Senin, 21 Oktober 2019

Cerpen | Pelet Borneo

author photo
Tenang Apai Tuai mendengar itu semua, hanya saja kolor kuning cap belalai gajah yang masih menjadi pikirannya, sebab belum sempat mengecek apakah kolor itu ada di dalam tas atau menghilang dicuri Denok sebagai barang untuk guna-guna.

cerpen literasi kalbar
pixabay

Cerpen : Khatijah

Di fase remaja, patah hati adalah hal yang biasa. Subuh ini entah untuk yang keberapa kali patah hati itu menyerang Denok lagi, hubungannya yang baru berjalan baik-baik saja sebelum berangkat KKN ke Desa Ujung Kulon berakhir seperti biasa pengkhianatan lagi yang ia dapati, laki-laki yang kemaren malam membuat ia merasa wanita paling beruntung sejagat raya, laki-laki yang membuat ia wanita paling cantik di antara bintang-bintang yang tak mau menjelma, laki-laki yang membuat ia merasa wanita paling bahagia se-Indonesia, kini memberikan luka yang tak bisa di terima oleh wanita manapun di dunia.

Kekasihnya itu tanpa kabar, tanpa alasan yang jelas tiba-tiba memposting foto bersama perempuan lain di bioskop. Bagi Denok malam itu adalah malam yang luar biasa sial ia alami, belum lagi temannya yang berisik menyesuaikan diri di tempat baru, di tambah suara anjing melolong seperti melihat hantu. “Kacau” Ujar  Denok.

Masih ditahannya sakit di dalam hati, belum api cemburu membakar sukma yang bergejolak memuntahkan kepedihan.

"Biarkan saja si jahanam itu bersenang-senang” batinnya.

Ia melanjutkan aktivitas sebagai mahasiswa yang baik, melaksanakan tugasnya di Desa Ujung Kulon dengan mengajar TK, piket posko, dan lain-lain.

Belum juga mendidih kemarahan yang di pendamnya sedari subuh. Hingga malam menjelang, rasa itu tak bisa lagi di tahan, jangkrik berteriak seakan-akan memanaskan semangat, suara kodok memanggil hujan memberikan sinyal pada langit, disini ada hati wanita yang sedang tersakiti.

Baca juga : Sajak Tasawuf Penyejuk Iman

Tak sabar ia menunggu penjelasan dari kekasihnya, namun tak juga datang pesan yang ditunggunya, pesan yang berisi mungkin hubungan dengan kekasihnya telah berakhir, atau yang diharapkan pesan yang berisi penjelasan bahwa si betina itu hanya keluarga dari si jahanam, ah tak berharap ia, sekali pengkhianat ya tetap pengkhianat teriak logikanya.

Hampir 12 jam, pesan dari kekasihnya tak datang juga. Ibarat balon jika ditiup selama 12 jam sebentar lagi akan meledak. Denok memutuskan untuk memaki si jahanam itu.

“Sajaaaa kampret, baru ditinggal bentar udah sama betinak baru nuan deh”

“Oay, mulut kau nih. Macam bukan orang yang sekolah di universitas agama” balas kekasihnya.

Jiwa masih sayang Denok melebur, patah semakin patah hatinya mendapat pesan itu. lalu memutuskan untuk minta maaf kepada kekasihnya, entah lelaki itu masih bisa disebut kekasih atau seorang penjahat hati, tak mengerti juga Denok.

“Maaf”, balas Denok.

Tak lagi ia mendapatkan balasan, Denok pun memutuskan bahwa hubungannya dengan lelaki itu sudah berakhir. Toh bukan sekali dua kali ini ia merasakan patah hati seperti itu, untuk apa lagi diperpanjang.

Pagi, seperti biasa Denok bangun melihat teman-temannya mulai siap-siap untuk mandi di sungai sebelum mengajar di sekolah masing-masing. Denok ingat bahwa hari ini ia ada janji dengan ketua adat dayak, Patih (Panggilan tetua untuk orang dayak) Stefanus . Tentu saja Denok tak menyia-nyiakan kesempatan itu setelah tujuh kali datang ke rumah patih tersebut dan tidak sama sekali menemukannya.

“Tuhan, memang baik. sedang patah hati, dan seakan memberi jalan untuk bertemu ketua adat itu” batin Denok.

