Rabu, 16 Oktober 2019

Cerpen | Kunjungan di Tengah Malam

author photo
Seketika ia teringat Bapak yang meninggal dalam tidur tiga tahun lalu. Seumur hidup lelaki 65 tahun itu telah dihabiskan untuk mengisap benda yang berhasil membakar jantung beliau hingga tak mampu lagi berdetak lebih lama. Ini membuat Danar berhenti merokok. Padahal ia baru tahap coba-coba karena terpengaruh teman-teman kampus.

Kunjungan di Tengah Malam
Ilustrasi Chelseablecha

Cerpen Milanur Almair

Pffuh, tinggal 456 kata lagi!
Danar membatin seraya menatap tekun layar putih di depannya. Cerpen ini harus jadi malam ini, ia bertekad. Namun sejak lima menit lalu, suara batuk memenuhi ruang pendengaran lelaki seperempat abad itu. Padahal tak ada siapa-siapa di rumah. Mas Umar sedang dinas ke Bandung. Mbak Sandra belum pulang. Katanya seminar tiga hari di Jakarta. Keduanya bekerja di kantor pemerintah daerah.

Laptop ia taruh di kasur, lalu beranjak ke luar kamar yang berada di lantai atas dan menjadi ruang pribadinya dua hari belakangan. Danar mematung di pintu. Tak ada apa-apa di ruangan sekitar tangga dan kamar mandi.

Suara tadi seperti terdengar dari luar. Cowok kurus itu pun membuka pintu geser yang langsung menghadap  ke balkon sambil menyalakan lampu. Sepi dan dingin. Mungkin karena tadi sore turun hujan. Tak ada warga yang duduk mengobrol hingga larut malam. Hanya deretan atap rumah tetangga di depan-kiri-kanan jadi pemandangan. Pohon jambu air yang ditanam Mas Umar di depan rumah nampak merimbun.

Rumah dua lantai ini memang baru dibangun tiga bulan lalu. Lantai atasnya hanya separuh yang dicor. Ada satu kamar tidur, satu kamar mandi dan teras untuk menjemur pakaian. Kakak kandungnya, Mbak Sandra, berkeras memintanya tinggal di sini. Pembantunya sedang mudik, tak ada yang menjaga rumah. Bisa sambil menunggu lowongan buat pegawai honorer, katanya.

Entahlah, Danar akhir-akhir ini lebih suka menulis daripada harus bekerja kantoran seperti kakaknya. Ijazah Teknik Sipil yang ia miliki tak cukup berarti untuk digunakan sebagai senjata pamungkas mencari kerja di kota industri ini. Jadi PNS? Tak ada minat.

Baca Juga: Penyair Gurem dengan Kolor di Kepalanya

Ia melirik arloji, pukul 23.54. Penasaran. Sebenarnya bunyi batuk siapa yang terdengar jelas dan berulang tadi? Dari warna suaranya seperti milik pria usia 60 atau 70-an yang hobi merokok. Batuk yang terdengar berat dan sedikit berdahak.

Seketika ia teringat Bapak yang meninggal dalam tidur tiga tahun lalu. Seumur hidup lelaki 65 tahun itu telah dihabiskan untuk mengisap benda yang berhasil membakar jantung beliau hingga tak mampu lagi berdetak lebih lama. Ini membuat Danar berhenti merokok. Padahal ia baru tahap coba-coba karena terpengaruh teman-teman kampus.

Danar akhirnya menutup pintu dan masuk ke kamar. Kembali menekuri layar  yang meredup dengan garis hitam melintang tanda minta di-charge. Sial! Charger masih tertinggal di ruang tengah lantai satu. Tadi siang ia mengetik sambil nonton TV di situ.

Danar menyalakan senter di HP. Menuruni tangga kayu yang menghubungkan ke lantai bawah. Ruangan yang terdiri dari dua kamar tidur, toilet dan ruang nonton TV yang memanjang, memang sengaja lampunya digelapkan kecuali teras. Hemat listrik, begitu kilah Mbak Sandra. Sifat perhitungannya tak hilang-hilang.

Ia segera menyalakan lampu. Charger laptop masih tergeletak di karpet rasfur ungu nan menghampar di depan TV LED yang digantung di atas  tembok dekat jendela depan. Saat tangannya meraih benda tersebut, terdengar pagar  depan diketuk dua kali.

