Minggu, 12 Juli 2026

Literasi yang Tidak Bungkam: Belajar Keberanian dari Yosepha Alexandra

author photo

Literasi yang Tidak Bungkam: Belajar Keberanian dari Yosepha Alexandra

Oleh: Vinsensius, S.Fil., M.M.


Literasi yang Tidak Bungkam: Belajar Keberanian dari Yosepha Alexandra


Selama ini, literasi sering dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, makna literasi sesungguhnya jauh lebih luas daripada itu. Literasi bukan hanya soal memahami kata-kata di dalam buku, tetapi juga kemampuan memahami realitas kehidupan, berpikir kritis, serta memiliki keberanian moral untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap benar dengan cara yang santun dan bertanggung jawab.


Fenomena Yosepha Alexandra dari SMAN 1 Pontianak yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial menghadirkan refleksi penting tentang hal tersebut. Terlepas dari berbagai pendapat yang muncul, keberaniannya menyampaikan pandangan secara terbuka menunjukkan bahwa generasi muda tidak selalu harus diam di hadapan sesuatu yang mereka anggap perlu dipertanyakan. Dari peristiwa ini, kita diingatkan bahwa literasi yang sehat seharusnya tidak melahirkan generasi yang bungkam, melainkan generasi yang berani berpikir, berani berbicara, dan tetap menjunjung etika — dari Kalbar sampai Merauke.


Literasi Bukan Sekadar Membaca, tetapi Juga Memahami Realitas


Selama ini, ketika mendengar kata “literasi”, banyak orang langsung membayangkan buku, perpustakaan, atau kegiatan membaca. Tidak salah memang. Membaca adalah bagian penting dari literasi. Namun, jika literasi hanya berhenti pada kemampuan membaca tulisan, maka maknanya menjadi terlalu sempit. Sebab dalam kehidupan nyata, manusia tidak hanya berhadapan dengan teks di atas kertas, tetapi juga dengan berbagai persoalan sosial, ketidakadilan, dan situasi yang menuntut keberanian moral.


Seseorang bisa saja rajin membaca buku setiap hari, memiliki nilai akademik yang tinggi, bahkan dikenal pintar di sekolah, tetapi memilih diam ketika melihat sesuatu yang menurut hati nuraninya kurang tepat. Di titik inilah kita perlu bertanya: apakah literasi hanya membuat seseorang pandai membaca, atau juga membantu seseorang berani memahami kenyataan di sekitarnya?


Literasi sejati seharusnya membuat manusia lebih hidup pikirannya. Ia membantu seseorang membedakan mana yang benar dan mana yang keliru, mana yang adil dan mana yang perlu dipertanyakan. Literasi bukan sekadar memenuhi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga melatih keberanian untuk menggunakan akal sehat secara bertanggung jawab.


Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, masih ada budaya yang menganggap bahwa diam selalu lebih aman daripada berbicara. Banyak orang akhirnya memilih bungkam, bukan karena tidak mengerti, tetapi karena takut dianggap melawan, takut disalahpahami, atau takut menjadi sorotan publik. Akibatnya, ruang untuk berpikir kritis perlahan menjadi sempit.


Padahal, berpikir kritis bukan berarti suka mencari masalah. Berani menyampaikan pendapat juga bukan berarti tidak sopan. Justru orang yang memiliki literasi baik biasanya mampu menyampaikan kritik dengan lebih tenang, lebih tertata, dan tetap menghargai orang lain. Literasi membantu seseorang membuka pikiran sekaligus menjaga cara berbicara.


Di era media sosial saat ini, kemampuan seperti itu menjadi semakin penting. Banyak orang mudah berbicara, tetapi sedikit yang mampu berbicara dengan isi dan etika. Tidak sedikit pula yang memilih mengikuti arus hanya demi merasa aman di tengah keramaian. Karena itu, pendidikan literasi seharusnya tidak hanya melahirkan generasi yang pandai menjawab soal, tetapi juga generasi yang memiliki keberanian moral untuk menyampaikan sesuatu secara jujur dan bertanggung jawab.


Literasi yang baik bukan melahirkan manusia yang hanya pandai membaca buku lalu diam terhadap keadaan. Literasi yang sehat justru membantu manusia lebih peka terhadap realitas, lebih terbuka pikirannya, dan lebih berani menyuarakan sesuatu dengan cara yang santun.


Yosepha Alexandra dan Keberanian Menyampaikan Pendapat dengan Santun


Belakangan ini, nama Yosepha Alexandra dari SMAN 1 Pontianak ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang mengenalnya karena keberaniannya menyampaikan pendapat dalam sebuah ajang lomba. Ada yang mendukung, ada pula yang berbeda pandangan. Namun di tengah berbagai komentar tersebut, ada satu hal penting yang sebenarnya patut menjadi perhatian bersama, yakni keberanian seorang pelajar untuk menyampaikan sesuatu yang menurutnya perlu disuarakan.