Ia siap-siap, tak banyak waktu yang dibuangnya, tak seorang pun teman kkn diajaknya, ia ingin sendiri datang kesana, biar leluasa mendapat transfer ilmu dari patih.

Molor lima belas menit dari yang dijanjikan, karena Denok ke rumah patih berjalan kaki yang jarak dari posko membutuhkan waktu setengah jam. Belum lagi orang tua muridnya menegur, menanyakan ingin kemana, bujang-bujang desa yang menawarkan diri untuk mengantar ke tujuan Denok. Banyak sekali basa-basi di jalanan yang menghambat perjalanannya.

Baca Juga : Literasi Indonesia Memerlukan Perubahan

Rumah ketua adat itu tinggi, mungkin  tiga setengah meter dari tanah. Orang bilang, rumah di Ujung Kulon ini memang harus tinggi-tinggi sebab jika musim penghujan air akan pasang dan kadang meskipun sudah tinggi seperti itu air tetap masuk ke dalam rumah.

Denok membaca basmalah sebelum melangkahkan kaki ke anak tangga rumah patih. Sampai di teras rumah patih, pintu rumah terbuka, namun tak ada tanda kehidupan, seperti kalung biksu berukuran sangat besar yang tertempel di dinding ruang tamu rumah, menambah spesial tersendiri rumah ini.

“Urang dituk” (Ada orang disini) teriak Denok.

“Uyy, auk” (Iya) sahutan dari dalam. Tepat sekali yang keluar patih.

“Tamak meh” (Masuk) ujar patih melihat Denok.

“Minta ampun meh aku patih” (Maaf)

Denok masuk, dan bersalaman dengan patih. ia menceritakan keterlambatannya dari waktu perjanjian. Patih memaklumi.

Mereka lalu berbincang-bicang tentang pantang larang, sumpah adat, tradisi orang rumah panjang, hukum adat, serta pengobatan.

Puas sekali Denok mendapat apa yang ia inginkan. Setelah semuanya selesai dari awal hingga contoh mempraktikkan, Denok pamit pulang.

“Minta rela meh patih” (Terimakasih, Patih)

“Auuk, sama. lubah meh” (Iya, sama-sama. hati-hati ya).

**

Setelah itu Denok menjadi pendiam, dan sering bepergian sendirian. Tak tahu apa yang ia perbuat, tak tahu kemana tujuannya. Teman-teman kkn yang kadang ingin ikut bersama dilarangnya seperti ada sesuatu yang disembunyikan, ada sesuatu yang ia lakukan.

Pernah kepergok oleh temannya, tengah malam jumat Denok bangun komat-kamit di depan laptop yang dilayar foto kekasihnya, ia seperti membaca mantra, tapi air matanya terus mengalir seakan mengeluarkan semua kepedihan.

Ingin sekali temannya menegur tapi tak sanggup, jadi ia biarkan saja apa yang Denok lakukan, lagian ia berpikir Denok selalu memamerkan jargon yang menjadi prinsip hidupnya yaitu “Lakukan saja yang menurutmu baik”.  Tak ada alasan untuk mengatakan apa yang Denok lakukan tengah malam itu tak baik.

Keesokan harinya, wajah Denok berubah, seperti ada sesuatu yang salah. Denok terus-terusan berkaca, ketika di tegur ia bilang hanya sedikit perih pada pipi kanannya. Kadang juga ia ketakutan tak tahu apa penyebabnya, bahkan rasa ketakutan yang tak dapat disembunyikannya itu membuat ia menangis sesegukan. Teman-teman kkn hanya menunjukkan muka simpati, berbelasungkawa apa yang Denok alami, tak ada selain itu yang dapat mereka lakukan.

Hingga waktu perpisahan tiba, anak kkn itu harus segera kembali ke kampus. membawa tugas laporan apa saja yang mereka lakukan di Desa Ujung Kulon. Denok, tak bisa memungkiri bahwa pipinya semakin membengkak, mengalir sampai ke mata, memerah seakan-akan ingin meledak, ngeri teman-teman kkn melihatnya.

Salah satu temannya bertanya apa yang ia lakukan di rumah patih, bukankah kelakuan Denok berubah menjadi aneh, dan wajahnya membengkak setelah dari rumah patih. Denok berkelah, ia emosi ketika ditanya seperti itu, merasa di tuduh telah melakukan kejahatan sehingga dampak yang ia tanggung sekarang adalah balasan.

