Sabtu, 30 Desember 2023

Cerita di Balik Luka & Puisi Sedih Ivan Lainnya

author photo

Literasikalbar.com - Puisi Cerita di Balik Luka dan puisi lainnya karya Ivan Aulia mendedahkan kesedihan, kesunyian, dan kehampaan seorang diri manusia. Hal yang dirasakan manusia yang jaran direnungkan dan dikisahakan pada khalayak umu, seperti halnya puisi. Penyair menyajikan apa yang dirasakan tokoh dalam puisinya mengajak untuk merasakan dan membuka mata bahwa hidup manusia penuh warna termasuk kesedihan.


Puisi Ivan Aulia


Cerita di Balik Luka & Puisi Sedih Ivan Lainnya
 Cerita di Balik Luka & Puisi Sedih Ivan Lainnya pic Pixabay


Cerita di Balik Luka & Puisi Sedih Ivan Lainnya


“Kehampaan ini, bukan sekadar ruang kosong, tetapi gema kesunyian yang tak terdengar berpadu dengan nada-nada kesedihan.”


Menghilang dalam Derita: Ode untuk Kesunyian


Dalam lorong waktu yang terlupakan,  

Aku menghilang, lenyap dalam derita.  

Setiap langkah, sebuah bisikan kesepian,  

Dalam hati yang retak, menyanyikan ode untuk kesunyian.


Derita ini, layaknya lautan yang tak bertepi,  

Menghanyutkan jiwa, ke dalam gelombang lara yang sunyi.  

Seperti daun yang gugur tanpa suara,  

Aku jatuh, terlupakan, dalam diam yang mendalam.


Kesunyian ini, bukan sekadar kehampaan,  

Tapi sebuah simfoni yang tak terdengar,  

Dimainkan oleh rasa yang terluka,  

Dalam orkestra kesedihan yang tanpa penonton.


Di sini, dalam kegelapan hati yang pekat,  

Aku menari dengan bayang-bayang kesendirian.  

Setiap gerak, refleksi dari luka yang terpendam,  

Melukis duka dalam canvas keheningan.


Bisikan angin seakan mengerti,  

Membawa pesan derita yang tak terkatakan.  

Namun dalam kebisuan ini, aku menemukan makna,  

Pemahaman mendalam tentang kehidupan dan kehilangan.


Menghilang dalam derita, bukan akhir cerita,  

Melainkan awal dari perjalanan baru.  

Dalam keheningan ini, aku belajar mendengar,  

Suara hati yang tersembunyi, di balik tirai kesunyian.


Ode untuk kesunyian ini, lagu dari jiwa yang terlantar,  

Menyadari bahwa dalam diam, terkadang kita menemukan diri.  

Dan dalam setiap derita, ada pelajaran yang tak terlihat,  

Mengajarkan kita untuk tumbuh, lebih kuat dan lebih bijaksana.

Surabaya, 2023


***


Siluet Penderitaan: Nyanyian Jiwa yang Hilang


Di antara siluet malam yang merenung,  

Penderitaan membentang, nyanyian jiwa yang hilang.  

Dalam kegelapan, aku mencari cahaya-Nya,  

Menggali makna di balik ujian dan lara.


Setiap rintik duka, bagai ayat yang terucap,  

Mengingatkanku pada asal-usul dan akhirat.  

Dalam kesendirian, aku berdoa,  

Mencari petunjuk dalam Al-Quran yang suci.


Penderitaan ini, bukan hanya tentang kehilangan,  

Tapi juga tentang menemukan, iman yang lebih dalam.  

Dalam setiap doa, ada harapan yang bersemi,  

Mengajarkan hati untuk bersabar dan bertawakal.


Baca Juga: Cerpen Pesan dari Negeri Asing


Ketika dunia tampak suram dan tak bercahaya,  

Aku mengingat, bahwa Allah selalu bersama.  

Dalam setiap kesulitan, ada kemudahan yang tersembunyi,  

Pelajaran tentang kekuatan, sabar, dan ketabahan.


Siluet penderitaan ini, mengajarku tentang kefanaan,  

Bahwa hidup ini hanyalah sementara, ujian dari-Nya.  

Setiap luka, setiap air mata,  

Adalah pengingat untuk selalu kembali pada-Nya.


Dalam nyanyian jiwa yang hilang ini,  

Aku menemukan suara iman yang lantang.  

Mengingatkan bahwa setelah kesulitan, ada kelegaan,  

Dan di akhir setiap penderitaan, ada hikmah yang abadi.

Surabaya, 2023


***


Lara Terlupa: Jejak-jejak Kehampaan


Di lorong waktu yang sunyi, aku berjalan,  

Menapak jejak lara yang terlupa, dalam kehampaan.  

