Jumat, 15 September 2023

Aku Baru Tahu Ternyata Istriku Berbohong

author photo

Cerpen Depri Ajopan


Literasikalbar.com - Depri Ajopan menyajikan cerita yang terang-terangan tentang hubungan dan kebutuhan hidup. Cerita yang mungkin terasa bejat menyajikan adanya kisah yang tampak nyata dalam hidup. Cerita ini membuka peluang mata dan pikiran pembaca adanya hubungan gelap atau sebaliknya dalam cerita yang disusun depri Ajopan. Cerita menarik dengan ending yang membuat pembaca penasaran.


Aku Baru Tahu Ternyata Istriku Berbohong


Aku Baru Tahu Ternyata Istriku Berbohong


"Aku dan perempuan itu menyesal sepenuh hati. Menumbuhkan benih ke dalam rahimnya yang subur sebelum waktunya, tidak lewat pintu nikah. Dan setiap orang yang melakukannya sebelum waktunya berujung dengan penyesalan yang panjang, kecuali dia bangsa binatang."

        Dengan berat hati aku mengetuk pintu rumah Pak Datuk pelan-pelan, mengucap salam dengan kesopanan yang pura-pura. Ia membuka pintu dan menyuruhku masuk, mempersilakan duduk. Aku ceritakan tentang keluh kesahku, dan apa tujuanku datang kemari.


        “Aku mau memberi kau uang dengan jumlah yang kau sebutkan secara cuma-cuma dengan satu sarat."


        Aku tidak tahu apakah ia benar-benar turut berduka cita atas musibah yang menimpaku. Ayahku sudah seminggu lebih terbaring di sebuah rumah sakit di Sumatera. Aku menatap lagi Pak Datuk. Gerak-geriknya yang angkuh menghidupkan benih pertanyaan di dalam benakku, membuat detakan jantungku nadinya berdenyut kencang.


     “Jangankan tujuh juta, seratus juta pun dengan mudah kuberikan. Aku punya segalanya Mas Arya. Cuma satu harta paling berharga yang melebihi emas permata yang tidak aku punya,” suaranya yang melengking semakin membahana menggetarkan dada. 


     “Apa yang tidak kau punya itu Pak Datuk?” Aku merundukkan kepala mengenggam jemariku. 


     “Perempuan seperti istrimu. Selain cantik dia setia. Apa kau siap memberikan istrimu untukku sebulan saja,” suaranya begitu lantang. Aku mulai mengerti arah pembicaraannya. Dia mulai kurangajar. Kata-katanya begitu agresif meultimatum aku. Kelakuannya tidak bisa diberi ampun. Berani-beraninya dia mengajakku bertarung. Aku merasa ia menginjak-injak harga diri istriku seperti sampah. Asal lelaki keparat itu tahu, aku mencintai istriku lebih dari segalanya, termasuk nyawaku. 


     “Kurangajar,” desisku penuh emosi yang meluap-luap. Cepat-cepat aku keluar dari tempat terkutuk ini, mengambil batu melempar kaca rumahnya. 


     “Dilaknat kau manusia tua bangka yang tak tahu diri.” Aku merepet di sepanjang jalan menyumpah serapahi. Sesampai di rumah, aku duduk di atas kursi malas manahan emosi. Dadaku masih sesak rasanya. Dan aku yang tinggal di Pula Jawa, tidak mau bikin runyam suasana,  selama kondisi ayahku yang sakit di kampung belum pulih. Kalau ayahku benar-benar sembuh, aku bersumpah akan kucincang tubuh Pak Datuk itu sampai mati. Penjara lebih aku sukai daripada keperibadianku dan kepribadian istriku diinjak-injak tanpa perasaan.


        Beberapa menit kemudian hatiku yang geram mulai tenang. Emosiku yang tadi menjalar di sekujur tubuh membakar jiwaku yang kerdil mulai redup. Dan kini aku duduk membisu berpangku tangan disaksikan jam dinding yang berdenting dengan angkuh. Begitu kepalaku mendongak menatap ke luar. Di bibir pintu yang rapuh, dan mau ambruk itu istriku berdiri tegak. Pandangan matanya begitu tajam menontonku dengan perasaan halus. Ekor jilbabnya menari-nari dipermainkan angin sejuk. Kemudian airmatanya titik. Aku tak mau menyeret dan memberatkan dia dalam masalahku ini. Selangkah demi selangkah ia datang mendekatiku, duduk di sampingku tanpa nada. Sejenak kami saling bertatapan dalam kebisuan. Aku dan dia menggunakan bahasa melalui gerak hati.

