-->

Jumat, 15 Desember 2017

Menggagas 15 menit Baca Buku di Sekolah

Literasi Kalbar - Satu di antara usul yang muncul dalam diskusi Lingkar Kopi, membahas soal ‘Rekayasa Budaya Literasi’ adalah gerakan 15 menit membaca buku di sekolah. Dalam Ilmu Sosial Budaya Dasar, peradaban berada di posisi teratas. Untuk membentuk peradaban, perlu ada kebudayaan. Sementara untuk membentuk kebudayaan, butuh sebuah kebiasaan.


Diskusi di Balai Kopi Muzakki, Jalan Alianyang, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak Minggu (17/9) itu, dimoderatori pegiat pendidikan dan literasi, Beni Sulastiyo. Sebagai pemantik, dia bercerita soal literasi di nusantara yang telah ada sejak 1.600 tahun lalu.

Terbukti lewat prasasti Yupa yang ditemukan di tepi Sungai Kutai. Bahkan sejak 40 ribu tahun lalu, ada jejak tangan ditemukan di goa di Sulawesi Selatan.

"Saat itu belum ada huruf, penggantinya simbol. Dalam semiotika, paling hebat kalau sudah bikin ikon. Ikon dan simbol jadi satu dalam huruf. Literasi 40 ribu tahun tapi itu masih dasar, puncaknya di 1.600 tahun," ucap Beni memulai diskusi.

Baca Juga:

Melihat Geliat Sastra di Kalimantan Barat


Namun sayang, kata Beni, saat ini budaya baca di Indonesia secara umum memprihatinkan. Menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah.

Sementra di Kota Pontianak, dukungan pemerintah diakuinya memang cukup baik. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah perpustakaan dibangun di taman kota. Banyak fasilitas pendukung ditambah. Tapi nyatanya hal itu belum cukup untuk membentuk budaya literasi.

Salah satu cerita menarik didapat dari Vivi Al Hinduan, penulis dan pegiat literasi. Dia cukup lama berkecimpung di Forum Lingkar Pena (FLP) Kalbar dan beberapa kali diminta jadi juri lomba cerita pendek. Dia mengatakan, banyak penulis punya semangat luar biasa, tapi lemah dalam membaca.

"Sekadar bedakan 'di-' sebagai kata depan dan sebagai awalan, masih suka salah," ucapnya mencontohkan.

Baca Juga:

Giatkan Program Literasi Sekolah


Padahal, penulisan itu bisa dikatakan hal dasar. Lewat membaca, semestinya bisa sampai belajar bagaimana kaidah penulisan yang benar. Hal lain, dalam salah satu riset yang pernah dia baca, Indonesia melewatkan fase membaca. Dalam penelitian itu ada tiga fase, buta aksara, membaca dan multimedia. Di Indonesia, usai buta aksara, langsung masuk ke era multimedia.

Walau demikian, semangat optimis menciptakan budaya literasi di Kalbar, khususnya Pontianak, sebenarnya ada. Contohnya, saat Kalbar Book Fair di Rumah Radakng tahun lalu, setidaknya 20 ribu orang hadir.

Beni yang saat itu juga ikut sebagai panitia pelaksana, menambahkan dalam dua hari, ada penulis komik lokal yang bisa menjual habis 400 eksemplar karyanya. Bahkan sebagian besar distributor buku dapat menjual 13-15 ribu buku dalam satu minggu pelaksanaan.

Baca Juga:

Pawai Literasi Akan Jadi Agenda Tahunan Balai Bahasa Kalbar


Budaya literasi memiliki pengaruh besar dalam perkembangan industri kreatif. Membaca adalah soal memahami. Di mana dampaknya besar terhadap banyak hal. Upaya untuk meningkatkan minat baca juga sudah dilakukan banyak pihak.

Misalnya lewat Kalbar Membaca, di mana Varli Pay Sandi bersama rekannya mengajak anak-anak mencintai buku. Mereka mendirikan sejumlah taman baca, sampai ke pelosok daerah.

"Di daerah anak-anak butuh bacaan yang segar, sebenarnya mereka minat, tapi kekurangan buku," katanya.

Selain itu mereka juga aktif dalam menggelar diskusi literasi. Berpindah dari satu warung kopi ke warung kopi lain. Di lain kesempatan, mereka mengunjungi sekolah, mengajak siswa di sana membaca dan menulis. Salah satu misi lain, mereka ingin karya penulis lokal dikenal masyarakat Kalbar.

"Kadang kita juga buka lapak jual buku di kampus, (mahasiswanya) jangankan untuk membeli, untuk melihat-lihat saja kadang tidak," ceritanya. (kristiawan balasa/and)

Sumber: http://suarapemredkalbar.com/berita/ponticity/2017/09/19/menggagas-15-menit-baca-buku-di-sekolah

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post