Setiap langkah, sebuah cerita pilu,  

Dalam hati yang retak, menyimpan luka yang mendalam.


Lara ini, bagai sungai yang mengalir tanpa suara,  

Membawa kenangan pahit, ke laut kesedihan yang kelam.  

Seperti daun yang gugur tanpa diketahui,  

Aku lelah, terhempas, dalam diam yang terabaikan.


Kehampaan ini, bukan sekadar ruang kosong,  

Tapi gema kesunyian yang tak terdengar,  

Berpadu dengan nada-nada kesedihan,  

Dalam simfoni kehidupan yang terlupakan.


Di sini, dalam kegelapan pikiran yang pekat,  

Aku menari dengan bayangan kesepian.  

Setiap gerakan, refleksi dari sakit yang tersembunyi,  

Menciptakan tarian keputusasaan dalam ruang yang hampa.


Angin sepi membawa pesan lara yang tak terkatakan,  

Mengelilingi jiwa yang terjebak dalam kesendirian.  

Namun dalam kesunyian ini, aku menemukan suara,  

Suara hati yang terluka, di balik tirai kehampaan.


Lara terlupa ini, bukan hanya tentang rasa sakit,  

Melainkan tentang pencarian diri dalam kehilangan.  

Dan dalam setiap penderitaan, ada pelajaran yang tersembunyi,  

Mengajarkan kita untuk bertahan, lebih kuat dalam kelemahan.

Surabaya, 2023


***


Duka yang Tertinggal: Elegi Kehilangan


Dalam lembayung senja yang muram,  

Aku merenung, atas duka yang tertinggal.  

Kehilangan membekas, bagai lukisan abadi,  

Dalam hati yang rapuh, menyimpan cerita pilu.


Elegi ini, melodi kesedihan yang tak terucap,  

Bergetar dalam ruang hati yang terluka.  

Seperti daun yang gugur, meninggalkan pohonnya,  

Aku kehilangan sebagian diri, dalam bisu yang menyelimuti.


Baca Juga: Bagaimana Literasi Memberdayakan Gen Z?


Duka yang tertinggal, bukan hanya tentang perpisahan,  

Tapi juga tentang memori yang terpatri dalam jiwa.  

Setiap kenangan, bagai ombak yang menghantam pantai,  

Menciptakan resonansi rasa sakit, dalam samudra kehampaan.


Di malam yang dingin dan sunyi,  

Aku mencari arti dalam kehilangan.  

Bintang-bintang menyaksikan, air mata yang jatuh diam-diam,  

Menceritakan tentang rasa yang tak pernah terungkap.


Elegi kehilangan ini, nyanyian tentang cinta yang hilang,  

Menggema di antara dinding-dinding hati yang retak.  

Setiap nada, setiap kata, membawa kesedihan,  

Namun juga, pelajaran tentang kekuatan dan ketabahan.


Duka yang tertinggal ini, bukan akhir dari segalanya,  

Melainkan sebuah awal untuk memahami,  

Bahwa dalam setiap kehilangan, ada kekuatan yang tersembunyi,  

Dan dalam setiap air mata, ada harapan yang bertahan.

Surabaya, 2023


***


Asa yang Pudar: Cerita di Balik Luka


Asa yang pudar, cerita di balik luka

Hatiku teriris, pilu yang tak terucapkan

Dalam kehampaan, aku meratapi takdir

Di dalam sunyi, aku menemukan kesedihan yang terpendam

 

Air mata mengalir, mengisi kehampaan hati

Luka yang tak terlihat, terasa begitu dalam

Seperti angin yang berhembus, membawa kepedihan

Aku terhanyut dalam lautan kesepian

 

Dalam setiap senyap, aku meratapi kehilangan

Mimpi-mimpi yang hancur, harapan yang terkubur

Kegelapan menghampiri, mengisi ruang yang kosong

Aku terjebak dalam labirin kesedihan yang tak berujung

 

Bagaikan reruntuhan, hatiku hancur berkeping-keping

Tak ada lagi cahaya, hanya gelap yang menyelimuti

Rindu yang tak terbalas, cinta yang terlupakan

Aku terombang-ambing dalam samudra kesedihan

 

Namun, di balik semua luka dan kesedihan

Ada kekuatan yang tersembunyi, api yang tak pernah padam

Aku akan bangkit, mengumpulkan serpihan hati yang hancur

Dan menemukan kembali asa yang telah pudar

 

Mungkin ini hanya cerita di balik luka

Tapi aku percaya, di ujung kegelapan akan ada terang

Aku akan melangkah maju, menghadapi badai dengan tegar

Dan menulis kisah baru, di antara luka yang tergores

 

Asa yang pudar, cerita di balik luka

Aku takkan menyerah, meski hati terluka

Karena di setiap kesedihan, ada kekuatan yang tersembunyi

Dan aku akan terus berjuang, menemukan kebahagiaan yang sejati.

