Jumat, 15 September 2023

Ketika Nurani, Tanggung Jawab dan Isi Dompet Berbicara

author photo

Cerpen VA

Literasikalbar.com - VA Menyuguhkan cerita yang nampaknya realita, tetapi VA bisa mengolah hal tersebut menjadi cerita yang enak dibaca.

literasi kalbar

Ketika Nurani, Tanggung Jawab dan Isi Dompet Berbicara


"Bukan hanya fokus dalam kecepatan mengendarai motor, hal itu juga berpengaruh terhadap bagaimana aku harus membonceng motor yang Leo kendarai dengan kencang. Dengan kata lain inilah yang tidak mau hal itu terjadi. MEMELUK."


Aku mengatakan padanya akan kebimbanganku ikut serta pergi ke kota esok hari. Kebimbangan itu mengerucut pada rasa tidak percaya diri oleh dua sebab menyertai. Kedua sebab itu sama dominannya, sebab pertama adalah ada semacam penolakan hati kecilku untuk berangkat yang tidak dapat di gambarkan dan di mengerti. Hati kecilku begitu menolak dengan keras seakan mengisyaratkan akan terjadi sesuatu entah itu saat perjalanan menuju kota ataupun pelaksanaan agendanya ketika sudah di kota. Aku tak bisa menjelaskan lebih jelas dan gamblang alasanku yang pertama melalui pesan teks whastapp, cukup ku nyatakan sedang memiliki firasat buruk tentang rencana berpergian esok.


Alasan kedua merupakan kejujuran yang pertama aku ungkapkan kepadanya, selama berkenalan denganya kurun waktu kurang lebih tiga tahun, dengan sedikit malu-malu aku menuliskan sederet frasa menjadi kalimat memberitahukan secara singkat “Aku sedang tidak memiliki uang sama sekali (BOKE).” Tulisku demikian. setelahnya ku menertawai diri sendiri senekad ini desakan soal uang untuk dijelaskan gamblang. Agaknya perihal kondisi keuangan memang bersifat privasi dan hal tabu ketika harus jujur dalam kasus menerima ajakan pergi ataupun agenda berpergian yang terkendala keuangan, setengah mati mencari seribu alasan penolakan. Aku cukup membersarkan hati menjadi salah satu yang bisa jujur diantara kebanyakan orang sulit mencari alasan dalam posisi seperti ini “semoga ia memahami” batinku.


Sebetulnya tanpa aku memberitahukan background permasalahanku, agenda pergi tetap akan terlaksana, sebab ada sebuah tanggungjawab ku di dalamnya. Cukup ironis memang. Apapun tanggungjawab dan tantangannya harus tetap di jalani seperti sekarang. Meski sudah berkata jujur masih saja ada hal yang mengganjal dalam dada. Tentang sebuah firasat alasan pertamaku dan tipekal ku sebagai orang yang tidak percaya diri ketika pergi tanpa memegang uang sepersen pun, perjalanan erat kaitannya dengan hal tidak terduga selama perjalanan. allahualam bi shawab Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi.


Bismillahirahmanirahim aku meyakinkan diri berangkat pagi menuju rumah temanku. Seperti biasa jika agenda pergi ke kota ia selalu menungguku di rumahnya. sedikit ku perkenalkan kami siapa, aku bernama Ara Aseta, di panggil Ara dan temanku bernama Milano Leonardo, di panggil Leo. Kami sedang mengemban sebuah amanah besar tahun ini, Leo yang mengajakku menjadi partnernya mengurusi suatu lembaga organisasi di tempat kami. Pada hari ini ada sebuah kepentingan mengharuskan pergi ke kota. Jarak tempat tinggal kami dari kota cukup lumayan jauh memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan.


Kami meluncur menuju kota dari rumah Leo tepat pukul tujuh. Awal perjalanan tidak ada tanda-tanda terjadi halangan. Aku bersyukur akan hal itu.


