Jumat, 22 Desember 2017

Sastawan di Imaji Kalbar

Oleh Farninda Aditya
Sastawan di Imaji Kalbar

Imaji Budaya, Imaji Sosial, Imaji Cinta. Itulah bagian imaji yang ada dalam buku Kalbar Berimajinasi, sebuah karya luar biasa dari 25 penulis sastrawan di Kalimatan Barat.

Beragam sudut pandang disajikan dengan tema yang sama, lokalitas Kalimantan barat. Dalam cerita ini berbagai ciri dari tiap daerah di Kalimantan Barat ditunjukkan. Keeksotikan panorama daerah-daerah di Kalimantan Barat ikut menjadi daya tarik dalam cerita. Geografi yang diambil oleh penulis menjadi ciri tersendiri dalam cerita yang ditampilkan.

Imaji budaya yang menjadi bagian imaji pertama dalam urutan buku ini. Imaji ini memberikan nuansa yang berbeda. Sesuatu yang tidak banyak diketahui oleh masayarkat Kalbar sendiri. Budaya-budaya yang sudah hampir hilang, budaya yang ada tapi tidak banyak yang mengetahuinya. Dari cerita dibagian Imaji budaya inilah, budaya itu diperkenalkan lagi, dilestrarikan lagi. Lagi dalam cerita, dalam sebuah karya sastra.

Baca Juga: Memetik Ragam Nilai Moral dalam Kehidupan

Saifun Arif Kojeh dengan tulisannya yang berjudul Antu Bengkek. Jika orang Indonesia umumnya, mungkin hanya mengetahui hantu seperti Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, Wewe Gombel, Suster Ngesot, atau hantu Ratu Goyang Kerawang yang sudah mem-booming dalam layar lebar, tetapi Antu Bengkek yang diceritakan oleh penulis dari Ketepang ini adalah hantu yang tidak banyak orang mengetahuinya. Hantu yang sekiranya hanya di lokal yang disebutkan dalam cerita yang tahu.

Cerita berlatar budaya dengan unsur horror. Suatu yang berbeda. Cerita ini menunjukkan bahwa setiap daerah mempunyai banyak cerita, termasuk dalam cerita hantu.

Begitu pula imaji-imaji budaya lainnnya;  1) Dedy Ari Asfar yang menulis tentang Kearifan Tradisional Iban dengan tokoh Boni, seorang pemuda Iban yang memegang teguh filosofi Iban “Agik Idup Agik Ngelaban” filosofi ini jugalah yang menjadi judul dalam cerita. 2) Riani Kasih dengan ceritanya berjudul Balada Bala tentang bala yang datang karena hutan ditebang karena emas ditambang.

Baca Juga: Tradisi Lisan Dayak yang Tergusur & Terlupakan

Cerita ini juga memiliki pesan yang sama dengan cerita Boni yakni; keserakahan manusia yang tidak memperhatikan alam hingga mendatangkan bala. 3) Cerita tentang bala juga menjadi pilihan untuk Zani El Kayong berjudul Menantang Bala. Dan imajiner Budaya lainnya 4) Mahabbatusy Syuaraa berjudul Mantra di Pelosok Kampung tentang sekelompok mahasiswa yang meneliti Sastra Mantra di daerah Sambas. 5) Dukun Tuba yang ditulis oleh E.Widiantoro. 6) Parit Lintang oleh Ffate’, 7) Sampuk untuk Banin yang ditulis oleh Yusriadi.

Keunikan dari buku yang diterbitkan oleh Stain Press ini tidak hanya ada pada segi budayanya saja. Tak kalah dengan cerita dalam Imaji Sosial. Tentang beragam kehidupan di masyarakat ditunjukkan oleh para penulis yang juga berasal dari berbagai daerah. Suatu kehidupan lain yang mungkin pernah dijumpai, namun menjadi menarik karena diceritakan dalam bentuk dulisan.

Dari inilah gambaran kehidupan membuat kita menjadi lebih peka mengenai kehidupan.  1) Hardianti dengan tulisannya berjudul Politikus Warung Kopi. Warung kopi yang beda dengan Warkop lainnya karena masyarakat di tepian Kapuas ini membicarakan banyak tentang masalah di negeri hal dengan “Kepala dingin dan segelas kopi” bukan dengan “Adu mulut, adu otot, dan juga adu kepentingan”. 2) Haries Pribady berkisah tentang bagaimana senangnya orang Brunei Darussalam menikmati kuliner khas Pontianak berjudul Kopi Susuku.

Dan cerita lainnya di imaji social ini 3) Kamar 9B ditulis oleh Pradono, 4) Titik dan Air Mata cerpen dari Wyaz Ibn Sinentang, 4) Masih Cerita oleh Utin Erliana, 5) Omy Bintun Nahl menulis Senyum Ini untuk Ayah, 5) Nasi Ubi Uwan Misra.

Baca Juga: Permasalahan Psikologi dalam Novel

Begitu pula dengan imaji cinta. Kisah cinta yang memang tidak ada habis-habisnya menjadi daya tarik tersendiri. Namun, di bagian Imaji Cinta,  kisah cinta itu diwarnai dengan latar lokal yang sangat khas, tentang pertemuan cinta pada diri beragam etnik. Tentang cinta dan orang tua. Cinta pada Ilahi, Cinta terhalang zaman. Keragaman ini menjadikan cerita cinta lebih kaya.  Imaji-imaji cinta ini ditulis oleh; 1) Abdul Hamid berjudul Perempuan Berkalung Salib, 2) Nurlia berjudul Antara Cintanya dan Cinta-Nya, 3) Aku Bukan Siti Nurbaya oleh Marsita Riandini, 4) Cinta Su Ling oleh Hikmah, 5)  Reni Yusnita dengan ceritanya cintanya berjudul Surat untukmu Sayang, 6) Siti Hanina berkisah cinta dengan Cinta Pindah Rumah, 7) Abdul Rani menunjuk Kapuas sebagai saksi cintanya dalam cerita berjudul Puisi Cinta Kapuas, 8) Tentang cinta sejati yang disetia dalam hati ditulis oleh Mardian Sagiant dengan cerita Perkamen  Mei, 9) Cerita Cinta yang sulit ditebak berasal dari Danau Sentarum ditulis oleh Fitriani berjudul Pandurata,  dan 10) Redi Yosianto berjudul Kawin, 11) Bermula dari Batu Layang oleh Holi Hamidin dan 12) oleh Farninda Aditya berjudul Menggaet Keponakan Ko A Tong.

Kalbar Berimajinasi tidak hanya mempertemukan beragam Imaji di dalamnya. Namun berbagai daerah menyatu, penulis bertemu, dan kekuatan sastra Kalimantan Barat semakin erat.


Sumber: http://kalbarmenulis.blogspot.co.id/search/label/Ulasan

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post