-->

Minggu, 26 Desember 2021

Sajak Wendy Lim dan Hadiah dari Langit Neraka

author photo

literasikalbar.com - Wendy Lim menyajikan puisi panjang yang memaparkan suatu perihal dengan bertebaran metafora.


Sajak Wendy Lim dan Hadiah dari Langit Neraka pic pixabay


Sajak Wendy Lim dan Hadiah dari Langit Neraka


"Ketika manusia tidak mampu mengerti dan menghargai, Tuhan tetap tabah mendengar suara hati kita semua." ~ Wendy Lim ~


Di Atas Tangga Buku


Di atas tangga buku itu aku menantimu dengan sabar

Aku berdoa semoga kau masih seperti yang dulu

Dengan mata menyala dan mulut haus pengetahuan

Seperti setiap keringat yang keluar untuk setumpuk buku


Tapi maaf, aku memang harus membohongimu waktu itu

Seperti jendela yang terbuka menghampar taman bunga

Kita telah berjanji untuk menyusuri jalanan warna-warni

Mandi di sungai bersih yang memantulkan cahaya murni


Aku berbohong agar kau tetap mempertahankan dirimu

Ketika kita akan berjalan di padang abu yang sesak

Menyusuri kota yang dibelah tangan dan mulut gempal

Dan mendengar isak tangis yang menetes dari dalam diri


Di atas tangga buku itu aku menantimu dengan sabar

Aku berdoa semoga kau masih seperti yang dulu

Seperti Tuhan yang bermukim di setiap halaman buku

Aku pun percaya kau yang membacanya telah diberkati


***


Neraka


Aku menyaksikan matahari lebur ke rongga sunyi yang dalam

Seolah cahayanya menangis dan berusaha menggapai angkasa

Kudengar lidah senja berbunyi mendengungkan isak cahaya

Dan kumaknai sebagai permohonan terakhir yang putus asa


Di tanah yang temaram ini aku mengubur seluruh pakaianku

Sehingga aku telanjang di hadapan mata Tuhan yang berkuasa

Sudah tak ada lagi rahasia yang bisa disembunyikan tubuhku

Dari mata kepala yang padam hingga kelamin yang kempis


Dengki dan dendam telah menjadi sepasang nisan tua bobrok

Yang terpaut ke dalam punggung hingga menancap tulangku

Diriku adalah sebuah makam yang berjalan dan bernafas

Dan di dalamku ada jasad doa-doa yang dikubur kegelapan


Tiba-tiba saja mataku mengalir cairan darah para kekasihku

Tiba-tiba saja telingaku mendengar jerit tangis ibu dan ayahku

Aku pun sekarat oleh tikaman airmata yang amat tajam

Dan malam abadi yang akan mengunyah tubuh dan jiwaku


***


Hadiah dari Langit


Suatu ketika bulan jatuh dan terbenam di mata indahmu

Hingga tubuhmu memancarkan kilapan debu angkasa

Kau bilang itu tanda bahwa Tuhan sangat menyayangimu

dan memberimu hadiah dari langit yang setinggi surga


Ramai orang yang datang mencongkel biji bola matamu

Ramai orang yang datang menjilati potongan tubuhmu

Bulan yang indah telah menjadi mainan nafsu kelamin

Lalu mereka setubuhi sisa-sisa daging bersimbah darah


Hadiah dari langit adalah pemberian sia-sia dari surga

Sebab kita hanya mengerti berahi keindahan yang hina

Hadiah dari langit adalah kutukan bagi kaum manusia

Sebab kita tidak paham rahasia ilahi dari Yang Kuasa


Aku bersumpah, akan kuberi kematian dan kengerian

Basah airmata di wajah ini akan kuubah menjadi darah

Dan pada saat itu sosokmu akan menjadi arah petunjuk

Ketika aku mengarungi sungai merah penuh tengkorak


***


Ayat Doa


Sebab ayat-ayat doa adalah bunga api yang bermekaran

Di saat Yang Kuasa dipanggil dengan ledak dan pecahan

Ketika rumah ibadah dilahap dalam amarah yang buta

Dan Tuhan menguap bersama darah yang naik ke surga


Sebab ayat-ayat doa adalah mayat yang bergelimpangan

Di saat Yang Kuasa dipanggil dengan parang dan pisau

Ketika ibadah memanggil Tuhan di malam jahanam

Dan Tuhan mendatangi kita bersama kematian baik


Sebab ayat-ayat doa adalah nyanyian perang haus nafsu

Di saat Yang Kuasa dipanggil dalam teriak kemenangan

Ketika darah bercucuran menjadi hujan airmata di surga

Dan Tuhan menyeka wajahnya yang selalu cair basah


Sebab ayat-ayat doa adalah kebencian dan ketakutan

Di saat Yang Kuasa dipanggil dalam ragam suara

Ketika manusia tidak mampu mengerti dan menghargai

Dan Tuhan tetap tabah mendengar suara hati kita semua


***


Khotbah Ular Berbisa


Berhati-hatilah, ular berbisa itu tinggal di tanah subur

Tanah yang diberkati dengan kesucian dan puja-puji

Setelah sebelumnya ia menelan sobekan kitab suci

Lalu ia membungkus kulitnya dengan ayat-ayat putih


Ia berdoa dan suaranya meniru surga yang dilapis madu

Tetapi manisnya ada racun yang membuat mabuk jiwa

Ia berkhotbah dengan terang bagai api bersihkan diri

Tetapi kata-katanya membakar semangat hingga sesat


Setelah sebelumnya kata-kata menjadi belukar indah

Yang tumbuh liar di halaman rumah kemegahan Tuhan

Bahkan melukai para umat yang datang untuk berdoa

Oleh tajamnya lidah khotbah di gerbang menuju surga


Ular itu tidak pernah disingkirkan walau bikin susah

Dan rendah hati padanya membuatnya makin pongah

Meskipun di antara gema doa yang mengepalkan api

Keselamatan hanyalah bahtera jiwa untuknya sendiri


***


Dari Negeri Buku


Pertama-tama, aku ingin menyampaikan rasa kagum

Ketika dulu kau berhasil menjaring cahaya dari jendela

Dan menangkap bayangan dirimu sendiri di cermin

Hingga jiwamu berpetualang selagi kau berpakaian


“Sebab kata-kata adalah doa, maka aku bersumpah

Aku ingin jadi pengembara di belantara pikiran

Dan kuingin jiwaku liar, seliar buku-buku acak

Yang menumpuk tak ditata rapi di sudut kamarku.”


Tapi kini kau telah pulang melaut dari negeri buku

Dalam kondisi mabuk dan sering muntah pikiran asing

Bahkan kakimu yang setia melangkah bersama iman

Telah goyah sejak kau mengenakan sepatu para ilmuwan


Sebab kata-kata adalah doa, maka aku berbisik dari hati

Kepada telinga kecilmu ketika kau tidur di ranjang buku

“Kuingin jiwaku tenang, setenang para pustakawan

Mengembalikan buku-buku menuju rak di tempatnya.”



Wendy Lim lahir tanggal 10 Juni 1996 di Pontianak adalah seorang mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2016 dengan jurusan S1 Sastra Indonesia. Pada tahun 2020 Wendy Lim kembali kuliah di Universitas Widya Dharma Pontianak dengan jurusan D3 Bahasa Inggris. Salah satu buku puisinya adalah “Pilu Memilu Aku Berlagu” yang diterbitkan Enggang Media pada akhir tahun 2021. IG: @amuk_angan


Berkaitan dengan isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Literasi Kalbar sebagai wadah kreativitas berliterasi baca tulis.

 

Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi, & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com


Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan


This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post