Perjalanan lima belas menit berlalu kami banyak diam. Aku menyibukan diri berdoa, entah dengan Leo ia tengah sibuk apa dalam hatinya, mungkin ia memilih fokus mengemudi ketimbang membicarakan progres organisasi kedepan seperti perjalanan yang kami lakukan sebelum-sebelumnya. Kesan pagi ini entah kenapa kami memilih diam satu sama lain dan batinku masih merasa was-was, soal tidak adanya aku membawa uang dalam perjalanan ini, sudah melegakan untuk di dengar jika Leo tidak masalah dengan urusan keuanganku, asal kami masih bisa berangkat menunaikan amanat.


Secara mendadak motor yang kami kendarai mogok, seketika itu pula lamunanku buyar dan membatin “sebuah kisah yang klasik sekali, apakah ini salah satu pertanda dari jawaban rasa kacau dan was-was tiada henti sedari semalam?”.


“Ku harap firasat buruk yang sedari bergejolak cukup terealisasi dengan ini. tapi entahlah, waktu menuju acara hari ini sebentar lagi. Tepat pukul 9 kami harus sudah sampai di sana sedang waktu sekarang menunjukan pukul setengah delapan.” Aku semakin merasa was-was.


Letak bengkel dari tempat motor kami mogok cukup jauh, sehingga mengharuskan mendorong motor bersama. Ini adalah sebuah imbas yang sangat menggelikan sepanjang sejarah hidupku, namun tidak untuk sebagian orang lainnya justru senang mendapati moment seperti ini.


Sekarang perasaanku bercampur antara gelisah waktu terus berjalan dengan rasa geli terhadap peristiwa sekarang yang menimpa kami. Kami berdua menjadi bahan tontonan orang-orang memandangi ke arah kami dan mengira sebagai sepasang kekasih yang sedang tertimpa kemalangan atau orang-orang itu justru menjadi bernostalgia. Beberapa terlihat mesam-mesem.


“Sudahlah, semua itu hanya pradugaku saja, yang orang lain duga belum tentu benar, tetapi yang selalu orang katakan tentang moment seperti ini adalah moment sweet adalah benar. Sayangnya, bukan dengan kekasih sendiri. Sehingga kurang terasa pengalaman manis, hal ini sama saja dengan peristiwa mogok sebelumnya yang pernah terjadi dengan teman priaku yang lain, saudara laki-lakiku, bahkan pengalaman pertama mendorong motor mogok adalah dengan ayah. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Justru menyenangkan. Karena sesudahnya ia membelikan es krim kesukaanku, imbalan sudah membantu mendorong tanpa mengeluh dan menerima kekurangan ayah hari itu. Jadi pengalaman manis itu sudah lebih dulu pernah di rasakan lewat kisahku bersama ayah. Mungkin yang menilai moment seperti ini manis ketika bersama doi, karena sebelumnya mereka tidak pernah mengalami mogok bersama ayah.”


“Ra, naik.” Seru Leo memintaku naik setibanya aku mendekat. Dua menit lalu ia memarkirkan motornya menungguiku jalan hingga tiba dekat lagi dengannya. Beberapa kali Leo memintaku berhenti membantunya mendorong, bahkan meminta untuk tetap naik sedangkan ia mendorong. Tetapi aku menolak. Alhasil akupun menyerah membantunya mendorong dan berjalan pelan di belakangnya.


“Naik Ra.” Serunya sekali lagi sembari mengisyaratkan naik. Jalan di depan tikungan turun. Beberapa kali Leo mengkayuh kakinya untuk melancarkan motornya agar bisa bergerak sendiri mengikuti kontur jalan. Motor berjalan tanpa bunyi deru mesin, membawa kami hingga depan bengkel.


“Mas, kira-kira perlu berapa lama memperbaiki motor saya?” langsung Leo segera bertanya kepada pemilik bengkel sesampainya di bengkel.


