-->

Minggu, 30 Mei 2021

Gadis Nestapa di Negeri Corona

author photo

Cerita Ika Siti Purwanti


literasikalbar.com - Sebuah cerita tentang gadis nestapa di negeri corona mengalami hal yang tidak menggenakkan bagi dirinya dan keluarganya. Selamat membaca.


Gadis nestapa di Negeri Corona pic pixabay


Gadis Nestapa di Negeri Corona


Di awal april 2021 penyebaran virus covid-19 sampai di tanah Borneo. Entah angin apa yang menerbangkannya hingga sampai di pelosok desa pun dia datang.


Awalnya hanya orang-orang kota yang terpapar virus covid-19. Dan biasa yang terkena adalah orang yang mobilitas tinggi, seperti pedagang, tenaga kesehatan,  perangkat Desa, dan anggota DPRD. Namun, kali ini sampai ke petani dan siapapun.


Mustika, biasa dipanggil Tika, seorang gadis berjilbab berbadan tinggi dan besar. Ia bekerja sebagai  guru honor sambil kuliah di Universitas Terbuka. Sebagai anak sulung di keluarganya, Tika juga punya tanggung jawab tukang antar jemput keluarga yang hendak bepergian ke ladang, ke pasar, dan ke mana saja. Hanya dia yang pandai menggunakan motor roda dua dan lihai melewati jalan setapak yang diapit parit.


Baca Juga : Puisi Hujan Pertemuan Musafir


Tika sangat senang dan mensyukuri kehidupannya walau dari keluarga petani. Hidupnya terasa damai dan selalu bahagia. Namun berbeda ketika tika mendapat informasi dari tenaga kesehatan bahwa hasil swab menunjukkan ia positif korona.


Pemeriksaan swab dijalaninya karena ada seorang guru ASN yang satu kantor dengannya terpapar covid-19. Guru tersebut terpapar covid-19 karena ada kontak dengan keluarga yang bekerja sebagai tenaga kesehatan yang positif covid-19.


Tika dan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua saudaranya  harus menjalani karantina mandiri di rumahnya. 


Hari-hari terasa panjang dan melelahkan bagi Tika. Betapa tidak ada kawan yang datang. Tetangga bukannya menyapa atau bertanya kabar, tapi malah lewat membuang muka. Ketika tetangga melintas di depan rumah, maskernya dikenakan dan setelah jauh dari rumahnya masker dilepaskan.


"Ha…ngape  tetangga tu mak lihat kite macam nak setan?” Tanya Tika pada emaknya.


"Sabarlah Nak, kita ambil baiknya saja. Mungkin karena dia mengikuti anjuran pemerintah tentang jaga jarak." Hibur emaknya


Baca Juga : Membeli Buku Sebuah Upaya Apresiasi Karya


Ketika sore Tika hendak memasak sayur ternyata bawang merah, garam, micin, dan belacan habis.


“Waduh bagaimana tok. Mana nyaman sayur si an  begaram. Minta tetangga mana mau kasih." Keluh Tika.


Akhirnya Tika memberanikan diri untuk keluar rumah pergi ke warung terdekat. Tika menggunakan masker menuju warung dan tidak lupa menggunakan hand sanitaizer.


Sesampainya di warung, Tika harus menarik nafas panjang karena pemilik toko tidak mau melayaninya dengan alasan bahwa Tika pasien covid-19.


Dengan langkah lunglai Tika pulang, dalam hatinya berkata, “Udahlah jatuh ketimpa tangga rasenya tok.”


Dada Tika menahan sesuatu sesak yang tak biasa. Tidak terasa menetes air mata Tika. Sambil berdoa, “Ya Allah berikan kekuatan kepada kami untuk menghadapi cobaan yang Kau berikan."


Sesampainya di rumah, Tika duduk sambil berusaha mencari cara bagaimana pasien covid-19 tidak dikucilkan. Bersambung....


***


Ika Siti Purwanti lahir di Jelatang. Tahun 2014 lulus CPNS. Menyelesaikan kuliah PGSD di UNTAN Pontinak lulus Tahun 2018. Sekarang sebagai guru ASN di SDN 04 Jelatang.


Laman Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi  & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com


Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan




This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post