Rabu, 16 Agustus 2023

Puisi Rahasia Penipu di Tempat Teduh

author photo

Literasikalbar.com - Puisi Rahasia Penipu di Tempat Teduh karya Dise Dalusari yang menyajikan penggambaran sekaligus narasi tentang hal hidup yang terkadang dipertanyakan. Bahkan, saat membaca puisi Dise ini membuat dada bergidik menyaksikan adegan yang tak biasa di depan mata dan menggedor hati pembaca. Selamat menikmati puisi.


Karya Dise Dalusari


Puisi Rahasia Penipu di Tempat Teduh

Puisi Rahasia Penipu di Tempat Teduh


"Semua saksi mata bungkam, dan bersandiwara. Lalu dia tercekik, dan mengakhiri masanya."


Mawar Muda di Telaga


Mawar ditebarkan di Telaga, untuk jiwa yang tenang.

Warnanya yang pucat, mewakili dia yang telah hilang.

Jiwanya, menangisi tubuhnya yang terpisah!

Yang menantikan? Yang berdoa? Tetap masih ada!


Hasrat dari Pria tua, melupakan Tuhan!

Mengintai dengan Mata hina, dan Mulut yang berliur.

Siasat direncanakan, dosa diabaikan!

Dipikirannya memiliki dia di dunia, dan alam baka.


Jalanan yang basah, akan Air Mata dan darah.

Kata ampunan, menghidupkan jiwanya!

Dalam Hujan! Dan kemarahan Alam!

Dia menari, bersama yang telah mati!


Semakin dalam, menariknya ketengah Telaga.

Jiwa yang tak waras, menganggapnya cinta!

Dia menutup usianya sendiri! Menuju Neraka!

Gadis remaja itu tersenyum pilu, menantikan Surga.

Jambi, 21 Juni 2023


***


Bunga Layu Sebelum Mekar


Si kecil menangis, sepanjang malam.

Perutnya kosong, Bibirnya kering.

Rumahnya, bukan dari Batu tapi Kertas.

Berpindah-pindah, diusir, dan dicaci


Si Bapak angkat kaki!

Rayuan mesra. dibalut dusta.

Dulu si Ibu, memilihnya tanpa restu.

Pergi berlayar, meninggalkan Rumah.


Ternyata, kota besar bagaikan Neraka!

Tubuhnya diharga, untuk melayani kuasa.

Belaiannya kasar! Dinikmati seksama!

Wajahnya membiru, ditutupi riasan tebal.


Dia dibuang, karena masa kedaluwarsa.

Hidup dijalanan, dia setengah waras.

Badannya menggigil, Mulutnya berbusa.

Memeluk anaknya, yang tidak pernah ada.

Jambi, 21 Juni 2023


***


Rahasia Sang Penipu


Seorang gadis, bersembunyi di balik karang.

Arus yang bercorak, kaku, dan tersedak.

Jiwa yang bimbang, dan raut yang suram.

Ditikam! Tanpa rasa iba dari Jantungnya.


Dia, yang merasa maha kuasa!

Menyetubuhi takdir, dan menikmati senang!

Lalu, diperlakukan seperti penghimbur malam!

Dia menolak darah dagingnya! Dan berharap binasa!


Isak tangis, mengguyur sepanjang malam!

Mengingat kenangan yang hina, dan dusta.

Menghadap pencipta, untuk meminta balasan!

Kemarahan yang menyambar, memaksa tiada!


Berlutut dalam perasaan jelata, dan murka.

Matanya tidak berkedip, membunuh dua insan!

Juwita itu mengatakan cinta, untuk pengorbanan!

Bujangga tertawa liar! Menyambut Neraka keabadian.

Jambi, 21 Juni 2023


***


Tempat Teduh


Bersama karma, menyindiri di pinggiran kota.

Tidak ada tempat mengadu, untuk keriuhan.

Sakit dipenjarakan, bahagia jadi kewajiban.

Keberhasilan dikucilkan, kesalahan dideklarasikan.


Aku lumpuh, dan kau datang memberi harapan.

Memberikan keajaiban, untukku berjalan.

Memberikanku tempat, untuk menetap.

Membuka ruang, untuk rasakan luka dan manismu.


Berdoa dengan khusyuk, bersama rintik-rintik hujan.

Untuk membawamu kembali, pada kenangan nostalgia.

Kritikan beradu, dan gertakan membuatmu murka.

Aku berkhianat! Dan ingin menang untuk keegoisan!


Sejauh mana kita pergi? Melintas benua!

Kita terlalu kacau! Dan kembali mengejar!

Di tempat yang sama, melepaskan rasa lama.

Menjaga milik kita, dan rasakan surga.

Jambi, 21 Juni 2023


***


Aning Berisik di Selari


Mereka berbisik dengan suara kecil, dan lantang!

Matanya membesar! Bibirnya komat-kamit!

Asumsi disebarkan! Relasi diandalkan! Intuisi dikuatkan!

Sepanjang hari, konsumsi opini rendahan.


Seorang gadis bisu, pekerja malam.

Melawan nasib, demi mengisi perutnya.

Tengah malam, melawan ketakutan.

Pergi, dan pulang tanpa kebisingan.


Para bengis! Membuat jebakan!

Menobrak masuk beramai-ramai!

Senyuman najis, dan sentuhan kotornya.

Meninggalkan bekas luka yang dalam!


Petaka! Ada detak jantung yang tak berdosa!

Semua saksi mata bungkam, dan bersandiwara.

Lalu dia tercekik, dan mengakhiri masanya.

Siksa dunia, membunuh jiwanya!

Jambi, 21 Juni 2023


Dise Dalusari, Penulis yang berasal dari Kabupaten Bungo, Jambi. Alumni Mahasiswi Ilmu Hadis, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Ia mendirikan komunitas Penulis dan Seniman Titan Arum di Kabupaten Bungo, Jambi. Ia berhasil mendapatkan Juara 1 Lomba Cipta Puisi Nasional L.Writerfest, dan Penulis Terpilih Lomba Cipta Puisi Internasional CV EMN, aktif menulis di Media Online Galerijambi.com, Literasikalbar.com, Sumenepnews.com maupun Media Cetak Jambi Harian Ekspres Edisi 28 Oktober 2022, Radar Tuban Edisi 4 Februari 2023, dan Radar Kediri Edisi 18 Maret 2023. Jejak bisa ditemukan di akun Instagram @disedalu.


Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post