-->

Jumat, 29 Juli 2022

Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok

author photo

oleh Mujib


Buku ini menyajikan isi materi yang berkaitan erat dengan realita kehidupan, terutama kehidupan manusia-manusia Dayak yang hidup dalam peradaban modern ini. Adanya suatu analisa yang sangat berkaitan dengan fakta di lapangan, bukan untaian kata-kata yang tanpa makna.

 

Literasi Kalbar

Literasikalbar.com - Berbicara tentang bumi Kalimantan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang mendiami Pulau Borneo ini, yakni masyarakat Suku Dayak. Suku Dayak adalah pribumi yang mendiami Pulau Kalimantan sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Sejarah mencatat nenek moyang Dayak berasal dari Daratan Cina yang bermigrasi secara besar-besaran. Gerakan migrasi ini sekitar tahun 3000-1500 sebelum masehi. Secara pasti catatan sejarah menyebutkan para imigran itu berasal dari Provinsi Yunan, Cina Selatan itu dalam kelompok-kelompok kecil.


Para imigran gelombang pertama yang memasuki Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid atau lazim disebut Proto Melayu. Sedangkan migran gelombang kedua dalam jumlah yang lebih besar disebut Deutro Melayu yang kemudian menghuni wilayah pantai Kalimantan dan kini dikenal sebagi Suku Melayu.


Kelompok Proto Melayu dan Deutro Melayu pada hakikatnya berasal dari negeri yang sama. Perbedaan yang ada, merupakan akibat dari akulturasi kedua belah pihak dengan suku-suku lain yang ada di Indonesia, selain dipengaruhi pula dengan agama. Untuk itu muncul pula istilah Dayak dan Haloq (sebutan untuk suku lain yang beragama Islam), merupakan penegasan istilah yang yang bermakna sosio religius semata.


Baca Juga: Budaya Baca Tulis di Zaman Milenial


Istilah “Dayak” sendiri rupanya sangat kompleks, dalam berbagai literatur terdapat keberagaman sebutan untuk penduduk asli Pulau Borneo ini. Di sini penulis hanya memberikan empat sebutan, yakni; Daya’, Dyak, Daya dan Dayak. Sebenarnya tidak ada kepastian yag jelas mengenai istilah Dayak untuk menyebut manusia yang mendiami Pulau Borneo, mereka lebih mengenal dirinya sendiri sebagai Iban, Ot Danum, Kenyah, Punan, Ngaju, Ma’anyan, Bahau, Dusun, Siang dan lainnya. Sebutan-sebutan itu berdasarkan nama stammenras atau tempat tinggal dari masing-masing kelompok.


Menurut staf peneliti dari Institute of Dayakology Research and Development (IDRD) Pontianak, keberagaman penyebutan itu merupakan indikasi tentang kekaburan sebuah identitas dari penghuni asli Pulau Kalimantan ini. Terlepas dari semuanya itu, yang jelas istilah Dayak merupakan nama kolektif untuk berbagai penduduk pribumi Kalimantan yang tidak memeluk agama Islam.


Falsafah hidup manusia Dayak yang menjadi akar dari eksistensi keberadaannya adalah falsafah hidup Rumah Panjang (Betang). Nilai hidup Rumah Betang menjadi hal yang mendasar bagi kehidupan manusia Dayak. Ciri khas Rumah Panjang adalah aspek komunal atau hidup bersama dari seluruh masyarakat Dayak dalam suatu wilayah atau daerah. Di semua masyarakarat Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan dapat dipastikan kehidupan Rumah Panjang, meskipun di zaman sekarang eksistensi Rumah Panjang perlahan-lahan tergerus oleh modernisasi.


Baca Juga: Sajak-Sajak Ardhi Ridwansyah dan Pemetik Gitar


Cara hidup komunal turun-temurun pada masyarakat Dayak, terbukti mendukung proses pengukuhan tradisi kebersamaan, sebab cikal-bakal terbangunnya sebuah Rumah Panjang berpangkal dari satu keluarga. Kemudian beranak-pinak secara turun-temurun dan terus menerus menghuni rumah panjang. Secara alamiah masyarakat yang hidup dalam rumah panjang sulit terpisahkan, terutama oleh faktor adat, darah, kepercayaan dan mata pencaharian.


Rumah panjang bagi masyarakat Dayak tidak saja menjadi ungkapan historis legendaris kehidupan leluhur melainkan juga suatu pernyataan secara utuh dan nyata tentang tata aturan adat, organisasi sosial, dan sistem kemasyarakatan sehingga menjadi titik sentral dinamika kehidupan warganya. Sistem nilai budaya yang dihasilkan dari proses kehidupan rumah panjang, menyangkut soal makna dari hidup manusia Dayak, makna pekerjaannya, karya, persepsi mengenai waktu, dan hubungannya dengan alam tempat tinggal. Di sisi lain kehidupan di rumah panjang menjamin keberlangsungan hubungan-hubungan kekuasaan di kalangan masyarakat Dayak setempat.


