-->

Senin, 27 Januari 2020

Cerpen | Sintang Dua Puluh Empat Jam

author photo
Kita sama-sama tertawa. Jika tak sedang seĺfie lalu ngerasa ribet ambil gambar sendiri, tentu kita tak saling menyapa, tak bertukar nomor handphone. Ah, pertemuan pertama yang tak mudah kulupakan.

Sintang Dua Puluh Empat Jam
Sintang Dua Puluh Empat Jam, Pic pixabay

Cerpen E. Widiantoro

Pagi, bus yang kutumpangi bergerak meninggalkan Terminal Antar Lintas Batas Negara (ALBN)  Sungai Ambawang. Tujuannya jelas; Sintang!

Butuh waktu tempuh tujuh jam dari Sungai Ambawang untuk sampai ke Bumi Sinentang itu. Waktu yang lama. Apa lagi ketika aku benar-benar tak sabar ingin bertemu Dina.

Ya, aku memang harus menemuinya meski sebentar. Hari Sabtu berangkat ke Sintang, Minggu malam telah berada di Pontianak. Waktu yang sangat  singkat! Aku sengaja tak menumpang pesawat udara karena jadwal penerbangan tak sesuai rencana yang telah kususun. Tetapi, tak apalah. Pertemuan dengan Dina kali ini sungguh penting.

***

Lagu lawas Penghujung Cintaku milik Pasha dan Adel mengalun dari speaker kecil, letaknya di sudut kanan atas depan bus dekat pak sopir.

Baca Juga : Cerpen | Pelet Borneo

“Aku akan menikahimu, aku akan menjagamu.
Ku ‘kan selalu di sisimu, sepanjang hidupmu...”

Kupejamkan mata. Kutarik napas panjang dalam bus ber-AC sambil menikmati lirik demi lirik lagu itu.

Wajah Dina tergambar jelas di benakku. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari nuraniku; Dina, mungkinkah kita akan selalu bersama setelah pertemuan nanti. Tidakkah itu akan menjadi  pertemuan terakhir kita? Bukankah kita akan segera menikah?

Nuraniku terus berkata-kata, jantungku berdebar tak menentu  sehingga diserang rasa kantuk lantas terlelap dalam posisi duduk di kursi bus yang empuk.
Aku terjaga ketika bus telah berada di Sosok, parkir di halaman sebuah rumah makan. Semua  penumpang turun. Waktunya istirahat sejenak. Salat Zuhur. Makan siang.

Setelah hampir satu jam, pak  sopir menghidupkan mesin bus. Aku dan penumpang lain kembali ke kursi masing-masing. Kulihat handphone. Banyak pesan WA  yang masuk. Pesan di belasan grup. Pesan dari Dina.

“Abang dah di jalan?” tulisnya pukul delapan lebih sebelas menit.

“Udah,” balasku. “Tunggu aku datang, Dina.”

Tak dibalas. Pesanku belum centang dobel biru, artinya pesan telah sampai tetapi belum dibaca.
Bus bergerak meninggalkan rumah makan yang selalu rame dengan dengan pengunjung. Maklum, Sosok menjadi kawasan transit bagi  kendaraan yang pergi-pulang melintasi jalur Timur Kalimantan Barat.  Satu di antara titik transit itu, ya  rumah makan.

Lagu Penghujung Cintaku terdengar lagi. Benakku dipenuhi wajah Dina yang kukenal  dua tahun lalu di jalur aspal yang lebar bergaris putih bekas landasan pacu lapangan terbang Susilo Sintang.
Sore itu kita sama-sama jogging. Sama-sama sedang selfie. Sama-sama minta dipotret dengan handphone masing-masing.

Dan kita sama-sama tertawa. Jika tak sedang seĺfie lalu ngerasa ribet ambil gambar sendiri, tentu kita tak saling menyapa, tak bertukar nomor handphone. Ah, pertemuan pertama yang tak mudah kulupakan.

Bus melaju di jalan beraspal mulus. Handphone-ku bergetar. Dina WhatsApp;
“Aku pasti menunggu Abang datang,” tulisnya membalas chatt-ku tadi.

“Aku turun di Sungai Durian atau Tugu BI?” balasku.

“Tugu BI,” balasnya cepat.

“Ok,” tulisku singkat lalu membaca pesan dari nomor tak dikenal. “Kami berdua stand by  menunggu instruksi dari Bapak.”