Cowok berkulit terang itu mengernyitkan dahi. Ia beranjak sepuluh langkah menuju jendela, menyibak gorden klasik nuansa ungu dan mengintip ke luar agak lama. Tak ada siapa-siapa. Hm, mungkin pagarnya  belum terkunci benar, sehingga berbunyi jika bergesekan tertiup angin.

Saat berbalik, kembali pagar diketuk berulang. Kali ini lebih keras. Danar pun segera membuka pintu utama di sisi kanan tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia keluar dan memeriksa teras yang berlantai granit warna kelabu. Aneh. Pagar stainless tersebut sudah terkunci rapat dan sempurna, dalam artian tak ada celah yang membuat pagar ini bergesekan satu sama lain sehingga menimbulkan efek bunyi ketukan tadi.

Danar menarik napas sambil menggaruk-garuk rambut ikalnya. Malam yang aneh. Ia pun kembali ke dalam, mematikan lampu dan naik ke atas. Melanjutkan ketikan cerpen eksperimental yang belum selesai. Judulnya membuat ia senyum-senyum sendiri; Tujuh Hal yang Bisa Kaulakukan agar Terbebas dari Kenangan Bersama Mantan!

***

Bunyi batuk berat berulang dan pagar yang diketuk dua kali rupanya tak hanya terjadi malam itu. Malam-malam berikutnya suara-suara tadi kembali mengganggu kenyamanan tidur Danar. Tak hanya batuk, sekarang ditambah suara mirip orang menggergaji. Bahkan suara ketukan di pagar terdengar lebih keras dar sebelumnya. Anehnya ini tak terjadi pada siang hari.

Kadang suara batuk kakek tadi ditingkah dengan bunyi adukan pasir dan semen yang disekop lalu dipindahkan ke ember. Ada ketukan palu berikut bunyi tembok digosok. Danar hafal suara itu sebab ia pernah membantu Bapak merenovasi masjid kampung.

Danar ingin menanyakan pada tetangga, apakah mereka mendengar hal yang sama dengan dirinya. Namun urung. Selain malu, ia juga baru datang ke kota ini dan belum sempat berbincang dalam rangka kenalan dengan warga sekitar. Cowok berhidung bulat itu juga tak ingin tetangga beranggapan aneh tentang rumah kakaknya. Rumah baru dibangun kok berhantu?

Ia jadi tak konsentrasi menulis. Siang hari bisa dihabiskan dengan tidur atau ngelayap ke gerai elektronik dan toko buku. Tapi kalau gelap tiba, ia tak punya pilihan. Mau begadang belum punya teman. Akibatnya selama tiga malam berturut-turut Danar terpaksa menikmati sendiri suara-suara tadi dengan bulu kuduk meremang dan telinga ditutup bantal atau earphone.

***

"Masa sih?" Begitu reaksi Mbak Sandra ketika Dana menceritakan apa yang dialaminya tiga hari belakangan saat sarapan di meja makan. Wanita berwajah bulat itu nampak tak acuh dengan ucapan adiknya. Sibuk menyantap nasi goreng petai di depannya.

Awalnya Danar ingin menelepon Mbak Sandra dan melaporkan bunyi-bunyi aneh yang didengarnya, tapi cowok itu malas diejek penakut. Jadi lebih baik menunggu kakaknya pulang saja.

Baca juga: Serangan Virus Membaca

"Iya, Mbak. Suwer! Berisik banget. Aku sampe tidur pake headset."

"Kamu ngingo kali? Apa halusinasi? Wong kata Ibu saat kecil kamu suka tidur sambil jalan kok, hehehe," goda Mbak Sandra tak serius menanggapi ocehan adik bungsunya.

"Dih, Mbak Sandra kok nggak percaya sih?"

"Jangan-jangan Mbak sengaja nyuruh ke sini ya biar ada yang nemenin kalo Mas Umar lagi dines luar kota kayak sekarang?” tuduh Danar kesal sambil mengunyah nasi gorengnya yang sisa separuh. Petai nampak berjejer di pinggir piring. Ia tak suka buah berbau menyengat tersebut.

"Yeee, kan Bapak juga pernah nyuruh kamu tinggal ama Mbak, tho? Makanya ngaji biar nggak denger suara-suara aneh. Udah ah! Mbak mau berangkat dulu. Kudu berangkat pagi, disuruh tugas ke Cibubur hari ini. Pulang besok pagi kayaknya." Tukas perempuan berjilbab senada dengan seragamnya, cokelat.

