenyum bahagia sekarang. Tetapi, aku juga tak bisa memungkiri. Aku yakin sekarang. Rasa yang aku bingungkan tadi adalah rasa nyaman, sayang, dan bahkan cinta pada Rio. Perasaan menyenangkan yang baru pertama kali aku rasakan. Hanya padanya, pada Rio Pratama yang duduk dibelakang bangku ku saat dikelas, yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, yang selalu menggangguku, yang selalu mengirimiku pesan saat aku berada di rumah dan akhirnya membuatku terbiasa dengan semua itu.

     “Oke. Aku anggap jawabannya iya.” Rio membalas pelukanku. “Dengar semuanya, sekarang Ratu Pricilla adalah ‘Ratu’ nya Rio. Bukan ‘Ratu’ kalian, bukan juga ‘Ratu’ SMA Purnama. Dengar semuanya, ingat itu baik-baik.”

     Aku tersenyum geli mendengarnya. Entah pada siapa Rio mengumumkan hal itu. Padahal disini sudah sepi dan tak ada siapa-siapa lagi selain kami dan pak satpam yang berada di pos satpam juga staff yang tak mungkin mendengarnya.

     “Oh iya. Satu lagi aku tekankan. Aku nggak mau kamu salah paham. Aku dari awal memang udah suka sama kamu, Ra. Bukan karna kamu ‘Ratu’ seperti yang mereka bilang, apalagi karna kamu punya segalanya. Aku suka kamu, suka Ratu Pricilla. Yang akan tetap suka walaupun kamu orang biasa dan bukan ‘Ratu’ SMA Purnama. Aku nggak peduli sama semua itu. Ingat, aku sukanya sama seorang Ratu Pricilla. Bukan karna julukannya atau karna segala yang dimilikinya. Eh bukan cuma suka sih, tapi sayang. Dan.. cinta juga.”

     “Iya, Rio. Makasih ya.” Aku memeluknya semakin erat, begitu juga dia.

     Ternyata laki-laki yang seperti Rio bukan hanya tokoh yang ada di novel. Ternyata akhir cerita yang indah bukan hanya ada di drama Korea. Tapi, cerita hidupku jauh lebih indah. Aku tarik lagi deh ucapanku tadi. Setiap orang pasti memiliki cerita hidup yang indah bagi dirinya masing-masing. Tak terkecuali aku. Sekarang aku merasa sangat bahagia. Aku merasa menjadi ‘Ratu’ yang sebenarnya. Iya, ‘Ratu’ nya Rio.
                                  ***

          
        Nanda Sukma Ayuni seorang gadis yang lahir di Anjungan pada 2 September 1999. Gadis yang masih kuliah ini memiliki panggilan Nachan. Keinginan menjadi agen literasi Kalimantan Barat membenak di hati karena sejalan dengan hobinya membaca dan menulis. Gadis ini menciptakan dunia sendiri dengan membaca dan menulis yang sama dengan mottonya, yaitu Ciptakan duniamu sendiri dengan membaca dan menulis.
Ingin tau tentang Nachan hubungi via instagram: @nandachaan dan @literasikalbar

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post