     

Baca Juga: Ketika Nurani, Tanggung Jawab dan Isi Dompet Berbicara


    Aku lihat dia ingin angkat suara memulai diskusi ini. Mataku yang tajam terus melihatnya mengerjab-erjab penuh arti. “Maafkan aku Cantika, aku bukan suami yang sempurna untukmu.” Aku yang mendahului. Wajahku memerah, linangan airmata mengalir deras ke luar dari sumbernya. Dan suatu bayangan melintas di depan mataku. Saat-saat kami mengalami suka dan duka. Mungkin kalau aku tidak menikah dengannya diusia yang relatif muda, perjalanan hidupku tidak terkatung-katung seperti ini. Tapi bagaimana mungkin aku lari dari tangugungjawab berupa kekejian. Aku dan dia yang menenggelamkan diri di dalamnya. Melakukan persetubuhan sebelum menikah. Tujuh kali kami melakukannya, baru dia muntah-muntah, mengaku berbadan dua. Aku dan dia sama gigihnya tidak mau mengugurkannya. Bahkan melakukan persetubuhan lebih aktif lagi sampai kami menikah. 


     Dari situ aku memaksakan diriku menikah dengannya setelah kami bertukar daging kemaluan secara bejat. Aku dan perempuan itu menyesal sepenuh hati. Menumbuhkan benih ke dalam rahimnya yang subur sebelum waktunya, tidak lewat pintu nikah. Dan setiap orang yang melakukannya sebelum waktunya berujung dengan penyesalan yang panjang, kecuali dia bangsa binatang. 


     “Aku beruntung menikah denganmu Mas. Meskipun hidup melarat seperti ini,” suaranya begitu lembut dan anggun meraba-raba dadaku membuatnya dingin melebihi salju. Dia yang asli Jawa selalu memanggiku sebutan Mas. Aku seorang suami yang berasal dari Pulau Sumatera harus bertoleransi dengan kultur mereka. “Kalau pulang rasanya malu, kalau tidak pulang hati rindu. Apalagi ayah sedang sakit. Tidak ada alasan untuk tidak pulang,” aku meraung di depannya. 


     “Aku mengerti Mas. Orang tua Mas orang tua aku juga. Sakitnya Mas sakitnya aku juga.” Perempuan yang berbibir merah itu yang menimpali. Kemudian mendekapku erat sekali tanpa lepas. Seakan sebentar lagi aku akan pergi ke tempat jauh yang dia sendiri tidak bisa menjangkau. 


     “Tunggu sebentar Mas. Sekarang juga aku pastikan dapat uang itu,” dia berbisik di dekat telingaku. Menghapus airmata dengan jemarinya yang lentik, meninggalkanku sendirian duduk mematung di sini. Paling-paling satu jam ia keluar. Kemudian datang lagi. “Ini uangnya Mas, sepuluh juta,” ia sodorkan padaku. Meletaknya di atas meja yang goyang. Semuanya uang merah di bungkus di dalam plastik hitam. 


      “Hari ini juga kita siap-siap dan langsung mengambil tiket berangkat ke Sumatera menjenguk orang tua Mas yang sakit.”


     “Kau dapat uang dari mana?” Perasaanku tidak tenang, digoncang seribu pertanyaan. 


     “Apa pun kulakukan untukmu Mas,” dia sibuk menyusun barang-barang yang akan dibawa pulang. 


     “Tidak bisa begitu.” ia yang belum menjawab pertanyaanku, langsung masuk kamar kecil. 


     “Demi Tuhan uang ini halal Mas.”


    Dia menyebut nama Tuhan. Tapi bayangan jorok tetap melintas di depan mataku. Istriku baru mendatangi rumah Pak Datuk, memasuki kamar gelap. Ia menanggalkan pakaiannya sampai bugil untuk dicicipi lelaki tengik itu. Istriku bercinta tanpa rasa cinta. Setelah bercinta dia pergi membawa uang dengan hati yang jijik. 