Danar hanya menatap kesal kepergian sang kakak. Sepertinya ia harus menceritakan hal ini pada Mas Umar. Tapi Mas Umar baru pulang besok. Akhirnya seharian ini ia hanya menghabiskan waktu di depan TV. Menunggu gelap datang dan bersiap-siap mendengar suara-suara misterius itu lagi malam ini.

***

Mas Umar terdiam mendengar cerita adik iparnya yang begitu menggebu-gebu keesokan sorenya. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menyandarkan tubuh gemuknya di kursi  tamu.

"Emang mbakmu belum cerita?"

"Cerita? Cerita apa, Mas? Mbak Sandra cuma bilang aku ngigo kemarin."

Lelaki 40-an itu nampak berpikir sejenak, meragu. Apakah sudah benar menceritakan semua ini pada adik iparnya yang baru beberapa hari di rumah mereka? Tapi ia tak punya pilihan. Toh, daripada adiknya ketakutan dan minta pulang. Kasihan istrinya, belum berani menghadapi ini seorang diri.

"Begini, Nar. Saat membangun rumah ini dulu, kami pernah mempekerjakan seorang tukang yang sudah berumur, Kek Dahlan namanya. Dari empat orang  yang bekerja di sini, Kakek Dahlan termasuk yang paling rajin. Saat yang lain masih tidur-tiduran atau sarapan, dia sudah start bekerja. Begitu pun di sore hari. Yang lain sudah berbenah, ia masih asyik bekerja sendiri hingga matahari hampir terbenam. Ia jeda hanya untuk makan, sholat dan mandi saja. Kadang malam hari pun ia masih sibuk menyiapkan perlengkapan kerja untuk besok. Benar-benar tukang bangunan yang penuh dedikasi pada pekerjaannya." Ungkap lelaki berkumis tipis tadi.

Baca Juga: Pentingnya Menggembangkan Budaya Literasi Mahasiswa

Danar diam mendengarkan dengan saksama.

"Suatu hari, putra sang kakek yang rumahnya tak jauh dari sini, datang menemui mbakmu, meminta agar menghentikan Kakek Dahlan dari proyek ini. Ia tak ingin ayahnya terlalu bekerja keras. Sudah sepuh. Waktunya duduk saja menikmati hari tua."

"Loh, emang kemarin yang ngasi rekomendasi kakek itu siapa?"

"Mas sendiri yang nawarin. Sebab apa?"

"Kakek Dahlan itu terbiasa bekerja sejak muda. Ia sering curhat usai shalat di masjid bahwa meski sudah tua, ia masih kuat bekerja. Duduk diam di rumah hanya membuat pikirannya buntu dan tubuhnya kaku karena kurang gerak. Tambahan lagi, dengan bekerja minimal ia tak terlalu rindu dengan istrinya yang sudah meninggal setahun lalu. Namun ia merasa anak-anaknya tak mengerti akan hal ini."

"Trus, akhirnya gimana?" tanya Danar penasaran.

"Demi memenuhi permintaan si anak, akhirnya dengan berat hati Mas terpaksa memberhentikan Kek Dahlan. Mas dan Mbak sebenarnya tak tega. Tapi putra Kek Dahlan ngotot. Ya udah, Kek Dahlan berhenti meski proyek belum selesai."

Danar mengerutkan kening. Ia masih belum menemukan benang merah dari semua hal aneh yang ia temukan di rumah ini dengan cerita Kek Dahlan.

Ponsel Mas Umar yang ditaruh di atas lemari dekat TV, tiba-tiba berbunyi. Ia beranjak ke dalam untuk menjawab telepon meninggalkan adik iparnya yang masih duduk khidmat menunggu cerita selanjutnya.

Tak lama setelah menutup telepon, Mas Umar nampak mengambil kunci motor yang tergantung di balik pintu dan buru-buru keluar.

"Loh, mau kemana?" Danar bertanya bingung.

“Mbak Sandra bawa mobil kantor. Tapi pulang ke sini malah mogok. Mas mau nyusul dulu, takut kemalaman dia."

Danar hanya bengong bercampur sebal. Ia belum menemukan simpulan atas semua yang ia alami tiga hari kemarin. Akhirnya Danar memutuskan masuk ke dalam, mengunci semua pintu dan jendela karena gelap mulai mendekap.

***

Pukul 23.26 WIB. Mata Danar masih nyalang dengan laptop di pangkuan. Mas Umar dan Mbak Sandra belum pulang juga. Katanya masih terjebak macet parah dekat bengkel  di Kalimalang. Ada kontainer tumbang karena jalan yang amblas.

