-->

Jumat, 05 Januari 2018

Gerakan Literasi Sekolah Sebagai Bentuk Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Berkelanjutan

author photo
Tulisan Nella Ayu Ningrum

“Dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia.”

Penggalan kalimat dalam teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut tersimpan makna yang besar, yaitu sebagai generasi penerus bangsa diharapkan mampu meneruskan perjuangan para pahlawan terdahulu karena pada hakikatnya mereka telah “menghantarkan” Indonesia hingga ke “pintu gerbang” kemerdekaan Indonesia.

Gerakan Literasi Sekolah Bentuk Perjuangan Kemerdekaan
Pixabay.com

Akan menjadi seperti apa Indonesia setelah itu adalah tanggungjawab kita saat ini. Inilah yang menjadi kesadaran kita bahwa Indonesia membutuhkan generasi berintelektual, berkarakter, dan memiliki jiwa  nasionalisme.

Perkembangan zaman yang semakin pesat dengan tantangannya tersendiri membuat Indonesia harus mampu menyesuaikan diri. Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dituntut memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas agar mampu berkompetisi dengan negara lainnya dan sadar terhadap setiap permasalahan baik regional maupun domestik.

Baca Juga:

Membangkitkan Gairah Membaca


Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu melalui Gerakan Literasi Sekolah. Literasi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Peserta didik dituntut ikut serta dalam literasi karena melalui literasi peserta didik dapat mengenal, mengetahui, paham, dan menerapkan ilmiu dalam kehidupan sehari.

Dilansir dari laman forumtbm.or.id, pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

Baca Juga:

Apa Kabar Literasi di Kalimantan Barat?


Hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA pada tahun 2015 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 negara yang turut berpartisipasi dalam PISA. Selanjutnya, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik angka melek huruf untuk golongan penduduk berumur 15-19 tahun pada tahun 2010 memiliki presentase sebesar 99.56%, tahun 2011 sebesar 98.61%, tahun 2012 sebesar 98.85%, tahun 2013 sebesar 99.42%, dan tahun 2014 99.67%.

Capaian tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat melek huruf yang tinggi. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah masih rendahnya minat baca. Jika dibandingkan oleh hasil penelitian yang dilakukan  OECD, Indonesia selalu menempati urutan paling bawah.

Baca Juga:

Program Literasi Sekolah Membutuhkan Sebuah Contoh


Permasalahan ini menuntut pemerintah untuk menciptakan strategi khusus untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan membaca peserta didik. Implementasi strategi tersebut yaitu dengan menciptakan Gerakan Literasi Sekolah yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Gerakan Literasi Sekolah ini mempunyai tujuan untuk membiasakan dan memotivasi peserta didik untuk mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post