Baca Juga: Puisi Rahasia Penipu di Tempat Teduh


***


        Tepat pukul 04:57 pagi. Azan subuh bersahut-sahutan dari masjid ke masjid mencakar langit, mengusir setan gentayangan yang meninabobokkan orang-orang yang lalai. Aku dan Cantika sudah tiba di rumah sakit. Ayahku yang terbaring mengerjab-erjabkan matanya yang basah. Selama ini ia ditemani adik perempuanku. Cantika langsung menerobos memeluk ayahku dengan hangat. Airmatanya jatuh berderai membasahi kulit ayah yang sudah berminggu-minggu tidak mandi. “Insya Allah istrimu perempuan yang baik dari dunia sampai akhirat Nak,” mulut ayahku berbisik pelan seakan napasnya mau berhenti. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya yang membosankan tanpa mau dibantu siapapun, duduk mematung di atas kursi lemas.   


     Seminggu sudah, aku dan istriku menjaga ayah di rumah sakit “Hidupmu jauh lebih beruntung dari hidupku Nak. Kau punya istri yang taat, siap hidup susah denganmu.” Ia memandang ke luar. Tanpa menggunakan kacamata batin, aku bisa melihat apa yang melintas dalam bayangannya, sosok wajah ibu yang mempesona, tapi berhati busuk. Dulu dicintainya dan mencintainya dengan hati yang tulus. Setelah ayahku jatuh bangkrut, dan kejatuhannya melebihi kecepatan angin, ibu langsung angkat kaki dari rumah pergi dengan lelaki lain, mantan pacarnya dulu. Lelaki bodoh itulah yang mendekap ibuku sampai sekarang. Ketika ayahku ditinggalkan perempuan itu, inilah yang terjadi, mulutku kelu memanggil ia ibu.   


     “Selama aku di sini, aku tidak bisa memberikan apa-apa ayah, aku dan istriku benar-benar terjepit penderitaan.” Aku menelan ludah, menutup mataku yang basah. 


     “Kebahagiaan seorang ayah, ketika ia bertemu dengan anaknya yang dirindukan karena sudah lama hidup di rantau. Tidak usah dibahas siapa yang memberi dan siapa yang menerima, yang penting kau datang melihatku, itupun sudah cukup bagiku Nak,” aku hampir histeris mendengar suaranya terbata-bata. Napasnya yang berbau busuk menerpa hidungku.


     “Hartaku paling berharga kau dan istrimu Nak.” Cantika mengusap-usap rambut ayahku yang memutih, berkata lirih, “Aku mewajibkan atas diriku mencintai Bapak seperti aku mencintai diriku sendiri.” Aku dan adik perempuanku  terhanyut mendengar kata-kata istriku, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Tamu itu berdiri di depanku, menyalami kami satu persatu bergantian termasuk ayahku. Untuk apa keparat itu datang kemari, lirihku dalam hati yang terus berdetak.


Baca Juga: Literasi untuk Membangun Masa Depan Cerdas


        “Maaf saya baru bisa menjengukmu hari ini Pak,” itu artinya lelaki tua bangka keparat itu kenal dekat dengan ayahku. Di mana mereka kenal? “Tidak apa-apa, kaukan manusia super sibuk Pak Datuk,” ia duduk di dekat ayahku melempar senyum, seperti senyumnya orang baik. Hatiku semakin terbakar. Kalau bukan karena menghormati ayah akanku cekik lehernya di sini, sampai ujung lidahnya ke luar menjulur-julur.


        “Cantika bagaimana perjanjian kita. Aku sudah mempersiapkan segalanya, apa kau sudah siap?” Mulut kotornya yang berbau busuk penuh dusta dan noda berucap lirih seenaknya saja. Harga diriku sebagai seorang suami diinjak-injak dengan telapak kakinya yang penuh lumpur dosa. Aku menatap wajah ayah yang terdiam. Entah karena kaget mendengar perkataan keparat itu, entah karena apa. Aku pun tak tahu. Aku yang lemah takberdaya melihat istriku menganggukkan kepala penuh takzim seperti pasrah. Aku baru tahu, ternyata istriku berbohong. 


Depri Ajopan, Seorang lulusan Pesantren Musthafawiah Purba-Baru Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Novel barunya Pengakuan Seorang Novelis. Sekarang penulis aktif di Rumah Kreatif Suku Seni Riau mengambil bagian sastra.


Literasi Kalbar


Tulis Pendapat Anda 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post