Yang menarik, keberanian itu tidak hadir dalam bentuk kemarahan ataupun kata-kata kasar. Yosepha tetap berbicara dengan tenang dan sopan. Inilah bagian yang sering kali terlupakan di tengah budaya media sosial yang hari ini begitu mudah dipenuhi hujatan, sindiran, dan emosi sesaat. Banyak orang berani berbicara, tetapi tidak semua mampu menjaga etika ketika berbicara.


Fenomena ini memberi pelajaran bahwa keberanian dan kesopanan sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Seseorang tetap bisa menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Dalam kehidupan demokrasi dan dunia pendidikan, sikap seperti inilah yang justru perlu dirawat.


Terkadang masyarakat terlalu terbiasa melihat anak muda hanya sebagai pendengar. Ketika ada generasi muda yang berani menyampaikan pandangan, tidak sedikit yang langsung menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan. Padahal, pendidikan yang sehat seharusnya tidak hanya mengajarkan kepatuhan, tetapi juga melatih kemampuan berdialog dan berpikir terbuka.


Keberanian Yosepha, terlepas dari pro dan kontra yang ada, setidaknya memperlihatkan bahwa anak muda juga memiliki suara dan keberanian moral. Ia menunjukkan bahwa pelajar tidak harus selalu diam ketika merasa ada sesuatu yang perlu dipertanyakan. Tentu semua itu harus dilakukan dengan cara yang baik, santun, dan bertanggung jawab.


Di sinilah literasi menemukan maknanya yang lebih dalam. Literasi bukan hanya kemampuan memahami teks, tetapi juga kemampuan menyampaikan pikiran dengan jernih dan beretika. Orang yang benar-benar literat tidak mudah terpancing emosi, tetapi juga tidak kehilangan keberanian untuk berbicara.


Fenomena Yosepha Alexandra akhirnya bukan sekadar cerita tentang seseorang yang viral di media sosial. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa keberanian intelektual masih hidup di kalangan generasi muda. Dan mungkin, Indonesia memang sedang membutuhkan lebih banyak anak muda yang berani berpikir, berani berbicara, tetapi tetap tahu cara menghormati orang lain.


Dari Kalbar Sampai Merauke: Indonesia Membutuhkan Lebih Banyak “Yosepha”


Apa yang dilakukan Yosepha Alexandra seharusnya tidak berhenti hanya sebagai perbincangan sesaat di media sosial. Viral di internet biasanya cepat datang dan cepat pula dilupakan. Namun nilai keberanian, kejujuran, dan keberanian berpikir yang terlihat dari peristiwa tersebut justru memiliki makna yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren beberapa hari.


Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang berani berpikir kritis, tetapi tetap memiliki etika. Kita membutuhkan anak-anak muda yang tidak hanya pandai mencari jawaban di buku, tetapi juga berani menggunakan hati nurani dan akal sehat dalam kehidupan sehari-hari. Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh orang-orang pintar, tetapi juga oleh orang-orang yang berani menyuarakan sesuatu dengan tanggung jawab.


Selama ini, tidak sedikit anak muda sebenarnya memiliki pemikiran yang baik, tetapi memilih diam karena takut dianggap berbeda. Ada yang takut dicibir, takut disalahpahami, bahkan takut menjadi bahan perdebatan di media sosial. Akibatnya, banyak suara baik akhirnya tenggelam sebelum sempat didengar.

Padahal, bangsa yang sehat membutuhkan ruang dialog. Pendidikan juga seharusnya tidak melahirkan generasi yang hanya terbiasa menghafal dan mengikuti, melainkan generasi yang mampu berpikir mandiri serta berani menyampaikan pendapat dengan santun. Keberanian seperti ini bukan ancaman bagi pendidikan. Justru itulah tanda bahwa pendidikan sedang bekerja dengan baik.


Karena itu, harapan terbesar dari fenomena Yosepha Alexandra bukanlah soal popularitas ataupun viralitasnya. Harapannya adalah muncul lebih banyak “Yosepha-Yosepha” lain di seluruh Indonesia — dari Kalimantan Barat sampai Merauke. Anak-anak muda yang berani membuka pikiran, berani berbicara dengan sopan, dan tidak takut menyampaikan sesuatu yang menurut mereka benar.


Tentu keberanian itu juga harus disertai tanggung jawab. Kebebasan berbicara bukan berarti bebas menghina atau merendahkan orang lain. Di sinilah pentingnya literasi. Literasi membantu seseorang memahami bagaimana menyampaikan pendapat secara sehat, bijak, dan tetap menghormati sesama.

Pada akhirnya, literasi yang sejati bukan hanya melahirkan manusia yang gemar membaca, tetapi juga manusia yang berani berpikir dan berani bersuara demi kebaikan bersama. Dan mungkin, Indonesia hari ini memang sedang membutuhkan lebih banyak anak muda seperti itu.


Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Mengajar bidang filsafat dan manajemen keuangan, serta aktif menulis opini, esai, dan refleksi sosial di berbagai media. Memiliki ketertarikan pada isu literasi, pendidikan, budaya digital, dan pengembangan pemikiran kritis generasi muda.


Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post