Sabtu, 18 Desember 2021

Sajak Syukur Budiardjo pada Mantra Koruptor

author photo

literasikalbar.com - Syukur dalam puisinya mendedahkan realitas hari ini pada pembaca. Puisi yang sepertinya main-main pada kata dan penyampaian ternyata berisi kritikan.


Puisi Korupsi
Puisi Korupsi karya Syukur Budiardjo pic pixabay


Puisi Korupsi dan Sajak Syukur Budiardjo


"Tung keripit ahai tulang bawang. Rakyat jadi menjerit harga sembako mengawang."


Korban Oplosan


Di negeri ini oplosan telah menjadi idiologi. Seluruh segi

kehidupan mengamalkan oplosan, terbuka dan sembunyi-sembunyi.

Tak peduli korban berjatuhan di sana-sini, terkapar tak berkutik lagi.

Oplosan seolah menawarkan dagelan menggelikan atau sekadar mimpi.

Karena oplosan sering disalahtafsirkan sebagai kolaborasi.


Para pemimpi dan pecundang menenggak oplosan dengan

gagah berani. Membayangkan kehidupan menawan menyenangkan.

Atau melupakan beban yang semakin menyakitkan.

Membongkar nalar lalu meletakkannya di comberan atau selokan.

Meski hidup segera dipungkasi, berujung pada kematian mengerikan.


Alkohol, obat-obatan, obat nyamuk oles, minuman supelemen bersoda

disenyawakan dalam sloki atau gelas bidadari yang menggoda.

Tetapi yang menghampiri adalah setan yang bersemayam di dalam dada.

Setelah dagelan menggelikan atau mimpi indah berbuah noda,

para pemimpi dan pecundang tersungkur hingga nafas mereda.


Di seluruh pelosok negeri korban oplosan berjatuhan terkapar

bagaikan ikan mujahir dicemplungkan ke dalam penggorengan besar.

Kematian sia-sia menjemputnya dengan wajah penuh nanar.

Nyawa yang tak terbeli cepat melompat setelah kehidupan ditukar

dengan segelas oplosan berlabel kebahagiaan yang membakar.


Jakarta, 5 Desember 2020


***


Gila Lubang


Aku teringat novel Remy Sylado

Gali Lubang Gila Lubang

bikin tertawa lantang

padahal dulu aku masih membujang.


Karena gila lubang

orang-orang menggali lubang

dengan berhutang

menggali kuburnya sendiri

hingga maut menjemput datang.


Jakarta, 18 Juli 2021


Baca Juga : Puisi Masa Lalu Margarita
 


***


Gila (2)


Ketika Brasil dikalahkan Jerman

dalam Piala Dunia di kandang sendiri

aku berkata: Gila! Tapi tak bisa memaki.


Ketika pesawat sipil Malaysia ditembak Ukraina

dalam perjalanan menuju Kuala Lumpur

aku berkata: Gila! Ini sungguh ngawur.


Ketika Lady Gaga ditolak menghibur di Jakarta

dalam tur di berbagai negara layaknya

aku berkata: Gila! Andai penyanyi ini diterima.


Ketika Rhoma Irama mencipta dan nyanyikan

lagu dangdut menakjubkan meninabobokan

aku berkata: Gila! Betapa kreativitasnya mengasyikkan.


Cibinong, 19 Juli 2020


***


Bermula dari Gila


Bermula dari gila jadi juara

lalu tercipta pesawat udara.

Juga televisi makin mengebiri

bermula dari gila kian menjadi.

Seterusnya adalah kapal pesiar

tercipta karena gila menggusar.

Akhirnya telepon genggam dipuja

tercipta juga karena gila merajalela.


Cibinong, 18 Juli 2021


***


Gila (1)


Gila perempuan itu biasa

Gila kerja tentulah langka

Gila jabatan menjadi trendi

Gila uang tentunya tak rugi

Gila pangkat menjadi lumrah

Gila hormat akhirnya susah

Gila karier harus menyogok

Gila di jalan menjadi momok


Cibinong, 18 Juli 2021


Baca Juga: Cerpen Ngayau


***


Elegi Para Pemabuk


Segelas oplosan di tangan para pemabuk

menjadi mimpi di kala terpuruk.