Satu hal lagi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia Dayak adalah berkaitan dengan relasinya dengan alam sekitar, dalam hal ini adalah hutan. Masyarakat Dayak menyatakan bahwa hutan adalah milik mereka yang paling berharga. Antara mereka dengan hutan telah terpadu sedemikian rupa dan menyejarah. Manusia Dayak terus berusaha menjaga dan mempertahankan ekosistem karena dari situlah mereka turun-temurun hidup sejak masa lalu, masa kini, dan masa depan.


Baca Juga: Membaca Berita Hoax Lebih Menarik daripada Membaca Buku, Mengapa?


Dari persentuhan yang mendalam masyarakat Dayak dengan hutan melahirkan sistem perladangan yang dinamakan sistem ladang berpindah. Ladang berpindah sebuah model kearifan tradisional dalam pengelolaan sumber daya hutan yang bersumber pada hukum adat. Sistem ini menjadi salah satu ciri pokok kebudayaan Dayak.


Manusia Dayak menjadi gambaran atau teladan yang baik yang patut ditiru dalam usaha pelestarian lingkungan hidup. Masyarakat Dayak dapat dikatakan “pelestari tulen” dengan sistem ladang berpindah mereka berusaha memaksimalkan fungsi hutan dengan baik. Apabila suatu area hutan sudah dijadikan tempat berladang maka mereka tidak akan menggarap lagi area itu dalam jangka waktu yang relatif lama (kira-kira 10-20 tahun). Dengan demikian alam dibiarkan untuk memulihkan dirinya, ataupun oleh orang Dayak ditanami dengan pohon buah-buahan. Mereka mengambil tidak berlebihan dari apa yang diperlukan hari ini.


Masyarakat Dayak sadar di mana semua keperluan sudah diberikan kepada mereka secara melimpah oleh Hatalla (Pencipta) melalui “Indu” (ibu bumi) untuk anak-anak (manusia). Pada hakikatnya Suku Dayak memiliki persepsi holistik terhadap hutan, bagi mereka hutan tidak semata bermakna ekonomis, melainkan juga sosio budaya-religius. Juga bukan hanya semata-mata berisi aneka ragam tetumbuhan dan hewan, melainkan mereka sendiri merupakan bagian hutan yang tak terpisahkan.


Wawasan yang holistik ini membuat masyarakat Dayak tidak melakukan pemilahan antara manusia denga alam sekitarnya, malah keduanya memiliki “kekuatan dan kekuasaan” yang saling mendukung untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Alam pikiran seperti itulah dalam kehidupan sehari-hari terukir jelas dalam praktek tradisi dan upacara adat, termasuk pula dalam perilaku mereka dalam mengelola sumber daya hutan.


Baca Juga: Cerpen Resign karya E. Widiantoro


Suatu hal yang tidak dapat disangkal bahwa masyarakat Dayak saat ini telah “mewujud” sebagai kelompok kehidupn yang berada dalam proses perubahan. Kecenderungan masyarakat Dayak yang tertutup pada hal yang dari luar pada masa lampau, kini telah bergeser pada arah sikap terbuka atau tren untuk berubah. Mereka bukan lagi kokoh, sebagai masyarakat yang lebur menyatu dengan alam selaku kaum petani ladang yang berpegang teguh pada tradisi dan tata aturan adat.


Mereka kini telah hadir sebagai masyarakat yang terbuka pada gejala modernitas. Gejala modernitas pada masyarakat Dayak secara langsung menyentuh pada transformasi budaya. Proses transformasi budaya pada suku Dayak kini sedang berlangsung. Modernisasi yang diwujudkan melalui kebijakan dan program pembangunan di berbagai aspek kehidupan.


Proses transformasi budaya ini akan memunculkan dua kemungkinan. Pertama, masyarakat Dayak akan menemukan identitas kebudayaanya yang baru. Kedua, justru sebaliknya suku Dayak akan kehilangan identitas ke-dayak-kannya. Kebudayaan Dayak pada hakekatnya ditandai dengan perwujudan kebudayaan material dan spiritual, terbukti adanya keterpaduan yang erat, antara sikap religius dan sikap sosial. Hal inilah yang menumbuhkan solidaritas guna menjaga keutuhan dan keharmonisan komunitas dari sub-sub etnis Dayak.


Namun, dalam konsep pembangunan berwawasan kebudayaan, tatanan hidup, dan perilaku bermuara dari kebudayaan Dayak perlu diadakan perubahan. Pembaruan budaya adalah sarana menuju semuanya itu. Dengan kata lain, proses transformasi budaya akan membawa perubahan pada masyarakat Dayak. Malahan perubahan itu tak terelakkan.


Baca Juga: Pelet Borneo


Dewasa ini, kebudayaan Dayak sudah go public. Hal itu dimungkinkan karena pemilik kebudayaan, yakni manusia Dayak telah bersinggungan langsung dengan kebudayaan dan nilai-nilai dari luar. Dalam proses pertemuan antar budaya tersebut, terdapat suatu fenomena yang menarik. Manusia Dayak mengalami culture shock yang membawa mereka terperosok dalam kubangan modernitas, dengan kata lain masuk ke dalam kebudayaan tiruan.