Pemilik bengkel memeriksa kerusakan yang terjadi pada motor kami. “sekitar jam sepuluh mas.”


Leo memandangiku dan bertanya “Bagaimana?” ku jawab sekenanya “Terserah.”


Ku pastikan Leo pagi ini mangkel mendengar jawaban terserah. Tidak ada pilihan diksi lain yang harus ku jawab, kemogokan motor saja masih membuat rasa was-was terhadap firasat buruk. Beruntung masih dalam taraf umum halang rintang yang terjadi itu motor mogok bukan sebuah kecelakaan, aku tidak bisa membayangkan. Aku meyakini Leo akan memutar otak untuk tetap melanjutkan perjalanan, jalan satu-satunya adalah Leo kembali ke rumah mengambil motor yang lain. Sedikit ada perbincangan antara Leo dan pemilik bengkel, iya Leo kembali ke rumah dengan meminjam motor sang pemilik bengkel dan aku tetap di sini.


Ku pandangi terus waktu di layar ponsel. Perlu bagi Leo tiga puluh menit kembali lagi. Aku memutuskan duduk di kursi yang tersedia dan kembali berdoa. Agaknya perjalanan kali ini lebih banyak menyebut asma Allah SWT, bukan karena rasa khawatir pada perjalanan kali ini tetapi hal itu ku lakukan sebagai ibadah sebab hari ini adalah hari pertama menjelang sepuluh hari kedepan lebaran idul adha (lebaran haji). Ya, jadi sebelum agenda hari ini di resmikan pelaksanaan jauh-jauh hari rencana berpuasa sudah ku tekadkan. Semoga Allah SWT memperlancar puasaku dan kegiatan hari ini.


Bosan dan mengantuk mulai melanda, Leo belum juga kembali. Memang, waktu dalam ponsel juga belum menunjukan tiga puluh menit Leo pergi. Masih ada lima menit kemudian.


Deru mesin beradu terdengar, membatalkanku dari niatan tidur. Mereka sudah datang Leo dan sepupunya Leo memintaku naik motor segera sedang sepupunya menunggui motor yang mogok. Hatiku merasa tidak nyaman harus merepotkan orang lain. Tidak ada pilihan lain, satu-satunya pilihan begitu. Benarlah perihal yang menyebutkan dalam setiap keputusan pasti ada yang di korbankan dan terkadang keputusan yang di pilih mengorbankan orang lain untuk ikut merasai. Rasa tidak nyaman mendera batinku pada sepupu Leo yang di korbankan menunggui motor dan juga merasa tidak berguna untuk Leo, sebab ketidaktersedianku mempunyai uang untuk menyokong biaya operasional tidak terduga seperti ini dan apesnya uang perjalanan dari lembaga pun belum bisa di cairkan. Akibatnya akomodasi kali ini di tanggung pribadi.


Lima belas menit berlalu sejak meninggalkan bengkel kami membelokan motor untuk mengisi bensin. Ada satu lagi sesuatu mendera dalam batinku yaitu kecepatan motor yang kami kendarai harus dalam kecepatan maksimal, mengingat waktu yang sempit. Bukan hanya fokus dalam kecepatan mengendarai motor, hal itu juga berpengaruh terhadap bagaimana aku harus membonceng motor yang Leo kendarai dengan kencang. Dengan kata lain inilah yang tidak mau hal itu terjadi. Memeluk. “Sia-sia ibadahku hari ini dan menurunkan rasa tanggungjawabku pada sebuah amanah. Masa bodo.” teriak ku sebal dalam hati dan terus beristigfar semoga kejadian hari ini tidak terulang kembali.


  VA merupakan kepanjangan dari nama penulis Vadilah Anggraeni. Penulis lahir di Banyumas, Jawa Tengah dan saat ini berdomisili di Sintang, Kalimantan Barat. Ia dapat dihubungi melalui sejumlah akun sosial media yang ia miliki yaitu Facebook dan Instagram dengan id nama lengkapnya.


Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post