“Menurutmu, aku minta mantra pelet untuk jahanam itu?”

“Bukan, kan kami cuman mau tahu, sebelum pulang tak baik tinggalkan jejak tak bagus sini.”

“Ohh jadi menurut kau nih, aku udah tinggalkan kesan tak baik gitu keh? Dengkul!”

“Tadak pulak mikir sampe kesitu, kan ape salahnye selama masih di sinik kau cerite ape yang dah kau buat. biar nanti balik tak perlu nak betulkan bende yang tak betol. ini nih kampung orang jauh agik, mane gak tau kan.”

“Oaay kau nih, cam dukun yak aku liat, berape kali dah aku bilang ke kau, aku tak ngape-ngape. Tapi boleh gak pikiran kau ni kan, percume gak aku dapat ilmunye tapi tak aku gunekan. Haa nantilah aku praktikkan, kolor kau warne ape, kuning polos cap belalai gajah yang aku liat di jemuran belakang tuh keh. Baik-baik ye kau simpan kalo endak, kenak aku, kau!” Denok mengamuk, tak terima ia di tuduh oleh ketua kelompok kknnya di akhir rapat sebelum malam perpisahan.

Teman-teman yang lain hanya terdiam, ingin ikut mengeluarkan pendapat tak mampu nanti Denok seakan-akan di sudutkan pikir yang lain, lelah mereka menahan tawa mendengar kolor kuning cap belalai gajah.

Malam perpisahan warga menangisi anak kkn, maaf mereka tuturkan, dan semua unek-unek yang belum berani mereka ungkapkan ketika menjalankan tugas di desa ini. Hanya Denok yang terdiam memperhatikan sandiwara itu, apalagi mendengar teman-teman kknnya bilang bahwa mereka ingin lebih lama tinggal di Desa Ujung Kulon, sebab keramahan warga yang tak dapat mereka temukan di pertengahan kota, muak Denok mendengar basa-basi yang di haturkan oleh Apai Tuai (ketua kelompok) kknnya.

Denok mengambil kaca, melihat wajah, semakin membengkak pipinya, semakin memerah di bagian mata. Tak habis pikir dia kenapa bisa seperti itu, ia lupa sesuatu di lapangan yang ramai itu, tak di lihatnya patih, sangat lupa Denok bahwa patih tak di jemput, menyesal sekali ia, tidak mungkin untuk menjemputnya sekarang sebab acara hampir selesai. Sudahlah pikirnya mau digimanakan lagi, besok mau pamit tidak mungkin sebab jemputan sangat pagi sekali.

Baca Juga : Cinta di Ujung Senja

**

Diperjalanan pulang, wajah Denok semakin memprihatinkan. teman-teman kknnya tidak tahu harus berbuat apa, dan bagaimana. Denok hanya main handphone tak peduli ia, dengan wajah teman-teman kkn yang memelas merasa kasihan, juga takut.

“Yees akhirnya, kan putus kau, jahanam sih jadi jantan. tak gune, abess kauu” pekik Denok tiba-tiba membangunkan orang-orang di Bus, disamping kanan, depan, belakang, dan semua yang bisa melihat dia menoleh serempak.

Kesal melihat kelakuan Denok, teman-teman kknnya ber-istigfar.

“Ape Nok?” tanya ketua kelompok

“Jantan aku yang gatal itu, putus same si betinaknye. Miang sih. Dah kukate tak lamak bah bende itu” jawab Denok masih melihat kabar dari teman mantan kekasihnya

“Kok bise?” usut Pak Ketue Kelompok.

Denok terdiam, ia tahu pasti, apa maksud dari pertanyaan Apai Tuai.

Dalam hati Denok berkata “Oh jadi aku nih masih dituduhnye main pelet same patih. Ok Apai Tuai, kenak gak kau ni ye”.

“Haa biselah, tak kau liat ke muke aku dah bengkak ni jadi timbal balik, kau nih apai tuai tak tahu ke setiap perbuatan tuh ade balasan e. Mane ade yang percume, haa kau siap-siap jak. Nak cobe ke? boleh, kolor kau yang kuning polos cap belalai gajah tu kan? udah kau cek belom, ade dak kau masukkan dalam tas kau tuh” jawab Denok.

