Selasa, 09 Januari 2018

Indonesia Tidak Kekurangan Penulis, tetapi Kekurangan Minat Menulis

author photo


 
 “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa– suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” – Seno Gumira Ajidarma.

Benarkah Indonesia masih kekurangan penulis? Menurut saya tidak, karena setiap orang bisa menjadi penulis. Pasti banyak sekali orang yang berbakat dalam menulis. 
 
Indonesia Tidak Kekurangan Penulis, tetapi Kekurangan Minat Menulis
pixabay.com

Namun, mengapa Indonesia masih saja dikatakan kekurangan penulis? Karena orang-orang tidak percaya diri untuk menulis. Sebagian besar yang lain merasa malas untuk menulis, malas untuk menuangkan pikiran mereka dalam bentuk tulisan, bahkan malas untuk mengekspresikan diri mereka melalui tulisan-tulisan yang positif. Itulah alasan mengapa Indonesia masih dapat dikatakan kekurangan penulis. 

Berdasarkan data yang dilansir dari laman liputan6.com, Indonesia mencatat ada 18.000 judul buku pertahun yang artinya hanya 72 judul buku persatu juta penduduk. 

Baca Juga:

Mencekoki Literasi Lebih Dini


Jumlah yang sangat kecil apalagi jika dibandingkan dengan Inggris yang tercatat telah merilis 184.000 judul buku yang setara dengan 2.875 judul buku persatu juta penduduk.  

Laporan ini disusun berdasarkan data yang diberikan oleh asosiasi penerbit nasional, perpustakaan nasional dan badan-badan nasional ISBN, dan tidak termasuk judul yang diterbitkan secara mandiri. 

Jika dilihat dari segi jumlah penduduk, Indonesia sangat jauh tertinggal. Jumlah judul buku yang dirilis pertahunnya sangat sedikit, padahal ada sekitar 261 juta jiwa penduduk Indonesia. Lalu kemanakah penduduk Indonesia lainnya?  

Sebagian besar dari mereka pasti seringkali berpikir bahwa mereka tidak memiliki bakat untuk menulis, sehingga mengakibatkan mereka jadi malas untuk menulis. Padahal semua orang bisa menulis. 

Baca Juga:

Membaca Berita Hoax Lebih Menarik daripada Membaca Buku, Mengapa?


Mulai dari menulis hal-hal kecil, pengalaman, dan kejadian menarik yang dialami setiap harinya. Jika hal-hal kecil tersebut ditulis dan dikemas dalam suatu bentuk tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain, bisa saja tulisan tersebut dapat menginspirasi orang lain. 

Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri. Sudah sejauh mana kita menulis? Sudah seberapa banyak tulisan yang kita tulis sendiri? Mungkin jika diberikan pertanyaan seperti ini, sebagian besar dari kita akan menjawab “lumayan, biasanya nulis untuk tugas aja sih”. 

Tapi, yakinkah keseluruhan dari tulisan kita itu benar-benar dari hasil pemikiran kita? Mungkin tidak. Karena kita sudah terbiasa dengan budaya meniru atau yang biasa disebut dengan plagiat. 

Budaya ini biasanya muncul karena adanya keinginan untuk selalu mendapatkan hasil yang instan karena tidak ingin bersusah payah untuk berpikir. Akibat merasa terlalu nyaman dengan hasil yang instan inilah yang membuat kita terbiasa untuk meniru (plagiat). 

Padahal jika kita mencoba untuk menulis sendiri, kita dapat menuangkan pikiran kita, dapat mengekspresikan diri kita dan yang terpenting adalah kita dapat membangun kreativitas kita. 

Baca Juga:

Media dan Wadah Literasi Zaman Now


Semakin sering kita menuangkan apa yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan yang positif, maka kualitas tulisan kita juga akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Tulisan kita bisa saja bermanfaat dan menginspirasi orang lain yang membacanya. 

Oleh karena itu, mulai sekarang marilah kita memotivasi diri untuk gemar menulis. Mari kita buktikan kepada dunia bahwa Indonesia tidak kekurangan penulis. 

Buktikan bahwa Indonesia memiliki banyak penulis yang berbakat dan bisa memajukan Indonesia dengan tulisannya yang dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi banyak orang. 

Jangan pernah lagi merasa malas atau tidak percaya diri untuk menulis. Ingatlah kutipan dari Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

This post have 2 komentar

avatar
Unknown delete 9 Januari 2018 21.44

👍
Opini saya kapan terbit? 😁

Reply
avatar
Unknown delete 10 Januari 2018 18.10

Saya masih setia menunggu opini saya diterbitkan :')

Reply


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post