Surabaya, 2023


***


Hilang di Antara Rintik Kesedihan


Hilang di antara rintik kesedihan

Aku terombang-ambing dalam arus kehidupan

Seperti daun yang terbawa angin, aku tak berdaya

Mencari arti di dalam kehampaan yang menyelimuti

 

Dalam sunyi malam, aku merenung

Mengenang masa lalu yang telah berlalu

Kenangan manis dan pahit, terpatri dalam pikiran

Seakan-akan waktu berlalu begitu cepat

 

Aku mencari jawaban di tengah kegelapan

Namun hanya hening yang menjawab

Hati yang kosong, jiwa yang terluka

Aku terjebak dalam labirin yang tak berujung


Baca Juga: Opini Momen Mengharukan Anak dan Ibu yang Melelehkan Hati


Rintik kesedihan membasahi hatiku

Seperti hujan yang tak pernah berhenti

Namun di balik setiap tetes air mata

Ada kekuatan yang tersembunyi, keberanian yang tak terkalahkan

 

Aku akan bangkit dari kehampaan ini

Menemukan diriku yang hilang di antara rintik kesedihan

Aku akan menari dalam hujan, mengisi langit dengan harapan

Dan menemukan kebahagiaan yang sejati di dalam hatiku

 

Hilang di antara rintik kesedihan

Aku akan menemukan jalan pulang

Membangun kembali diriku yang hancur

Dan menemukan arti yang sejati dalam hidupku.

Surabaya, 2023


***


Lenyap dalam Bisikan Duka


Dalam pelukan malam yang dingin dan sunyi,  

Aku lenyap, tersesat dalam bisikan duka.  

Seperti daun yang gugur tanpa suara,  

Menghilang dalam aliran waktu yang tak terjamah.


Bisikan-bisikan itu, lirih namun menusuk,  

Bagaikan angin sepoi yang membawa kabut kesedihan.  

Mereka berbisik, tentang hari-hari yang telah pergi,  

Tentang kenangan yang kini hanya tinggal lara.


Di setiap sudut hati, duka bersembunyi,  

Menari dalam gelap, menyanyikan lagu kehilangan.  

Setiap iramanya, pukulan lembut namun berat,  

Menandai ruang kosong yang ditinggalkan oleh kepergian.


Dalam keheningan ini, kesepian menjadi sahabat,  

Berbagi cerita di antara dinding-dinding yang retak.  

Duka ini, bukan hanya tentang rasa sakit,  

Tapi tentang memahami, tentang menerima kehilangan.


Lenyap dalam bisikan duka, aku belajar,  

Tentang kekuatan dalam kerapuhan, tentang cahaya dalam kegelapan.  

Setiap detik dalam kesunyian, sebuah langkah menuju penerimaan,  

Bahwa dalam setiap kehilangan, ada keabadian yang tersembunyi.


Duka ini, elegi bagi jiwa yang merindukan,  

Pelajaran dari masa lalu, untuk hati yang mencari makna.  

Dan dalam setiap bisikan lara, ada kekuatan yang terlahir,  

Menemukan kedamaian, dalam lenyapnya bisikan duka.

Surabaya, 2023


***


Bayang-Bayang Penderitaan: Lagu Tanpa Suara


Dalam keheningan hati, ku dengar lagu tanpa suara,  

Bayang-bayang penderitaan, melodi kesabaran yang tersembunyi.  

Setiap getarannya, sebuah doa,  

Menggema dalam ruang jiwa yang mencari cahaya-Nya.


Penderitaan ini, bukan sekadar ujian dari dunia,  

Tapi pelajaran dari Yang Maha Kuasa,  

Mengajarkan kita tentang ketabahan, kesabaran, dan tawakal,  

Di bawah naungan iman yang teguh dan cinta yang tulus.


Bayang-bayang ini, walaupun kelam dan sunyi,  

Membawa pesan tentang kekuatan dan ketegaran hati.  

Seperti hujan yang turun, memberi kehidupan baru,  

Penderitaan ini membersihkan jiwa, membawa kedekatan dengan Ilahi.


Dalam tiap bisikan doa, ada harapan yang terang,  

Menyinari gelapnya kesulitan, dengan nur cinta-Nya yang abadi.  

Setiap langkah dalam penderitaan, sebuah perjalanan menuju-Nya,  

Di mana hati yang luka, diberi penawar oleh kasih sayang-Nya.


Lagu tanpa suara ini, nyanyian hati yang berzikir,  

Mengingatkan pada kebesaran dan rahmat-Nya yang tak terhingga.  

