-->

Senin, 05 Oktober 2020

Sajak-Sajak Rahmat Rahman dan Orkestra Sang Raja

author photo

Sajak-Sajak Rahmat Rahman dan Orkestra Sang Raja mengajak pembaca untuk memikirkan hal yang kecil dan sederhana. Pembaca diberikan gambaran mengenai kehidupan ini. 


Akan ada waktu saat semesta merestui

Dimana titik temu akan di rindu

Canda tawa dan cerita menjadi candu

Itulah yang sering membuat cemburu


Sajak Rahmat Rahman Pic Pixabay
Puisi rahman rahmat pic pixabay


Orkestra Sang Raja


Bahwa,

Yang hidup akan mati pada ketentuannya.

Petikan-petikan gitar pada sore, masih terngiang indah dalam degub.

Semerbak mawar akan tetap indah meski tanpa melati, duri akan tetap tajam, serbuk sari jatuh di kepala putik dan tibalah musim gugur.


Segala rezim akan beralih, meski dengan kau atau tanpa aku sekalipun.

Seketika hasrat tumbang tanpa di timbang

Menikam bak pedang Zulfiqar

Tercengang dalam diam

Menangis dalam tawa

Meronta pada nurani jiwa

Ohhh.. sukmaku semoga kelak kembali waras


Oeee… Baginda raja

Adakah yang lebih indah dari semesta

Adakah yang lebih jantan dari seorang kesatria

Adakah yang lebih mengerikan dari malapetaka

Adakah yang lebih menggetarkan dari perang


Kini telah musnah seluruhnya,

Pada orkestra raja dan ratu semalam,

Aku bersandar pada pundak bathara kala


Kelak, jika segalanya binasa di telan bencana, semoga dunia masih sudi mengenang,

Sajak-sajakku masih berkumandang

Semoga tetap abadi dan masih berjiwa.. dalam sukma.

Watansoppeng 07 februril 2018


***


Sesal


Bagai mana cara meminta maaf

Pada jiwa yang pernah aku telantarkan ini?

Sepertinya luka yang pernah aku torehkan

Menjadikannya binasa


Ketika hati yang sudah terlanjur jatuh

Dan mengakar di peraduan bumi


Apalah daya air yang keru takkan bisa

Begitu saja menjadi bening.


Ditinggal dan meninggalkan

Memang sudah menjadi janji tulus

Yang tak dapat di ingkari

saat memilih untuk jatuh hati


Namu kata hanyalah khiasan

Dalam makna puisi yang tak mampu di jabarkan

Ucapan hanyalah penenang

Saat ada yang harus di korbankan


Jika kini meminta maaf

Sudah menjadi sebuah keharusan

Lantas kalimat apa yang mesti di ucapkan oleh penulis yang sudah menelantarkannya ini?

Watansoppeng 23 april 2018


***


Tanda Tanya


Ada hal yang membuatku tersenyum dan tertawa

Hingga rasa ini, ingin selalu berkelana

Tanpa sesuatu yang membuat derita

Sungguh membuatku bertanya-tanya


Ketika sesuatu yang di suka tak lagi sama

Tapi itu ada tertanam dan menjadi dokma

Sungguh pertanyaanku bak aksara

Tidak pasti, tapi benar nyata


Semesta memang tak buta

Benar selalu ada, untuk rasa yang pernah membuat derita

Hingga membantu menata kembali, karsa yang telah tiada

Waktu memang benar fanah


Akan ada waktu saat semesta merestui

Dimana titik temu akan di rindu

Canda tawa dan cerita menjadi candu

Itulah yang sering membuat cemburu


Dan kilometer menjadi tolak ukurnya

Untuk sebuah kata kita, untuk menjaga cinta saat nantinya benar berjumpa

Dengan DIA yang masih di simpan dan entah dimana


Tanda tanya selalu membawa doa

Sampai raga bergerak dengan sendirinya

Semoga esok benar berjumpa

Tanpa terkecuali dengan niatan yang tak terhingga.

watansoppeng 17 desember 2019


***


Jebakan Malam


Duduk dengan kaki tak sejajar tak beralas

Gelap semakin merayap senyap, waktu malam menjebakku, knapa aku ini?

