Selasa, 19 Maret 2019

Proses Kreatif Sastrawan AA Navis dalam Menulis

author photo
Proses kreatif sastrawan A.A navis dalam menulis karya cukup menarik untuk diketahui calon penulis. Proses kreatif yang memberitahukan pembaca bahwa membuat karya mengalami proses yang bertahap dan terkadang rumit. Calon penulis dan penulis pemula mesti membaca proses yang telah dilewati sastrawan ternama, seperti AA Navis. Berikut proses kreatif AA Navis dalam mengarang yang bersumber dari buku Proses Kreatif : Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang.

Proses Penciptaan AA Navis


Bagi saya menulis tidaklah begitu mudah. Mungkin karena hal-hal berikut.

1. Bahasa Indonesia saya tidak lancar. Mungkin karena saya tidak banyak bergaul dengan orang-orang yang memakai bahasa Indonesia. Sehingga ketika saya menulis, saya berpikir dalam struktur bahasa Minangkabau, lalu menuliskannya ke bahasa Indonesia.

Proses kreatif sastrawan AA navis

Kesulitan utama ialah dalam menulis dialog para pelaku cerita. Kalau menulis dengan bahasa Indonesia yang baku, maka terasa tidak enak gaya bahasanya. Kalau ditulis dalam bahasa sehari-hari yang lincah, lalu saya harus memakai bahasa Indonesia yang mana?

2. Di sekolah saya, di INS Kayutanam, di mana saya belajar selama 11 tahun, kami tidak diberi pelajaran bagaimana mengungkapkan pikiran yang tepat dengan bahasa yang baik. Sebab kami lebih banyak diberi pelajaran kreatif melalui tangan, bukan melalui mulut atau melalui tulisan.

3. Saya tidak mempunyai pengalaman hidup yang penuh avontur, yang aneh-aneh, sehingga saya tidak mempunyai bahan yang luar biasa untuk diberitakan kembali dalam ciptaan-ciptaan saya.

Dalam memproses naskah yang saya tulis, jadinya saya selalu tersandung dalam menggunakan bahasa. Sehingga setiap naskah senantiasa mengalami beberapa kali pengulangan, setidak-tidaknya empat kali pengulangan.

Yang menjengkelkan pula kadang-kadang setiap pengulangan selalu mengubah cerita itu sendiri. Setiap pengulangan naskah itu, saya memerlukan waktu yang cukup lama pula. Saya menunggu beberapa waktu, sehingga di waktu saya membacanya kembali, seolah-olah saya tengah membaca cerita orang lain dan bukan karya saya.

Cara demikian sesungguhnya menguntungkan, karena saya akan dapat lebih teliti mengoreksi dan memperbaiki kembali naskah tersebut sebelum dikirim ke penerbit atau majalah.

Malah kadang-kadang setelah cerita itu diterbitkan oleh salah satu majalah, saya masih mengoreksinya bila cerita itu akan diterbitkan dalam bentuk buku. Malah sering pula terjadi, pada cetakan ulang buku tersebut, sekali lagi saya melakukan koreksi. Koreksi-koreksi itu terasa dalam bahasanya.

Baca Juga: Bunuh Diri Saat Membaca Buku

Dalam menghayati atau memahami sendiri apakah cerita itu sudah baik atau belum baik, akan dapat diketahui bila cerita-cerita itu dibaca kembali setelah beberapa waktu selesai ditulis (artinya, saya tidak pernah melakukan pengiriman naskah cerita saya secepat saya siap menulisnya).

Dalam waktu membacanya kembali sebelum dikirim ke redaksi, kadang-kadang saya merasa tersenyum sendiri bila dalam cerita itu ada humor kecil, atau saya merasa ikut terharu pula bila ada suatu adegan yang mengharukan.

Andaikata cerita tersebut telah dapat menjadikan saya tersenyum ataupun terharu sebagaimana saya inginkan ketika menulisnya, maka saya menganggap cerita itu sudah baik, dan sudah patut dikirim ke redaksi. Biasanya cerita-cerita yang telah mencapai sasaran demikian pasti dimuat oleh redaksi.

Akan tetapi bila cerita itu masih kurang sreg ketika saya membacanya kembali, namun masih saya kirimkan ke redaksi salah satu majalah, pada umumnya oerita demikian memang tidak bisa dimuat.

Dengan kata lain, naskah itu dikembalikan. Malah ketika namanya saya telah dianggap sebagai sastrawan yang berhasil, ternyata beberapa naskah saya masih ditolak pemuatannya oleh redaksi beberapa majalah.

Ketika saya telah menikah, secara tak langsung istri saya sering pula membantu proses penciptaan. Caranya begini: di kala saya sedang mengetik sebuah cerita, biasanya istri saya ikut duduk di hadapan saya. Setiap lembaran kertas yang selesai saya ketik, ialah pembacanya yang pertama. Saya tidak minta komentarnya. Cuma saya sesekali mengerlingkan mata ke wajahnya untuk mengetahui bagaimana reaksinya ketika membaca.