Ia sangat puas melihat ketua kelompoknya diam, pucat bias. Mungkin pikirannya kembali ke ucapan Denok, memikirkan kolornya sudah masuk tas atau belum.
Denok menyeringai melihat Apai Tuai terdiam, puas.

**

Sesampai di kota, Denok yang tak lagi sadarkan diri langsung dibawa ke rumah sakit oleh dosennya, wajahnya semakin membengkak, ia pingsan sebelum turun bus. Entah karena terlalu capek atau memang efek dari wajahnya yang bengkak.

Denok langsung diperiksa oleh dokter, hampir 24 jam Denok tak sadarkan diri, ia terbaring lemah di rumah sakit. Teman kkn menghubungi kekasihnya, dan kekasihnya datang menjenguk Denok, memelas meminta maaf, tak peduli Denok dengar atau tidak, tak peduli juga ia dilihat oleh teman-teman Denok.

Apai Tuai, semakin takut melihat kekasih Denok yang datang memelas minta maaf, pikirannya semakin jauh terbang, dan ia membenarkan bahwa Denok memang main pelet ketika ke rumah patih sendirian waktu itu.

Baca juga : Peran Penting Orang Tua Tumbuhkan Minat Baca Anak

Tiba-tiba Denok terbangun, dilihatnya mantan kekasihnya itu tersenyum di depannya dalam hati Denok berkata “Ah fuck, ape buat jahanam ini disinik ni” ingin sekali ia mengeluarkan sumpah serapah, tapi ditelannya kembali ketika ia melihat Apai Tuai yang memasang muka tegang. Denok tahu sekali apa yang ada dipikiran Apai Tuai.

“Eh Apai Tuai” sapa Denok, nyengir. Main mata memberi kode apa yang dilihat Apai Tuai sekarang.

Apai Tuai terpaksa senyum melihat itu.

“Kau udah di cek oleh dokter Denok, tapi hasilnye belum keluar. Sabar ye, tak ade ape-ape bah. Muke kaupun udah agak kempis” ujar Apai Tuai, mengalihkan pembicaraan yang tak ingin ia bahas bersama Denok, ia takut Denok nekat, karena mengetahui pelet yang patih berikan sangat manjur, buktinya kekasih Denok kembali lagi kepadanya.

“Oh iye ke, tenang jak Apai Tuai e. Aku tak ngape-ngape bah, taulah kau efeknye jak dikit nih, kan dah aku kate ade imbalannye bah” jawab Denok sembari menaikkan alisnya.

“Cemane kalo aku tanya dokter ye, mungkin udah keluar bah kali hasilnye kan?” Apai Tuai beranjak meninggalkan Denok.

Setelah Apai Tuai beranjak dan keluar dari ruangan Denok, Denok tertawa merasa tergelitik ia melihat tingkah Apai Tuai yang semakin membenarkan pikirannya. Tapi dengan seketika muak sebab melihat mantan kekasihnya tersenyum di depannya, ingin sekali ia meludah ke wajah jantan yang telah mengkhianatinya, tak tega tapi ia. Denok tak mau mendengar penjelasan dari lelaki itu, ia tak ingin melihat wajah lelaki yang telah menyakitinya. lelaki itu keluar, membawa muka penyesalan.

Apai Tuai di ruangan dokter dengan saksama mendengar penuturan dokter, tentang apa yang dialami Denok itu bukan karena pelet atau ilmu gaib, apalagi yang dipikirkan Apai Tuai bahwa si Denok main pelet borneo. Ia hanya mengalami pembengkakan di gusi, hingga ke mata karena mengenai saraf.

Tenang Apai Tuai mendengar itu semua, hanya saja kolor kuning cap belalai gajah yang masih menjadi pikirannya, sebab belum sempat mengecek apakah kolor itu ada di dalam tas atau menghilang di curi Denok sebagai barang untuk guna-guna.

Ah pikir Apai Tuai, bukankah untuk menghindari ia juga dapatkan dari patih, hanya dengan mengunakan kolor terbalik maka pelet itu akan berbalik.

“Tenang saja, aku hanya perlu membalik kolor setiap mau memakainya. untuk seminggu, sebulan, setahun, bahkan untuk selamanya” ucap Apai Tuai dalam hati.

Pontianak, 30 September 2019

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post