Di setiap detik kesulitan, aku belajar berserah diri,  

Menerima setiap takdir, sebagai bagian dari rencana-Nya yang sempurna.


Bayang-bayang penderitaan, bukan akhir dari segalanya,  

Melainkan awal dari pemahaman yang lebih dalam tentang cinta-Nya.  

Dalam setiap luka, ada hikmah yang tersembunyi,  

Dan dalam setiap sujud, aku menemukan kedamaian di dalam-Nya.

Surabaya, 2023


***


Tangis Tersembunyi: Perjalanan Menuju Keheningan


Tangis tersembunyi, perjalanan menuju keheningan

Hatiku rapuh, terluka dalam diam yang tak terucapkan

Di balik senyuman, tersembunyi kesedihan yang terpendam

Aku berjalan sendiri, mencari makna dalam kehampaan

 

Air mata mengalir, mengisi kekosongan hati

Luka yang tak terlihat, menyiksa dalam sunyi

Seperti angin yang berhembus, membawa duka yang tak terkatakan

Aku terombang-ambing dalam samudra kesepian

 

Dalam setiap senyap, aku meratapi kehilangan

Mimpi-mimpi yang sirna, harapan yang terkubur dalam kegelapan

Kegelapan memelukku, memenuhi ruang yang kosong

Aku terjebak dalam labirin kesedihan yang tak berujung

 

Bagaikan reruntuhan, hatiku hancur berkeping-keping

Tak ada lagi cahaya, hanya gelap yang menyelimuti

Rindu yang tak terbalas, cinta yang terlupakan

Aku terpuruk dalam kesendirian yang tak terucapkan


Baca Juga: Literasi Digital Kunci Kesuksesan Generasi Muda


Namun, di balik semua luka dan kepedihan

Ada kekuatan yang tersembunyi, keberanian yang tak terpadamkan

Aku akan bangkit, mengumpulkan serpihan hati yang hancur

Dan menemukan kembali keheningan yang telah lama hilang

 

Mungkin ini hanya perjalanan menuju keheningan

Namun aku percaya, di ujung kegelapan akan ada cahaya

Aku akan melangkah maju, menghadapi badai dengan tekad

Dan menulis kisah baru, di antara tangis tersembunyi

 

Tangis tersembunyi, perjalanan menuju keheningan

Aku takkan menyerah, meski hati terluka dan terguris

Karena di setiap kesedihan, ada kekuatan yang terpendam

Dan aku akan terus berjuang, menemukan kedamaian yang sejati.

Surabaya, 2023


***


Pelukan Penderitaan: Dansa Kenyataan yang Lenyap


Di balik tabir kehidupan, tersembunyi dansa penderitaan,  

Sebuah tarian tak terlihat, dalam pelukan realita yang lenyap.  

Setiap gerakan, penuh dengan emosi yang dalam,  

Mencerminkan kenyataan, dalam ritme yang tak terduga.


Penderitaan ini, bagai pasangan dalam tarian kehidupan,  

Mengajakku berputar, dalam irama kesedihan dan kehilangan.  

Namun dalam setiap langkah, tersembunyi kekuatan,  

Sebuah pelajaran tentang keberanian, di tengah kegetiran.


Dalam pelukan penderitaan, aku belajar melangkah,  

Menari dengan hati yang terluka, namun tetap tegar.  

Setiap gerakku, sebuah pernyataan,  

Bahwa dalam kesulitan, terdapat kesempatan untuk berkembang.


Dansa ini, bukan hanya tentang luka,  

Tapi juga tentang transformasi, perubahan yang tak terhindarkan.  

Dalam setiap putaran, aku menemukan diriku,  

Lebih bijaksana, lebih kuat, lebih paham tentang dunia.


Pelukan penderitaan, ironis namun mendalam,  

Mengajarkan tentang ketidakabadian dan kefanaan.  

Dalam setiap hembusan nafas, ada kesempatan baru,  

Untuk berdansa dengan kehidupan, dalam pelukan kenyataan yang lenyap.


Dan ketika musik berhenti, dan tarian berakhir,  

Aku akan meninggalkan lantai dansa dengan rasa syukur.  

Karena dalam setiap langkah penderitaan,  

Aku menemukan irama baru, sebuah lagu tentang ketahanan dan harapan.

Surabaya, 2023



Ivan Aulia Rokhman, C.PS., C.PSA, Alumni Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Hobby menulis puisi, esai, dan resensi. Karya tulisan telah terbit di media massa maupun online. Saat ini berdomisli di Surabaya. Buku telah terbit antologi puisi Mengakrabi Fajar. Kini bekerja di Yayasan Al Muhajirin Sidoarjo. IG : @mivanauliarokhman


Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post