Adakalanya ia tersenyum jika kisah itu dirasakannya Iuou, adakalanya ia pun terharu jika ada kisah yang menyedihkan. Dari situ saya menetapkan, bahwa apa yang saya tulis ketika itu (dalam kertas yang tengah dibaca istri saya itu) telah mencapai apa yang saya inginkan.

Pada umumnya setiap naskah yang sudah saya anggap selesai, tidak segera saya kirimkan. Masih saya tunggu beberapa lama, dan saya baca lagi. Apabila saya merasa cerita itu sudah baik barulah saya pertimbangkan untuk dikirimkan ke mana cerita itu agar bisa dimuat.

Jadi saya juga ikut meneliti "keadaan" redaksi dari suatu majalah, yaitu bagaimana "selera" redaksi tersebut, atau bagaimana pola kebijaksanaan majalah bersangkutan. Kalau hendak mengirimkan ke majalah wanita, jangan kirimkan naskah cerita yang menjelekkan wanita.

Kalau cerita itu bertema masalah yang romantis tidak saya kirimkan ke majalah yang berstandar sastra, seumpama Horison atau Kisah. Karena boleh jadi para redaksi majalah yang berstandar sastra itu berpendapat bahwa cerita-cerita yang romantis merupakan cerita penglipur lara saja.

Baca Juga: Literasi di Era Asumsi

Dengan demikian, pengenalan tentang selera redaksi setiap majalah mempunyai peranan penting pula sebagai penentu, dapat tidaknya suatu cerita pendek dimuat pada majalah bersangkutan.

Beberapa pengalaman tentang nasib cerita pendek saya yang ditolak atau diterima redaksi suatu majalah memberi petunjuk yang demikian.

1. Cerpen "Datang dan Perginya” dan cerpen "Anak Kebanggaan" pada mulanya saya kirimkan ke majalah Kisah, tapi ditolak oleh redaksinya. Lalu saya ubah judulnya, saya kirimkan ke majalah Mimbar Indonesia, dan dimuat.

Perlu diketahui, di kedua majalah tersebut nama H.B. Jassin tercantum sebagai redaksinya. Maka boleh jadi seleksi pertama oleh redaksi Kisah tidak jatuh pada H.B. Jassin, tapi pada orang lain, sedang di Mimbar Indonesia H.B. Jassin-Iah menyeleksi utama.

2. Cerpen "Angin dari Gunung" saya kirimkan ke majalah Prosa ditolak oleh redaksinya. Lalu saya muatkan dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami. Dan ternyata kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan diterbitkan sebagai antologi bersama cerpen 27 orang pengarang lainnya.

3. Ketika Unesco/Ikapi mengadakan sayembara pada tahun 1968, saya memperkirakan lebih dahulu para juri sayembara tersebut, yang saya duga komposisinya Iebih cenderung pada sosiologi dan paedagog daripada kritisi sastra.

Maka saya tulislah novel Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, yang melukiskan seorang gadis bisu-tuli yang tersia-sia, tapi berjuang untuk menjadi manusia yang sama nilainya dengan orang lain. Kisah demikian pastilah menimbulkan simpati para juri. Dan ternyata benar, novel itu memenangi sayembara tersebut.

Bukan sedikit naskah saya yang macet di tengah jalan, baik cerpen ataupun novel. Dan semuanya saya simpan baik-baik. Dari naskah yang macet itu sering kali pula saya menemui ide baru untuk meneruskan/menyelesaikan cerita itu beberapa tahun kemudian.

Baca Juga : Sepinya Perpustakaan dan Lemahnya Kegemaran Membaca

Naskah yang macet di tengah jalan, bermacam-macam pula ulasannya, antara lain, sebagai berikut.

1. Mungkin ketika saya menulisnya tidak sedang dalam kondisi yang prima, sehingga saya cepat menjadi lelah, sedangkan cerita itu belum selesai. Kalau dipaksakan terus menulisnya, jalan cerita menjadi ngawur.

2. Mungkin juga konsep/bahan cerita tidak matang ketika mulai menulisnya, sehingga alur cerita tidak menentu, atau jalan cerita menjadi sangat longgar dan bertele-tele.

3. Mungkin juga disebabkan yang lain-Iain, situasi atau suasana yang datang mengganggu kemudian. Sehingga cerita yang tengah terbengkalai itu kehilangan kesinambungannya ketika gangguan itu berlalu.

Semua naskah yang macet itu saya simpan baik-baik. Adakalanya saya baca kembali beberapa tahun kemudian, dan saya menemukan ide baru dari cerita yang macet itu. Atau saya menemukan kesalahan-kesalahan penyebab cerita itu macet ditulis dulunya. Atau memang cerita itu betuI-betul macet, karena jeleknya.



Sumber: Buku Proses Kreatif : mengapa dan bagaimana saya mengarang

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post