“Kalian di mana?” balasku.

“Taman Entuyut,”

“Okey, tunggu instruksi selanjutnya,”

“Siap!”

Tanpa terasa bus telah melewati Sanggau. Perlu waktu hampir dua jam untuk  sampai ke Sintang.
Aku kembali mengingat Dina. Tubuhnya mungil, kulitnya kuning langsat. Rambutnya panjang sebahu. Tujuh bulan lalu ketika aku pamit pindah tugas dari Sintang ke Pontianak, sebagian rambut hitamnya  dicat cokelat.

Hhmmm, Dina biasa begitu sebelum jadi pacarku, terlihat dari foto-fotonya di Instagram. Jika tak ada aral melintang, bulan Desember nanti tepat di usianya ke-dua puluh lima kami hendak melangsungkan pernikahan.

Sore setelah Asar barulah bus memasuki Kota Sintang, berhenti di depan rumah makan dekat bundaran BI. Satu-satu penumpang turun.  Pun aku.  Betapa lega bisa menjejakkan kaki lagi di Bumi Sinentang.

Dari bus, tak kulihat Dina di antara orang-orang yang berdiri menjemput. Tak apa-apa. Mungkin ia sedang sibuk.

Aku menjinjing ransel hitam  menyeberang jalan ke Taman Entuyut. Toleh kiri-kanan. Seorang lelaki berkaca mata hitam, jeans biru dan jaket kulit hitam diam-diam mengawasi
namun tak kuhiraukan.

Dari Taman Entuyut aku berjalan lagi ke sebuah kafe. Sambil menyeruput kopi hangat di kafe itu kupotret megah dan cantiknya Tugu BI, kukirim ke Dina via WhatsApp.

“Abang dah nyampe? Aku masih di kantor,” balasnya cepat. Potret Tugu BI di WhatApps-ku telah centang dobel biru, ternyata. Kantor yang dimaksud adalah kantor tempatnya bekerja di perusahaan jasa konstruksi.

“Udah. Kita ketemu besok pagi aja ya, Din. Abang pingin langsung  istirahat,” balasku.

“Besok pagi kita ketemu di mana?”

“Taman Bungur,”

“Kita ndak bisa ketemu malam ini, Bang?”

“Ndak bisa, Sayang.”

“Yaaaah, Abang!” balasnya dengan emoticon ☹. Ia kecewa.

Tak kulihat lagi lelaki yang mengamatiku tadi. Kupanggil tukang ojek mangkal di depan kafe hendak nginep ke satu hotel di Jalan Lintas Melawi.  Sebelum benar-benar terlelap di kamar hotel, aku chatting dengan satu nomor tak dikenal, nomor yang tak ku-save.

Baca Juga : Cerpen | Perempuan Bersepatu Merah Di Kota Pati

***

Pagi, dengan jasa ojek aku  telah berada di Taman Bungur. Tak menunggu lama, Dina datang. Cantik! Rambutnya rapi dengan jepit-jepit kecil di belakang, berkaca mata cokelat tua gagangnya cokelat muda. Memakai sepatu kets hitam putih, stelan celana jeans  ketat dan t-shirt  hitam berlingkar putih di kerah leher.

Jaket blue jeans dibiarkan terbuka tak dikancing tengah, ujung lengannya dilipat sedikit. Pipinya merona merah karena polesan make up tipis. Sebentuk gelang manik-manik putih melingkar cantik di pergelangan tangan  kiri.

“Bang Yosi makin gendut aja,” katanya membuka kaca mata, berdiri di sampingku di sebuah saung yang biasa disebut kopel. “Tuh perut dah makin gendut kayak om-om. Ih, aku ndak mau ya nanti dikira orang aku nikah sama om-om.”

“Hhahaaa...! Ndaklah, Sayang. Abang kan nanti bisa pake stagen! Jadi perut gendutnya ndak keliatan.” kataku.

“Ih, Abang niiiihhh...!” katanya meninju pelan perutku.

“Kita bersampan yo. Dari sini sampe ke steiger istana raja lalu balik  ke sini lagi,” ajakku.

“Ayo. Siapa takut?!” katanya menyambut ajakanku. Kami lantas menuju sampan kecil di lanting tak jauh dari Taman Bungur.

Aku dan Dina bergiliran naik ke sampan,  saling  berhadapan. Ia di haluan, aku membelakangi pengayuh sampan, lelaki tua bertopi caping. Kutebak umurnya kira-kira lima puluh tujuh.

