Minggu, 15 September 2019

Membeli Buku Sebuah Upaya Apresiasi Karya

author photo
"saat mengetahui temannya menerbitkan dan mencetak buku, hal yang sering didapati bukan ucapan selamat atas cetaknya buku. Namun, permintaan teman atau pembaca memiliki buku secara gratis."

literasi kalbar
membeli buku sebuah apresiasi karya pic:pexels

Literasikalbar.com – Mengapresiasi karya bisa dilakukan seseorang dengan berbagai cara. Membaca buku dan mengulas isi buku merupakan cara yang sering diakukan. Mengkritik isi buku karena kekurangannya terkadang terdapat di dalam resensi. Memberikan saran kepada penulis buku untuk melakukan perbaikan dan kualitas buku berikutnya. Bahkan membeli buku ternyata sudah termasuk mengapresiasi karya.

Penulis mengorbankan waktu dan tenaga untuk menulis sebuah buku. Memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun untuk melakukan riset dan pengumpulan bahan tulisan. Belum lagi saat menuliskan, penulis memerlukan waktu yang cukup panjang. Penulis menulis dan melakukan editing. Editing yang dilakukan terkadang tak cukup satu kali. Kegiatan yang dilakukan penulis memerlukan semangat dan kesabaran yang tinggi dalam menghasilkan karya buku.
Baca Juga: Membaca Buku, Kegiatan yang Melelahkan
Penulis akan senang jika bukunya telah terbit. Namun penulis akan lebih senang jika buku yang diterbitkan dibeli oleh pembaca. Penulis merasa puas dengan apa yang telah dikerjakan. Pekerjaannya menulis berbulan-bulan terbayar tuntas dengan terbitnya buku dan banyak pembeli yang membeli buku. Belum lagi ada pembeli yang meminta tanda tangan. Belum lagi ada penulis yang meresensi buku tersebut. Rasa senang penulis menimbulkan semangat untuk menulis buku selanjutnya dan selanjutnya.

Lain soal, bagi penulis pemula yang berusaha menghasilkan karya buku, ia berusaha keras menulis, menerbitkan, dan menjual buku. Terkadang dalam hatinya bertanya-tanya susahnya menjadi penulis. Terkadang cukup satu buku, setelah itu selesai menulis karena merasa menulis buku tak menghasilkan dan cukup melelahkan.

Lain soal bagi penulis yang menerbitkan buku dengan mencetak sendiri (percetakan indie). Buku yang dihasilkan dicetak dengan biaya penulis sendiri. Penulis mencetak indie karena alasan tertentu, misalnya idealisme, takut isi bukunya dipangkas oleh penerbit mayor, dan lain sebagainya. Penulis yang mencetak indie sangat senang apabila ada keluarga, teman, dan siapapun yang membeli bukunya. Dengan begitu modal cetak buku tersebut bisa kembali dan digunakan untuk modal menulis dan mencetak buku berikutnya.
Baca Juga: Bunuh Diri Membaca Buku
Namun, sayang sekali. Pembaca kita, saat mengetahui temannya menerbitkan dan mencetak buku, hal yang sering didapati bukan ucapan selamat atas cetaknya buku. Namun, permintaan teman atau pembaca memiliki buku secara gratis. Pembaca tidak memiliki apresiasi tinggi terhadap penulis dan buku. Penulis yang mencetak buku dengan biaya sendiri, tentu akan mengurut dada. Di dalam benaknya, modal untuk menulis buku selanjutnya akan berkurang.

Pembaca mulailah mengapresiasi buku dengan membeli. Belilah buku milik teman atau siapapun untuk menyenangkan hatinya. Selebihnya untuk menyemangati penulis menghasilkan karya buku selanjutnya. Lakukan apresiasi lebih  jauh mengenai buku yang dihasilkan penulis kita. Melakukan kegiatan diskusi buku, meresensi buku, dan membahasnya untuk apresiasi lebih jauh. Harus ditanamkan bahwa membeli buku sebuah upaya apresiasi karya.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post