Kamis, 10 Oktober 2019

Cerpen | Serangan Virus Membaca

author photo
"Rutinitas membaca bersama paling sering dilakukan di rumah Dodi, namun terkadang berpindah-pindah tempat, kali ini mereka duduk santai berjejer membaca buku di teras. rumah Ria. Sedikitpun mereka tak terganggu dengan hirup pikuk orang-orang sekitar."

Karya: Asriani

Serangan virus membaca
Serangan Virus Membaca

Minggu pagi yang membosankan bagi Dodi, biasanya minggu pagi ia harus mendengar dongeng nenek. Hari pertama Dodi di rumah baru, ia duduk di teras rumah sambil membaca buku komik bergenre fantasi kesukaannya. Sesekali ia melihat anak seumuran ataupun lebih muda dan tua beberapa tahun darinya lalu lalang di sekitar komplek rumah.

Sebenarnya tak sulit bagi Dodi untuk mendapatkan teman di sini. Baru beberapa jam duduk di teras rumah, gerombolan anak-anak mengendarai sepeda berhenti di depan rumah Dodi dan menegurnya tanpa canggung.

“Hei, kamu baru pindah?” Tanya anak lelaki yang tinggi dan ukuran tubuhnya kurang lebih dengan Dodi, namun warna kulitnya agak gelap. Anak ini bernama Abduh.

Dodi mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca ke segerombolan anak-anak itu. Ia ragu untuk menjawab sebab ia canggung, alhasil ia hanya menggaruk kepalanya saja.

“Kok diam? Nama kamu siapa? Kami tinggal di blok yang sama dengan kamu. Aku tinggal di sini di sebelah rumah kamu, nomor J 21.” Kali ini anak perempuan berwajah oriental menunjuk rumah bercat merah tepat di sebelah kanan rumah Dodi. Anak ini bernama Dea.

“Eh, hai. Aku Dodi.” Ujar Dodi akhirnya bersuara, ia melambaikan tangannya.

“Maaf, aku kaget kalian tiba-tiba datang sih.”

“Kami cuma mau ngajak kamu main sama kami, jangan takut dong. Kami bukan anak nakal.” Ujar anak berwajah bulat dengan rambut sebahu dan poni depan ini menerangkan. Anak ini bernama Ria.

“Jadi, kamu mau ikut main sepeda sama kita nggak sore besok?” Tanya anak perempuan bertubuh gendut, keringatnya akibat bersepeda bercucuran diwajahnya. Anak ini bernama Nindy.

Dodi diam sejenak, diperhatikannya empat anak itu, ia benar-benar canggung begitu ada empat orang anak yang baru dikenalnya mengajak bermain sepeda.

“Emm... Mau sih ikut, tapi boleh aku dibonceng kalian? Aku nggak pandai naik sepeda.” Aku Dodi menundukkan kepalanya karena malu.

Tawa keempat anak-anak itu pecah, membuat Dodi semakin memerah mukanya.

“Nggak masalah, asal kamu mau ikut main sepeda sama kita setiap sore.” Jawab Abduh disela tawanya.

“Setuju nggak, Dod?”
Dodi mengangguk mantap.

Mereka berempat turun dari sepeda dan mendekati Dodi sambil menjulurkan tangan, sebagai tanda perkenalan mereka.

***

Bemain sepeda setiap sore sudah menjadi kebiasaan rutin Dodi sekarang, ia selalu dibonceng Abduh mengelilingi blok-blok di perumahan batara. Tak pernah ada kata bosan dalam mengendarai sepeda, karena setiap harinya mereka menemukan hal-hal unik dan teman-teman baru di sekitar komplek dan gang.

Pernah mereka harus mengayuh sepeda sekuat tenaga karena dikejar anjing galak, pernah pula mereka memelankan sepeda karena melewati orang gila yang hobi lempar batu. Kadang juga mereka bersepeda melewati gang-gang kecil yang berkelok-kelok sekitar perumahan mereka.

Perjalanan mengendarai sepeda setiap sore itu mereka sebut petualangan. Jika menemukan warung kecil menjual es dan gorengan, mereka berhenti sejenak, duduk di sana sambil bercerita tentang hal-hal menarik di sekolah mereka masing-masing karena mereka berlima berada di sekolah dan kelas yang berbeda. Tawa ataupun rasa prihatin selalu muncul ketika mereka masing-masing mulai bercerita hal-hal lucu ataupun aneh.

