Jumat, 18 Desember 2020

Sajak-Sajak Aris Setiyanto dan Sebuah Doa

author photo

Sajak-sajak Aris Setiyanto menyajikan beberapa kata yang mengajak pembaca untuk mencari artinya dan menyatukan makna dalam satu  larik dan bait yang utuh.


"aku susuri labirin hatimu sasar, tak aku temukan sepercik nur pun sebagai jalanku pulang"


Puisi aris setiyanto pic pixabay


Lentera


tak akan lagi

aku sayatkan luka

biar terbuka jalanmu

nan meliuk—nan memeluk


saat aku langkahkan kaki,

diam di beranda

rumah yang rekah

seperti membuka jalan

bagi yang terus mengingat-Nya.


Temanggung, 27 November 2020


***



Labirin Hati


aku susuri labirin hatimu

sasar, tak aku temukan sepercik nur pun

sebagai jalanku pulang


o, di manakah haribaan ibu?

di tengah jalan berkelok itu

hanya kutemu batu-batu


Temanggung, 27 November 2020


***



Amsal Buah Hati


telah akil balig,

sebatang rotan

menapaki telapaknya

jika tak bersujud

kepada-Nya

nan Maha Esa


Temanggung, 27 November 2020


***



Selapis Langit


butakan aku

—butakan segara

kilau indahnya, untuknya

kilau indahku

'tuk sesiapa


laiknya semua aliran air,

segala bakal bermuara

namun, aku ingin jadi bisu.


Temanggung, 27 November 2020


***



Yang Agung


hati yang telah retak

satu sentuhan runtuh rata

namun di sini aku menanam lembayung

di kedalaman hati


sementara kau bersandar mata angin,

aku membuat bayangan

saat aku jatuh, saat yang kau ingat

kini, akankah sungging senyummu kapai?

aku mengenangmu

yang tergenang

relung telaga.


Temanggung, 27 November 2020


***



Di Dahan Pagi


di dahan subuh

sebelum pagi mengoyak perut malam,

serangkai embun menapak di atas daun

membuat cahaya


selawat mengetuk jendela hati

sementara yang lelap enggan jaga

makin sepi surau Tuhan


yang datang yang memikul hajat

tak resah, sebab kehendak selalu

menggantung di pundak

terus beranak-pinak


Temanggung, 28 November 2020


***



Menulis Nama


di bibir laut ini, terbiasa kita

menulis nama

yang terkasih

namun, di hati yang kecil ini

hanya nama Tuhan

terbingkai sayu


sementara ombak kehidupan

desir menyelimuti nama itu

di hatiku, tetap.


Temanggung, 28 November 2020


***



Mengingat Palu


mengingat Palu,

selalu aku bantunkan doa

dari relung hati

agar ombak-ombak tinggi

tiada pernah kembali


mengingat kota madya,

serupa mengingat mata yang

tak sanggup membendung air

lahir, tergopoh-gopoh

mencari bukit, mencari gunung,

mencari ketujuh langit

agar mala tak mendekap punggung

—tak dibawanya hala segara.


Temanggung, 28 November 2020


***



Antara Corniche dan Parangtritis


kau menerawang Corniche

serupa menerawang Parangtritis

nan amis

dan tangis, sebab rindu melangit


di sana kita bermandi senja

kenangan adalah peristiwa

telah dirangkum

disimpan kepala

menunggu ombak waktu menyapu


kau pejam mata

kau temui Corniche. namun, amis.


Temanggung, 28 November 2020


***



Sebuah Doa


semoga Ilahi mengangkat kaki

agar tak jatuh

tersandung sekat-sekat hidup


semoga terjahit luka

agar sang ayah tak gigil

terpeluk mala


kopiah nan usang,

aku ingin merumahkannya

di pertungkuan bersama piah ibu


ada banyak keraguan

meski langit runtuh kemarin sore

tak ingin patah sayap


Temanggung, 29 November 2020


***


Aris Setiyanto lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisinya, Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas - Tidar Media(2020).


Laman Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi, & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com


Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan






Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post