Buku ini menyajikan isi materi yang berkaitan erat dengan realita kehidupan, terutama kehidupan manusia-manusia Dayak yang hidup dalam peradaban modern ini. Adanya suatu analisa yang sangat berkaitan dengan fakta di lapangan, bukan untaian kata-kata yang tanpa makna.


Cover buku ini sangat berkaitan atau sesuai dari keseluruhan isi buku, yang menggambarkan wajah manusia Dayak seperti bingung di terpa badai peradaban modern. Selain itu, referensi buku yang sangat kuat, tetapi saya melihat penulis tidak terlalu terpaku pada referensi karena menurutnya pengamatan dan konteks lapangan yang penting.


Sayangnya dalam buku ini menggunakan bahasa yang agak sulit dipahami. Buku ini terkhusus untuk kaum intelektual, pecinta alam, aktivis sosial kemasyarakatan dan pemerhati budaya. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat biasa yang ingin membaca buku ini sebagai sebuah refleksi fenomena realitas masyarakat Dayak dalam menghadapi zaman. Maka dari itu alangkah baiknya kalau bahasa dalam buku ini ditampilkan secara sederhana agar dapat dimengerti oleh semua kalangan.


Saya secara pribadi menilai baik terhadap buku Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok. Buku ini sangat jelas dalam memberi gambaran atau menjelaskan kepada saya bagaimana masyarakat Dayak terperangkap dalam peradaban modernitas dan bagaimana mereka berusaha dari perangkap itu. Terlebih karena saya adalah anak Dayak. Sebagai generasi muda Dayak saya sangat prihatin dan terpanggil untuk memajukan suku saya. Saya tidak mau manusia-manusia Dayak selalu terkungkung di dalam ketidakpastian hidup. Manusia Dayak harus bangkit dari ketertinggalan itu tanpa harus meninggalkan nilai-nilai kearifan lokalnya. Manusia Dayak harus senantiasa menghidupi nilai-nilai luhur warisan nenek moyang karena hanya dengan begitulah eksistensi ke-dayak-kan manusia Dayak akan selalu hidup tak lekang oleh waktu.


Buku ini sejatinya dapat dan sangat perlu oleh semua kalangan masyarakat. Buku ini masih sangat aktual dalam kehidupan terkait masalah gejala modenitas dan dampaknya yang sebenarnya tidak hanya dialami masyarakat Dayak, tetapi seluruh masyarakat adat di seluruh Nusantara ini. Maka sangat cocok sebagai bahan bacaan, refleksi, dan referensi yang baik dan pembelajaran. Kalau dapat diberi penilaian dari angka 1-10, maka saya memberi angka 9.


Profil penulis buku bernama Roedy Haryo Widjono AMZ merupakan seorang yang lahir di Solo, Jawa Tengah, 5 Juli 1958. Sejak usai mengikuti studi Comprehensive Development Training selama satu tahun diselenggarakan Yayasan Esti Mulia Jakarta (1080), ia menetapkan pilihan untuk menjadi aktivitis organisasi nonprofit (ornop). Awal tahun 1981, ia mulai bekerja di Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Samarinda dan tinggal di Tering, Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, sebuah desa kecil di pedalaman Mahakam, sebagai aktivis lapangan hingga tahun 1986.


Baca Juga: Indonesia Tidak Kekurangan Penulis, tetapi Kekurangan Minat Menulis


Menikah tahun 1984 dengan Yuliana Skolastika Karnella, putri Dayak Benuaq dan dikaruniai dua putra: Feliks Galih Layun Restumitra dan Andreas Sukma Rawayan Mahardika. Di pertengahan tahun 1986, ia pindah ke Samarinda hingga kini.


Sebagai aktivis ornop ia aktif menulis artikel yang dipublikasikan di beberapa media, juga aktif menulis makalah yang dipresentasikan dalam berbagai kesempatan. Buku kumpulan sajak berjudul Lelaki Penunggang Gelombang diterbitkan PT Pustaka Sastra Jakarta (1997). Dalam kapasitasnya sebagai koresponden Majalah Mingguan Hidup dan Union of Catholic Indonesia News (Ucindonews), ia aktif menulis tentang persoalan-persoalan masyarakat di Kalimantan Timur.


Di samping bekerja Sekretaris Komisi PSE Keuskupan Samarinda, ia juga aktif di beberapa ornop di Samarinda, antara lain Ketua Pengarah Konsorsium Sistem Hutan Kerakyatan Kalimantan Timur, anggota Forum Aksi Solidaritas untk Masyarakat Adat Dayak, anggota jaringan Gender Kalimatan Timur, anggota Konsorsium Pembaruan Agraria dan Direktur Lembaga Bina Benua Puti Jaji (Institute for Community Legal Resources Empowerment).


Identitas Buku

Judul                           : Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok

Pengarang                   : Roedy Haryo Widjono AMZ

Penerbit                       : Grasindo, Jakarta

Tahun Cetakan            : 1998

Jumlah Halaman          : 152 halaman


Gerakan literasi

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post