Hanya hujan yang membuat mereka berlima tak dapat melakukan rutinitas harian bermain sepeda. Dodi, Nindy, Abduh, Dea, dan Ria duduk berjejer di kursi jati ruang tamu. Selama lima belas menit mereka duduk diam memainkan smarthphone masing-masing, karena merasa bosan di dalam rumah Dodi. Rumah Dodi memang sering dijadikan markas mereka sebelum pergi bermain sepeda, makanya mereka sekarang terjebak di sini sambil menunggu hujan.

Dodi bosan memainkan smarthpone yang tak begitu menarik baginya, ia bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan teman-temannya untuk mengambil beberapa buku bacaan.

“Eh, mau kemana Dod?” Tanya Ria refleks melihat Dodi beranjak.

“Mau bawain cemilan untuk kita ya? Tau aja hujan-hujan gini kan mengundang rasa lapar.” Ujar Abduh sambil mengusap perutnya.

Mendengar kata makanan, pandangan Dea dan Nindy teralihkan dari smartphone dan memandang Dodi penuh harap. “Mau juga dong makanan.” Serempak Dea dan Nindy mengatakannya.

Krokkkk... Suara cacing menunjukkan bahwa diantara mereka ada yang benar-benar kelaparan. Mereka berlima pun tergelak. Ya, biarpun sudah makan siang, cuaca hujan memang mengundang perut minta diisi.

“Sebenarnya aku mau ngambil buku, tapi berhubung kalian pada lapar, aku ambil snack dulu di kulkas, terus aku suruh bik Inah  buatin cemilan kerupuk basah untuk kita. Gimana?”

“Wuaaa, setuju banget tuh. Makasih banyak ya, Dod! Kamu memang the best!” Seru Abduh mengacungkan kedua jempolnya, diikuti Ria, Dea dan Nindy. Mereka merasa beruntung Dodi pindah ke perumahan batara ini. Diantara mereka berlima, rumah Dodi paling cocok menjadi markas kumpul, selain kulkasnya penuh dengan snack, kedua orang tua Dodi juga bekerja sehingga tak ada di rumah sampai sore bahkan malam.

Tak perlu menunggu lama, selang beberapa menit, Bik Inah sudah membawa kerupuk basah dan sambal kacangnya. Meja di ruang tamu Dodi pun otomatis penuh antara buku dan cemilan.

Sambil menyantap cemilan, tangan mereka berlima memilah buku-buku yang akan dibaca. Ada aksi rebutan buku oleh Dea dan Ria, tapi berhasil diselesaikan karena Dodi membujuk Ria dengan memilihkan buku yang menurutnya lebih bagus. Beberapa menit kemudian, semuanya pun khidmat membaca buku masing-masing.

“Buku-buku kamu bagus semua kayaknya, Dod. Aku suka sama buku ini.” Ujar Dea menunjukkan buku komik berseri tentang pahlawan super.

“Udah mau maghrib nih kalau mau dibaca sampai habis. Boleh dong aku pinjam buku-bukumu ini?” Pujuk Nindy berharap akan diizinkan.

“Aku sih udah selesai baca buku yang tadi. Tapi ketagihan baca. Ada yang cerita horor nggak? Atau tentang detektif gitu?” Tanya Abduh mendempetkan tubuhnya dekat Dodi.

“Kalau tentang ilmu pengetahuan yang buat kita tambah pintar ada kan?” Ria juga ikut menodong pertanyaan tentang buku.

Kewalahan Dodi mau menjawab yang mana. Ia dengan senang hati meminjamkan buku-bukunya itu. Senyuman bangga terlukis diwajah Dodi, segera ia mengiring keempat temannya ke kamarnya yang menyimpan banyak buku-buku.

“Silahkan kalian pinjam dan pilih buku sesuka hati kalian.” Ujarnya disambut teriakan kesenangan teman-temannya itu.

Dalam hati Dodi merasa tak sia-sia ia menawarkan buku bacaan.

***

Virus gemar membaca sudah mulai menyebar kelima anak di blok J perumahan Batara. Kebiasaan bermain sepeda perlahan menghilang, karena tiap sore mereka selalu asyik dengan buku bacaan.

