-->

Sabtu, 31 Agustus 2019

Peran Keluarga, Sekolah, dan Pemerintah dalam Membangun Budaya Literasi

author photo
"Saya meyakini kunci keberhasilan untuk membangkitkan budaya literasi di Indonesia terletak pada kesungguahan dengan saling bekerja sama disetiap elemen masyarkat, lembaga-lembaga pendidikan, dan pemerintah."

litersi kalbar
peran keluarga pixabay

Tulisan Andrianto

Di era globalisasi saat ini begitu banyak budaya-budaya bangsa indonesia yang mulai tergeser. Pergeseran tersebut diakibatkan oleh kemajuan teknologi dan informasi secara global. Banyak budaya-budaya bangsa lain yang mulai diserap oleh bangsa indonesia baik bersifat positif maupun bersifat negatif. Hal tersebut menyebabkan banyak perubahan yang terjadi pada generasi bangsa ini.

Budaya yang saat ini mulai tergeser oleh lajunya arus globalisasi yaitu budaya literasi. Harus diakui bahwa budaya literasi yang ada di Indonesia saat ini memang masih sangat minim. Berdasarkan survei dari UNESCO tahun 2011, minat membaca masyarakat indonesia hanya sebesar 0,001 %. Angka tersebut sangat memperihatinkan bagi budaya literasi bangsa Indonesia.

Lajunya arus globalisasi semakin membuat tergesernya budaya literasi sejak era kecanggihan teknologi saat ini. Hal yang menjadi daya tarik bagi anak-anak atau generasi penerus bangsa ini, yaitu bukan pada buku sebagai bahan bacaan lagi melainkan mereka lebih tertarik dengan gawai dan televisi. Tak heran jika mengunjungi perpustakaan akan terasa suasana yang sunyi dan hening karena sudah jarang dikunjungi.

Berdasarkan pengalaman pribadi ketika masih SMA, siswa-siswa akan pergi ke perpustakaan jika ia disuruh oleh guru untuk meringkas sebuah buku atau ketika ada tugas saja. Hal itu pun karena mereka dipaksa untuk pergi perpustakaan. Penyediaan buku-buku di perpustakaan sudah memadai dan cukup sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan.

Baca Juga: Rendahnya Budaya Literasi, Siapa Peduli?

Akan tetapi, masih banyak sekali siswa yang jarang pergi ke perpustakaan untuk  membaca buku sebagai pengisi waktu luang. Mereka lebih sibuk dengan gawainya masing-masing. Selain itu kartu perpustakaan yang digunakan untuk meminjam buku pun masih bersih tidak ada paraf dari petugas perpustakaan. Mereka tidak pernah meminjam buku sama sekali bahkan ada yang menganggap kartu perpustakaan itu tidak penting.

Budaya literasi yang dulunya “menatap sebuah buku” sekarang perlahan-lahan tergeser menjadi menatap layar kaca gawai.

Perubahan yang terjadi akibat globalisasi ini perlahan-lahan mulai mempengaruhi sikap dan perilaku anak bangsa yang saat ini sering kita jumpai. Mereka lebih cenderung menyukai suatu hal yang sedang populer atau bahasa gaulnya, yaitu sedang ngetren. Contoh pengaruh dari globalisasi karena kemajuan teknologi, yaitu banyak anak-anak yang suka bermain game online, update status dimedia sosial, dan tak jarang suka membaca berita-berita hoax. bahkan mereka juga menyebarkan berita tersebut melalui akun media sosialnya.

Melihat kondisi di atas sudah seharusnya semua elemen bangsa ini menyadari bahwa budaya literasi yang ada di Indonesia ini sangat memperihatinkan. Perlu suatu pendongkrak agar budaya literasi di Indonesia ini bisa bangkit. Pendongkrak agar budaya literasi di Indonesia ini bisa bangkit yaitu kesadaran akan pentingnya literasi. Kesadaran tersebut harus dimiliki oleh semua elemen yang ada di masyarakat seperti keluarga, sekolah maupun pemerintah.

Saat ini pemerintah sudah berupaya untuk menggiatkan atau menggalakkan agenda-agenda yang bertujuan untuk membangkitkan budaya literasi bangsa Indonesia diantaranya yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dalam permendikbud no 23 tahun 2015, Book Fair, Gerakan Indonesia Membaca (GIM) serta Gerakan Literasi Bangsa (GLB).

Selain agenda tersebut, pemerintah juga berupaya untuk menyebarluaskan perpustakaan agar di desa-desa terpencil juga dapat dijangkau. Gerakan untuk membangkitkan budaya literasi di era globalisasi saat ini tidak semata-mata dibebankan kepada penerintah saja karena untuk membangun suatu kebiasaan dalam literasi ini justru dimulai dari unit terkecil masyarakat yaitu keluarga.

Baca Juga: Cinta di Ujung Senja

Mengapa keluarga? Seperti yang kita ketahui saat ini kebiasaan yang sering kita lakukan (positif) saat ini bermula dari didikan orang tua yang mengajarkan kita dari kecil hingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Mungkin saat ini banyak terdapat keluarga baik dari perkotaan apalagi di pedesaan yang belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya budaya literasi.

Saya meyakini bahwa dari keluarga dapat membangkitkan budaya literasi di Indonesia jika setiap keluarga menyadari dan mengajarkan anak-anaknya sejak dini untuk membiasakan membaca. Hal yang dapat dilakukan, yaitu kebiasaan memberi hadiah kepada anak berupa buku, biasakan mengajak anak jalan-jalan ke pameran buku-buku, dan bisa juga menyisihkan uang untuk membeli buku sebagai bahan bacaan untuk anak-anak.

Selain di keluarga, membangun budaya literasi juga harus dimulai dari sekolah. Di mana sekolah merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berperan sangat penting bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia. Bicara mengenai literasi dan sekolah tentu kedua hal tersebut adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sekolah implementasi literasi selalu diterapkan akan tetapi harus diakui bahwa secara umum kegiatan intelektual membaca dan menulis belum menjadi budaya yang dibiasakan.

Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan oleh permendikbud No 23 tahun 2015 diharapkan dapat direalisasikan secara maksimal oleh lembaga pendidikan dan peran dari guru . Harapan mampu mendongkrak dan memaksimalkan fungsi perpustakaan sekolah agar minat dalam membaca dan menulis siswa dapat meningkat. Jika menjadi suatu kegiatan yang dibiasakan maka akan menciptakan budaya literasi di sekolah yang baik

Baca Juga: Sajak Rudi Santoso

Memang kebiasaan dalam literasi di era globalisasi saat ini tidak mudah untuk ditumbuhkan di zaman kecanggihan teknologi yang semakin marak. Saya meyakini kunci keberhasilan untuk membangkitkan budaya literasi di Indonesia terletak pada kesungguahan dengan saling bekerja sama disetiap elemen masyarkat, lembaga-lembaga pendidikan, dan pemerintah.

Maju mundurnya suatu literasi bangsa ini  bukan terletak di tangan pemerintah melainkan kita semua sebagai bangsa indonesia. Adanya gerakan bersama untuk membangkitkan literasi di Indonesia diharapkan akan menunjukan keberhasilan dalam menumbuhkan budaya literasi di Indonesia.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post