Sampan didayung pelan menyeberangi Sungai Kapuas dari Tanjung Puri menuju Kapuas Kiri  Ilir, tempat berdirinya Istana Al Mukarramah bangunan berdinding kuning peninggalan raja-raja Sintang tempo doeloe.

“Bulan September ndak lama lagi, Abang. Aku berharap rencana kita terwujud, bisa secepatnya  menikah, aku telah sah menjadi isterimu,” katanya. Sampan tiba-tiba bergoyang diayun gelombang.  Sebuah speed boat kecil berpenumpang lima orang melintas laju menuju ke hulu.

“Aku pasti akan menikahimu, Dina.” kataku. “Ini janjiku,”

“Semoga ndak ada halangan ya, Bang,” katanya penuh harap.

“Amin,” jawabku lantas diam menyaksikan cantiknya pemandangan Kota Sintang di tepian  Sungai Kapuas.

Di steiger istana Al  Mukarramah sampan berbelok arah kembali ke Tanjung Puri. Aku dan Dina turun dari sampan, melangkah bersisian ke tempat semula.

Di bawah saung itu handphone-ku bergetar.  Satu pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal;
“Maaf. Siap eksekusi, Bapak?”

“Silakan,” balasku dengan jantung berdebar menanti apa yang terjadi. Saatnya telah tiba.

Dua lelaki dari Jalan Patimura melangkah cepat mendekati kami, mencekal erat tangan Dina.

“Bang, ini ada apa?!” tanyanya terkejut. Kutatap lelaki yang berdiri di sebelah kanannya mengeluarkan selembar surat  dari saku jaket.

“Ibu kami tangkap sebagai tersangka dalam kasus korupsi yang melibatkan pengusaha berinisial RY dan Anggota Dewan di Pontianak. Ini surat penangkapannya,”

Baca Juga : Cerpen | Matinya Pelayan Kedai Kopi

Surat itu dibaca oleh Dina. Surat yang di bawahnya tercantum nama, jabatan dan tanda tanganku.  Dina menatapku tajam. Tatapan yang penuh amarah dan kecewa!

“Abang tega! Abang mau menangkap kekasih sendiri. Ndak kuduga Abang sanggup menjebloskan aku ke penjara!” teriaknya parau menahan tangis.

Kutarik napas panjang, kupalingkan wajah ke permukaan Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Aku  tak ingin melihat perempuan cantik yang kusayang itu berteriak memanggil namaku, meronta-ronta tak mau digelandang ke kantor jaksa oleh lelaki berkaca mata hitam, jeans biru dan jaket kulit hitam di sebelah kanannya.

Lelaki yang mengamatiku di Taman Entuyut, memastikan aku dalam keadaan aman. Ia datang ke Sintang dua hari lebih dulu bersama seorang teman di kantor, selalu chatting denganku dari nomor tak dikenal untuk sebuah operasi senyap dan rahasia dibawah kendaliku sepenuhnya.

“Maafkan abang, Dina. Abang  hanya melaksanakan tugas, mengusut kasus korupsi hingga tuntas. Berdasarkan pengembangan penyidikan, ternyata kasus itu menyeretmu,” kataku dalam hati.

Kutebar pandang ke permukaan Sungai Kapuas. Sampan yang tadi kutumpangi bersama Dina bergoyang pelan diayun gelombang. Taman Bungur sepi. Tak ada Dina lagi. Tiba-tiba, ada sesuatu yang terasa menyesak dalam dada.

Lagi, kuhela napas panjang, mengembuskan perlahan. Kupanggil tukang ojek hendak kembali ke hotel, bersiap pulang ke Pontianak dengan bus yang kantornya dekat Tugu BI. Kusudahi sepenggal cerita getir tentang Dina di sini;

Di Sintang dua puluh empat jam.
Kalimas, 15 November 2019.


E. Widiantoro, lahir di Pontianak 11 Juli 1973. Karyanya tak banyak, hanya menyusun buku 117 Cerpen E. Widiantoro, antologi puisi Kembang Pawan dan 199 Puisi Lainnya dan novellet Perempuan di Kampung Caping. Dapat dihubungi melalui HP. +628956148000, Instagram: @e_widiantoro, Facebook: E Widiantoro, E-mail: ewidi11@yahoo.co.id.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post