Jumat, 01 Februari 2019

Tradisi Lisan Dayak yang Tergusur dan Terlupakan

author photo
Resensator Adi Prasetya


"Buku ini menceritakan tentang pengaruh suku Dayak yang semakin terlupakan akibat anak-anak muda dari kalangan suku suku Dayak kurang memerhatikan budayanya sendiri ditambah lagi di mata mereka bahwa suku Dayak merupakan suku primitive dan terbelakang."

literasi kalbar - tradisi lisan
pic pribadi
Judul Buku : Tradisi Lisan Dayak yang Tergusur dan Terlupakan
Pengarang : Tim Penyusun
Penerbit           : Institut Dayakologi
Tahun Terbit : Agusutus 2003
Daerah/Wilayah : Kalimantan Barat
ISSN/ISBN : 979-97788-0-8
Digitalisasi : Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat

Kalimantan Barat mempunyai keberagaman suku dengan ciri khas dan budaya yang unik. Masyarakat Kalbar sangat mengahargai perbedaan dan menghormati adat dan budaya yang berbeda. Kali ini saya mendapatkan buku tentang salah suku di Kalimantan Barat, yaitu suku Dayak yang merupakan suku asli di sini.

Buku ini menceritakan tentang pengaruh suku Dayak yang semakin terlupakan akibat anak-anak muda dari kalangan suku suku Dayak kurang memerhatikan budayanya sendiri ditambah lagi di mata mereka suku Dayak merupakan suku primitive, terbelakang dan adat istiadat Dayak yang tergolong penyembah berhala. Hanya segelintir dari beberapa para tetua suku Dayak yang memegang teguh adat dan tradisi budaya Dayak itu sendiri.

Buku ini ditulis melalui pengamatan yang dilakukan oleh tim yang bernama Institute of Dayakology Research and Development (IDRD). Buku ini disarikan dari laporan kegiatan studi dan pendokumentasian terhadap tradisi lisan Dayak Kanayatn, Simpang, Krio dan Pompakng. Untuk Dayak Kanayatn tim memilih lokasi disekitar Bukit Talaga, Kecamatan Sengah Tamila, Kabupaten Landak. Lokasi Dayak Simpang di Banua Simpakng (sebagian besar dari wilayah kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang).

Baca Juga : Metode MIR Mengoptimalkan Potensi Anak

Dayak Krio dilakukan di sepanjang sungai Krio Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, dan Dayak Pompakng dilakukan di Borakng, Lintang Palamn dan Penyelimau Kecamatan Sanggau, Kabupaten Sanggau.

Kerangka awal dari studi ini sengaja di rancang untuk proses revitalisasi dan pengembalian nilai, bentuk dan fungsi kebudayaan Dayak umumnya dan secara khusus subsukunya. Melalui proses diskusi kritis dengan fasilitator, peserta studi dapat ikut merancang arah studi, ikut dalam proses pengumpulan data, proses perekaman, dan proses pengambilan kesimpualan.

Untuk mencapai tujuan ini Institut Dayakologi membentuk Tim Studi yang terdiri dari seorang Administrator Program, seorang Sekretaris Program, seorang Akuntan dan seorang Koordinator Penerbitan. Kegiatan berlangsung enam bulan pada keempat subsuku Dayak tersebut.

Sesuai dengan tujuan umum studi ini, maka terdapat tiga hasil studi. Pertama adalah proses revitalisasi, resosialisasi, restitusi nilai fungsi dan bentuk keempat subsuku Dayak tersebut. Anggota subsuku yang bersangkutan secara bertahap mulai mengahrgai kembali adat istiadat, tradisi, sistem kepemilikan tanah, yang selama ini dianggap sebagai tanda kekunoan dan keterbelakangan.

Baca juga: Permasalahan Psikologi dalam Novel

Hasil kedua, adalah dokumentasi tertulis berupa laporan penelitian yang kemudian kami ringkas dan disederhanakan menjadi buku ini. Buku ini didedikasikan baik untuk kalangan akademisi, pihak-pihak pengambil keputusan, para aktivis dan anggota masyarakat subsuku Dayak tersebut.

Hasil ketiga adalah rekaman tradisi lisan dari keempat lokasi itu. Rekaman tersebut menurut tim ini sudah dipublikasikan dalam bentuk penertiban buku-buku cerita rakyat. Keuntungan dari buku ini untuk membantu proses pengembalian dan pemberdayaan nilai yang sudah diusahakan oleh masyarakat.

Tujuan dari studi tim ini agar budaya masyarakat Dayak yang selama ini dianggap kuno, primitif, dan lain sebagainya memiliki rasa kesadaran dari masyarakat ntuk memelestarikan budaya.

Selain itu, agar tidak masyarakat luar mengenali tata cara hidup serta indentitas diri sebagai suku Dayak yang meghuni Kalimantan pada umumnya dan Kalbar pada khususnya. Keinginan agar masyarakat Dayak tidak lagi terpinggirkan ataupun terlupakan akibat dari perkembangan zaman yang semakin modern. 

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post