Alkohol, spiritus, obat sakit kepala, minuman

suplemen, juga obat nyamuk oles di badan,

seketika berubah dalam pandangan mata

dan galau pikirnya. Menjadi uang tak terkira,

pacar atau istri cantik jelita. Juga rumah mewah.

Semuanya terlihat serba memesona indah.


Segelas oplosan di tangan para pemabuk

menjadi saluran dan pelarian terkutuk.

Bagi orang pinggiran yang dilindas kenyataan

menyakitkan menjadi pesta melupakan

pahitnya penderitaan. Surga dunia fana dikerat

lalu menuju tangis abadi di negeri akhirat.

Kalah dua kali dalam gegap berlaga

karena kematian menghela jiwa dan raga.


Di mana-mana para pemabuk terkapar

tenggelam dalam lautan yang membakar.

Lari dari kehidupan yang menjadi kawah

ujian bagi insan agar sabar dan amanah.

Pikiran dibelenggu tangan setan yang bengis

hingga hidup semakin pedih dan tragis.

Oplosan bagi orang pinggiran 

 adalah jembatan menuju kematian mengenaskan.


Cibinong, 7 Desember 2020


***


Mantra Koruptor (2)


Inilah mantraku

Kulafalkan tak jemu-jemu

Karena aku koruptor nomor satu

Di kantorku tentu


"Semprong bolong buntet alu,

duwit segerbong, wahai, ikutlah padaku".


"Semprong bolong buntet alu,

dollar kuboyong di dalam kardus itu".


"Semprong bolong buntet alu,

uang nyelonong ke dalam amplopku selalu".


Itulah mantraku

Yang kini kuajarkan

Dengan kelicikan

Kepadamu anak cucuku


Cibinong, 24 Juli 2020


***


Anjing Gila


Orang menyebutnya "anjing gila",

tetapi kamus besar menyebutnya "gila anjing".

Kata orang, anjing menggigit orang, itu biasa,

tetapi, orang menggigit anjing, baru luar biasa.

Tetanggaku kini dihebohkan penyakit anjing gila

yang cepat menular melalui gigitannya.

Seperti menularnya penyakit korupsi

menjadi wabah pandemi di negeri ini.


Cibinong, 18 Juli 2020


Baca Juga: Budaya Literasi Baca Tulis di Zaman Milenial


***


Karmina Buah Jambu


Buah jambu buah pepaya

Aku rindu pada si dia


Buah jambu buah manggis

Aku rindu pada si hitam manis


Buah jambu buah mengkudu

Aku rindu pada senyummu


Buah jambu buah pisang

Aku rindu karena sayang


Buah jambu buah anggur

Aku rindu minta dihibur


Buah jambu buah kedondong

Sudah ketemu malah bengong


Buah jambu buah mentimun

Sudah ketemu malah melamun


Buah jambu buah duwet

Sudah ketemu malah mumet


Buah jambu buah sirsak

Sudah ketemu malah terisak


Buah jambu buah jeruk

Sudah ketemu malah terpuruk


Cibinong, 10 Januari 2014


***


Tung Keripit, Pok Ame-Ame, Diobok-obok


Tung keripit 

ahai tulang bawang

Rakyat jadi menjerit 

harga sembako mengawang


Pok ame ame

belalang kupu-kupu

Korupsi rame-rema

satu pun nggak ngaku


Diobok-obok

airnya diobok-obok

Slamet jadi gondok

minyak goreng jadi momok


Cibinong, 28 November 2021

***

Syukur Budiardjo

Syukur Budiardjo Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media daring, dan media sosial. Kontributor sejumlah antologi puisi. Menulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019), dan buku nonfiksi Strategi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018). Akun Facebook, Instagram, dan Youtube menggunakan nama Sukur Budiharjo. Email budiharjosukur@gmail.com.Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16913.


Berkaitan dengan isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Literasi Kalbar sebagai wadah kreativitas berliterasi baca tulis.


Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi, & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com


Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan


Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post