-->

Kamis, 30 Juni 2022

Suara Kesunyian Wanita Ba Alawi dalam buku The Sound of Silence

author photo

The Sound of Silence, Suara Kesunyian Wanita Ba Alawi


Suara Kesunyian Wanita Ba Alawi

The Sound of Silence merupakan novel pertama karya Vivi. Sebelumnya, penulis perempuan berdarah Arab kelahiran Pontianak ini telah menulis empat buah buku, dua buku nonfiksi dan dua buah buku antologi cerpen, satu antologi tunggal dan satu lagi ditulis bersama teman-temannya di Forum Lingkar Pena Kalbar.


Uniknya, yang memberi kata pengantar untuk novel ini juga seorang perempuan berdarah Ba Alawi sekaligus  Sosiolog di FISIP Untan Pontianak, Dr. Ema Rahmaniah Almuthahar. Dalam pengantarnya, Ema menyinggung tentang pernikahan endogami  (menikah dengan klan/ kaum/etnis/suku sendiri) yang kerap dilakukan oleh perempuan Ba Alawi atau Syarifah di Indonesia.


Baca Juga : Upaya Memicu Anak Supaya Mau Membaca


Ema menulis: Pernikahan endogami pada masyarakat keturunan Arab dari sudut pandang sosiologi adalah manusiawi sifatnya, asalkan idak menimbulkan masalah sosial lainnya, seperti tingginya perasaan etnisitas, etnosentris, dan memicu dalamnya stratrifikasi sosial.

Ema juga mengungkapkan kekagumannya kepada penulis sebagai berikut


“Penghargaan yang tak terhingga saya haturkan kepada penulis yang begitu berani dan tulus mengungkap kisah tersembunyi di balik aturan kafaah (pernikahan endogami di kalangan ba alawi) yang entah kapan bermula. Aturan yang kemudian menjadi tradisi dan norma yang mengikat sepanjang hayat bahkan menjadi syar’i jika diniatkan  ketaatan kepada orangtua dan Nabi Muhammad Saw.”


The Sound of Silence (untuk selanjutnya disingkat SoS) bercerita tentang Maryam Alhinduan, seorang  perempuan Ba Alawi (baca: syarifah) Pontianak yang kuliah di Yogyakarta. Di sana, Maryam berkenalan dan merajut kasih dengan pemuda Arab Hadrami alias Sayyid yang berasal dari Solo dan kuliah di Yogya, Migdad Mugebel.


Maryam sendiri merupakan bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Kakak pertamanya, Gamar, menerima nasibnya yang masih melajang hingga berusia di atas 30 karena belum ada seorang sayyid/ syarif/ habib pun yang meminangnya. (Hal. 13)


Sementara kakak keduanya, Hanuna, memilih memberontak terhadap tradisi pernikahan Kafa’ah di kalangan ahlulbait Rasul Saw dengan menikahi Luki, teman kuliahnya di Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura,UNTAN, Pontianak. Akibatnya, kedua orangtuanya murka dan mengusir Hanuna dari rumah. Mereka juga tidak mau mengakui Hanuna sebagai anak (hal. 12-13)


Hubungan Maryam yang semakin intim dengan Migdad akhirnya membuat Maryam hamil di luar nikah. Ternyata ini menjadi awal mimpi buruknya. Migdad yang telah yatim sejak SMA dan merupakan anak lelaki satu-satunya terpaksa harus bertanggung jawab.


Baca Juga : Cerpen Poligami


Mereka menikah di Yogya karena ibu Migdad tidak menyukai Maryam dan malu menikahkan mereka di Solo. Mereka tinggal di sebuah perkampungan Arab di sana. Migdad pun terpaksa berhenti kuliah dari Fakultas Ilmu Bahasa UGM, jurusan Sastra Indonesia.


Migdad harus memupus mimpi indahnya menjadi seorang penulis besar. Dia berjualan di komplek Masjid Kauman demi menghidupi istri dan calon anaknya. Sementara Maryam bahkan harus melahirkan seorang diri di kamar, di sebuah kontrakan mereka di kawasan Kaliurang. 


Maryam punya seorang sepupu dari pihak ibunya, yang berasal dari Solo dan kuliah di Yogya, Fani Assegaf namanya. Fani ternyata sudah dijodohkan dengan Migdad sejak kecil oleh kedua orangtua mereka. Namun ketika kuliah, ternyata Migdad lebih mencintai Maryam.


Enam bulan setelah cuti melahirkan, Maryam kembali ke kampus demi menyelesaikan kuliah. Sementara Migdad sudah tak peduli lagi dengan kuliahnya. Mimpi menjadi penulis pun sudah dia kubur dalam-dalam.