Nyaman bagai dekapan peluk sang ibu yang membuat haru.

Apakah ini yang dinamakan rindu.


Untuk apa raga ini terdiam, dan lidah masih sulit untuk menyampaikan.

sulit memang jika hanya tersimpan

Tak ada gerakan dan penyampaian.


Benar, ku merindu sebuh senyuman

Yang membungkam sebuah perasaan tanpa hayalan.

Tatapan tajam dari perasaan, tawa khas kesetian.


Momok khawatir menjadi fikiran

Tak lepas telah membawa imajinasi

Untuk sebuh coretan miring untuk memberi pesan.


Ini yang kutakutkan, terbayang-bayang dan takut

Akan ketidak percayaan diri.

yang sebenarnya menuntun kearah sebuah kesederhanaan.


Terimkasih untukmu yang telah membuat rindu

Dalam siklus proses yang harum

Merbat halus merasuk nadia jiwa

Semoga nanti benar kuterima dan menikmati

Kata kita untuk menikmati sederhana berbahgia bersama.

-Watansoppeng 25 November 2019


***


Gubukku


Lama sudah ku jalani perjalanan ini sendiri

Dalam detak waktu dan keabadian

Yang membuatku terjatuh dalam ilusi

Semua hal yang dinamakan kebahagian


Entah sudah berapa lama waktu

Menjadi sedemikian berat untuk di lalui

Dimana hanya ada remuk yang membiru

Untuk serpihan masa lalu yang masih berarti


Lembar demi lembar cerita

Sengaja ku sisihkan dan ku simpan rapi

Berharap suatu saat akan ada alasan

Untuk kemudian membakarnya dalam nyala api


Aku masih tetap disini

Menunggu di gubuk stenga jadi ini

Tak akan kemana-mana lagi

Hanya melewati untaian waktu demi waktu


Hingga akhirnya aku harus beranjak

Ketika engkau telah tiba dan memaksaku terbangun

Menghilangkan segala lelap dan membuatku bergerak

Untuk melindungimu dan iringimu mengangkasa

Umpungeng 18 maret 2020


***


Kata Sempurna dan Diksi Manis


Saban hari di suatu puncak

Katanya sedang menyusui sendu

kurangkai kata paling sempurna, 

kupilihkan diksi paling manis 

agar semesta tahu kau istimewa, 

Ijinkan aku kembali menyapamu

Yang berada di sebrang sana

Bercerita tentang sebuah nuansa kenestapaan hidup


Tiadak kah kau melupakan satu hal 

Bahwa aku mengetuk pintu hatimu

Dengan kesederhanaan

Yang tak menjanjikan kemesraan setiap hari


Tapi apa?

Jika syarat untuk memilikimu adalah memahami sebauh ayat tentang mengajarkan cinta dalam al-quran. maaf aku tak bisa,  sebab tidak satupun ayat dalam al-quran tidak mengajarkan tentang cinta.


Ketahuilah ada kata ""pada tulisan ini

Berharap kau tetap sebagai fakta

Bukan sebagai dongeng yang hanya indah

Mengiringi ninabobo

sebab kata terimakasih takkan muat

Di setiap titik- titik tinta ini

Perihal dari setiap senyummu

Mampu mencipta kata-kata dewasa

Menjadikannya damai

Maka aku putuskan menjadikanmu pengalaman hidup.

Umpungeng 29 Agustus 2020


***


Rahmat Rahman, Mahasiswa dan seorang Petani kopi, Desa umpungeng, Sulawesi selatan, suatu desa yang terletak di ketinggian 1200 Mdpl


Laman Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi  & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com

Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan


This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post