Suara batuk terdengar. Danar menghentikan gerak jemarinya di atas papan ketik. Jantungnya berontak. Suasana begitu hening hingga yang terdengar hanya  napasnya sendiri. Suara batuk dilanjutkan dengan bunyi langkah kaki yang menginjak genangan air di lantai balkon.

Baca juga: Sebuah Rahasia

"Cuaca cerah sepanjang hari ini, mana mungkin ada genangan air di sana?"
Cowok bermata sipit itu benar-benar penasaran. Keingintahuannya berperang dengan rasa takut. Apa hubungan semua kejadian aneh ini dengan berhentinya Kakek Dahlan?

Perlahan ia bangkit dan berjingkat menuju pintu kamar. Lampu luar sengaja tak ia hidupkan. Dengan jemari gemetar ia menggeser pintu balkon yang berhias kertas dinding  motif bambu.

Ia keluar dan menengok ke kiri-kanan. Tak ada apa-apa. Hanya jemuran yang tersender di tembok sebelah kiri dan tempat sampah yang teronggok di pojok kanan. Ia maju tiga langkah, memepetkan tubuh di pagar pembatas.

Saat itulah ia merasa ada seseorang berdiri di belakangnya. Secepat kilat Danar berbalik. Matanya melotot melihat pemandangan yang ada. Seorang kakek bercaping nampak menyeringai dengan gergaji di tangan. Danar langsung berteriak dan roboh tak sadarkan diri!

***

"Harusnya Mbak Sandra cerita ke aku!"
Danar berteriak kesal. Ia merasa diperalat dan dimanfaatkan kakaknya.

"Maafin, Mbak. Mbak cuma nggak punya nyali untuk menemuinya. Mbak pikir mungkin kamu cukup berani untuk mewakili."

Danar ditemukan pingsan di balkon oleh Mas Umar semalam. Baru sadar pagi harinya. Sekarang ia memaksa Mbak Sandara untuk menuntaskan cerita kakak iparnya  yang belum selesai. Mas Umar buru-buru berangkat tadi pagi. Ada acara di Purwakarta.

"Sebenarnya ..., hmm, Kek Dahlan sudah meninggal seminggu yang lalu," ucap Mbak Sandra sendu beberapa saat sebelumnya sambil memainkan jari di pangkuan.

Danar yang bersandar di tembok kamar hanya terperangah mendengar ucapan kakaknya, yang duduk di tepi kasur busa yang dibiarkan tergelar di lantai.

"Setelah berhenti kerja, Kek Dahlan masih sering menengok ke sini, juga ke rumah tetangga lain yang pernah ia tangani pembangunannya. Setiap hari seperti itu. Kadang malam-malam ia masih menggedor pagar, hendak bertamu sambil menanyakan masmu dan mengajaknya berbincang sampai larut malam. Sebagian orang menganggapnya mulai gila. Tapi Mas Umar mengatakan Kek Dahlan hanya butuh teman bercerita. Butuh didengarkan,” lanjut perempuan yang masih terlihat cantik itu sambil menatap langit-langit.

"Tembok-tembok ini Kek Dahlan yang memasang batanya. Juga keramik lantai balkon, itu hasil kerja beliau yang tak selesai karena keburu disuruh berhenti oleh anaknya," Mbak Sandra berkata sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

“Tetangga yang sempat memakai jasa beliau satu-satu sudah ditemui. Rumah ini saja yang belum. Jika sudah bertemu dengan penghuni rumah, biasanya beliau tak akan muncul lagi. Hanya tersisa suaranya saja. Itulah sebabnya Mbak menyuruhmu ke sini. Mbak belum sanggup bertemu dengan arwah beliau. Mbak masih merasa bersalah telah mengikuti keinginan anaknya."

Danar hanya diam. Antara takut dan lega mendengar cerita kakaknya. Tiba-tiba satu pertanyaan terbersit di kepala.

"Mbak, Kakek Dahlan emang meninggal karena apa?"

Mbak Sandra tersentak dan berkata gagap, "Ka-karena sudah tua, iya, sakit, mm ... trus meninggal. Udah Mbak mau mandi dulu, dah siang."

Perempuan itu kemudian buru-buru berdiri lalu meninggalkan Danar yang masih melongo menanti jawaban. Berbagai dugaan muncul di kepalanya. Tiba-tiba pada tembok di hadapannya, samar tergambar raut wajah Kakek Dahlan. Antara tersenyum dan menyeringai.(fin)

Cikarang Pusat, 2018

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post