Karena pernikahan yang tak direstui, kedua orang tua mereka berhenti mengirimi uang bulanan. Terpaksa Maryam dan Migdad sama-sama bekerja mencari uang demi biaya hidup mereka di Yogya.


Maryam menitipkan putrinyake Si Mbah, tetangganya. Maryam mulai banyak belajar keterampilan baru, termasuk belajar masak. Dia juga mengirim lamaran sebagai wartawan magang di beberapa media di Yogya. Bahkan dia juga belajar membuat blog.


Singkat cerita, Maryam akhirnya diterima bekerja di kafe mulai sore hingga malam hari. Profesinya ini sering memicu pertengkaran dengan Migdad yang tidak setuju istrinya bekerja di kafe.


Dialog antara Maryam dan Migdad bisa kita simak di halaman 46-47 seperti di bawah ini.

“Trus, apa kamu mau membiayai kuliahku? Tidak samasekali.uang darikafe itulah yang membantuku untuk bisa kuliah lagi. Bukan darikamu!” maryam berteriak lantang.


“Aku ndak ijinkan kamu kerja di kafe itu. berhenti mulai besok! Bikin malu saja!” teriakan Migdad takkalah kencang.


“Bodo amat!” jawab Maryamsantai.


Plak! Tangan Migdad melayang ke pipi kiriMaryam.


“Besok ente juga harus berhenti kuliah. Ndak ada gunanya. Anak sampe nggak keurus...”


“Trus ibumu yang hebat itu mana? Kenapa ndak mau ngurus cucunya sendiri? Dasar perempuan egois! Pekok!”


Migdad berjalan cepat ke arah Maryam dan melayangkan tangan ke pipi kanan Maryam. Lalu ke pipi kiri. Bergantian. Bertubi-tubi.


Kehidupan rumah tangga Maryam dan Migdad yang tidak harmonis semakin parah ketika putri mereka, Sofia, tewas karena bermain sendiri dan tercebur ke sumur di belakang rumah Si Mbah (hal.48)


Seminggu setelah anaknya meninggal, Maryam kembali ke kampus untuk sidang skripsi. Tentu saja ibu mertuanya, Raguan Barakwan naik pitam dan menyuruh putranya menceraikan Maryam.


Usai wisuda dan resmi berpisah, Maryam pulang ke Pontianak sedang Migdad kembali ke Solo. Ibunya langsung memaksanya menikah dengan Fani. Meski sudah menikahi Fani, tetapi Migdad masih mencintai Maryam, dalam diam.


Maryam kembali ke Yogya demi menziarahi makam putrinya, Sofia, ternyata mempertemukan Maryam dengan Alwi Alhabsyi, seorang duda cerai tanpa anak yang juga keturunan Ba Alawi.


Alwi tinggal di Karanganyar, Solo. Singkat cerita, mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Novel ini pun berakhir dengan happy ending.


Novel ini unik. Novel tipis setebal 81 halaman ini, judul dan delapan bab-nya semua diambil dari judul lagu Barat lawas tahun 60-90an. Dibuka dengan Something Stupid dan diakhiri dengan a New Day Has Come.


Baca Juga : Sajak Dzaki Al Fikri Bunga Cahaya Malam pada Ayah


Tak hanya dijadikan judul bab, di bagian akhir masing-masing bab dicantumkan lirik musik. Terlihat jelas kecintaan si penulis terhadap musik lawas. Selain musik, bahasa yang digunakan sangat indah dan nyastra banget. Saya kutip beberapa kata yang saya maksud di bab dua yang berjudul The Sound of Silence, halaman 13-14.


Ia (maksudnya Hanuna) tak ingin seperti Gamar... hanya demi menunggu seorang lelaki ba’alawy yang tak kunjung datang meminang. Sebuah setia yang malang. Menunggu tuan yang tak kunjung datang (hal.13)


Masih di halaman yang sama, Vivi menulis: bulan lengang. Malam lenggang. Gemintang pecah dan berhamburan ke bumi. 


Di halaman 14 tertulis: gamar dalam bahasa Arab berarti rembulan. Rembulan yang rengap. Layu. Seperti sehelai daun rompal sehabis digasak sekawanan semut merah beringas.


Permainan diksi si penulis mengaingatkan saya akan novel God of Small Thingskarya Arundhati Roy. Sungguh hangat dan memikat.


Bagi kalian yang memiliki pasangan, cerita ini bisa menjadi pembelajaran. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak semestinya dilakukan. 


Identitas Buku
Judul Buku : The Sound of  Silence
Penulis : Vivi Al Hinduan
Penyunting : Vivi Al Hinduan
Tata Letak : Mariyadi
Ilustrasi Sampul : Vivi Al Hinduan
Penerbit          : Pustaka Rumah Aloy
Cetakan : Pertama, Agustus 2017
Tebal Buku : 82 halaman

kirim tulisan media online


This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post