Paling banyak dua kali dalam seminggu mereka bermain sepeda. Secara bergantian mereka membaca buku cerita yang sangat banyak jumlahnya di rumah Dodi. Tak jarang mereka meminta orang tua untuk membelikan buku bacaan yang mereka inginkan.

Rutinitas membaca bersama paling sering dilakukan di rumah Dodi, namun terkadang berpindah-pindah tempat, kali ini mereka duduk santai berjejer membaca buku di teras. rumah Ria. Sedikitpun mereka tak terganggu dengan hirup pikuk orang-orang sekitar.

 “Teman-teman, aku punya ide!” Seru Dea membuatnya jadi pusat perhatian keempat temannya itu. Mereka berempat memasang wajah yang sama, yaitu menanti apa ide yang akan Dea kemukakan.

“Lahan kosong dibawah pohon ketapang itu kita jadikan pondok untuk taman bacaan aja gimana?” Usul Dea antusias sambil menunjuk  lahan kosong depan rumah Ria.

“Jadi, teman-teman dari blok lain bisa baca yang kita baca juga.”

“Iya benar, di sana cocok. Lumayan luas tempatnya! Terus, kita sumbangin buku-buku yang kita punya. Biar makin banyak.” Nindy tak kalah antusias begitu mendengar ide Dea.

“Aku sangat setuju dengan kalian!” Ria mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.

“Dea memang mantap soal ide nih.” Abduh pun menepuk bangga pundak Dea.

Berbeda dengan mereka berempat, Dodi mengerutkan dahinya sedari tadi. “Tunggu, kita ini masih kecil, memangnya mampu buat pondok bacaan?” Tanya Dodi bingung sambil mengusap dagunya.

Mereka saling tatap-tatapan tanpa sepatah katapun, wajah Dea, Nindy, Ria, dan Abduh yang antusias kini berubah lesu.

***

Hampir saja pupus dengan harapan mendirikan pondok baca, keesokan harinya Abduh membawa kabar gembira untuk teman-temannya. Kebetulan rumah Abduh lagi diperbesar, begitu ia cerita dengan orang tuanya tentang keinginan mereka berlima mengenai rencana pembangunan pondok baca, ayah Abduh mengusulkan untuk membantu membangun pondok baca dengan mempergunakan kayu-kayu yang ada di rumahnya. Satu dari 3 tukang yang bekerja di rumah Abduh pun akan dipekerjakan untuk membangun pondok baca.

Selama tiga hari melihat pekerjaan tukang adalah hal paling menyenangkan bagi mereka berlima. Begitu ditanya mau diwarnai warna apa pondok baca itu, mereka setuju ingin mewarnai dengan warna-warni seperti pelangi. Untuk urusan cat, mereka juga membantu mengecat. Hasilnya memang ada yang belepotan, tapi mereka senang dengan hasil karya mewarnai pondok baca.

Mereka berlima menatap bangga pondok baca yang ada di depan mata. Beberapa kali mereka gantian berfoto di pondok baca satu persatu. Sedangkan untuk mengabadikan gambar mereka berlima, mereka harus meminta bantuan Bik Inah. Alhasil mereka dapat mengabadikan foto berlima di depan pondok baca dengan hasil yang memuaskan.

“Sekarang saatnya memberitahu ke teman-teman blok lain kalau pondok bacaan kita udah bisa dikunjungi. Ayo kita sebarkan virus membaca!” Dea semangat mengepalkan tangan keatas dan bergegas mengemudikan sepedanya.

Baru mau engkolan pertama Dea kebingungan menatap keempat temannya.

“Memangnya ada apa?” Tanya Dea penasaran.

Keempat temannya tertawa geli sampai mata mereka berair sambil menunjuk Dea. Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan barusan.“Hei? Apanya yang lucu sih?”

Ria mengontrol tawanya, dan dengan sekuat tenaga ia mengatakan, “buku-bukunya saja belum kita masukkan ke pondok bacaan, Dea.”

Plok, Dea menepuk jidatnya seraya tertawa malu.

***

Pembaca yang baik hati, literasi kalbar menerima kiriman tulisan untuk disiarkan pada laman ini. Kirim tulisan Anda pada email kami dan panduan pengiriman tulisan di Kirim Tulisan.

Cerpen asriani pernah terbit di koran Pontianak Post pada Minggu, 29 September 2019.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post