Senin, 08 April 2019

Berita Hoaks Disebabkan Rendahnya Minat Baca?

author photo
Tulisan Fadia Dini Aulia

Berdasarkan data yang dirilis UNESCO pada tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks minat
baca di Indonesia baru mencapai 0,001 atau satu orang yang memiliki minat membaca dari seribu penduduk. Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab juga menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia sangat rendah. Ia membandingkan Eropa dan Amerika yang indeks bacanya rata-rata mencapai 25-27%. Sedangkan Jepang mencatat 15-18% indeks baca.

menangkal hoaks

Literasi merupakan salah satu faktor yang menyokong kualitas pendidikan suatu negara. Dalam hal literasi, Indonesia sama sekali tertinggal dari negara lain. Dalam data survei yang dilakukan oleh Central Connectitut State University yang berjudul Most Littered Nation in Nation the World, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Karena penyebab utama rendah nya indeks baca pada masyarakat Indonesia adalah masyarakat lebih banyak aktif di media sosial daripada membaca sehingga tidak mengherankan bahwa media sosial banyak diisi oleh berita-berita hoax.

Hal tersebut sejalan dengan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 dapat dijadikan gambaran bagaimana minat baca bangsa Indonesia. Data itu digambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur diatas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11%. Sedangkan membaca majalah hanya 29,22% buku cerita 16,72% buku pelajaran sekolah 44,28% dan yang membaca buku ilmu pengetahuan pengetahuan lainnya hanya 21,07%. Data Badan Pusat Statistik (BPS) lainnya juga menyebutkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan membaca sebagai informasi. Orang lebih memilih menonton televisi dan menonton berita yang belum tentu kebenaran nya lewat social media platform seperti youtube yang terdapat konten-konten berita yang justru banyak berisi hoax atau berita bohong.

Baca Juga: Membangkitkan Budaya Literasi Indonesia yang Tertidur

Dengan rendah nya indeks minat baca di Indonesia dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih membuat beragam informasi mudah tersebar terutama melalui berbagai media sosial yang memudahkan untuk mencari informasi. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menyebarkan berita palsu dengan tujuan untuk memprovokasi dan menakuti masyarakat yang dibagikan melalui media komunikasi seperti, WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram serta media komunikasi lainnya. Sebagian besar berita yang beredar adalah hoax. Karena di media sosial semua kalangan masyarakat bebas menulis serta membagikan berita nya. Dengan mudahnya mengakses media sosial menjadi salah satu faktor mudah nya tersebar berita hoax.

Hoax mudah menyebar karena disebabkan rendahnya minat baca pada masyarakat. Lantaran
kebiasaan pengguna media sosial yang mendapatkan informasi dari media sosial tidak melakukan verifikasi informasi yaitu dengan membaca dan mencari tahu kebenaran berita tersebut. Agar tidak menjadi korban berita hoax, perlu dilakukan nya verifikasi maupun cek fakta berita tersebut sebelum menyebarkan informasi. Serta perlu nya masyarakat untuk menerapkan prinsip tanggungjawab, empati, kearifan dan integritas dalam bermedia sosial.

Dengan memberikan konten-konten yang positif dengan menumbuhkan minat baca terhadap
masyarakat sejak dini diyakini dapat berpengaruh signifikan dalam memerangi berita hoax yang membanjiri di media sosial yang menjadi permasalahan saat ini. Dampak hoax itu sendiri sangat berbahaya karena dapat memicu disentegrasi dan konflik yang berisikan ujaran kebencian, provokasi, hasutan dan fitnah.

Baca Juga: Literasi Membentuk Karakter Bangsa yang Bermoral dan Berkreativitas Tinggi

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post