-->

Rabu, 05 Mei 2021

Sajak-Sajak Arham Wiratama dan Memeluk Rindu

author photo

literasikalbar.com - Sajak yang disajikan penulis, Arham Wiratama, menampilkan dengan berbagai tema. Tema yang ringan hingga yang agak mengerutkan dahi. Selain tema, penyajian sajak berupa kalimat yang dipenggal dalam bait menjadikan pembaca berusaha menyatukan untuk mendapatkan makna.


Sajak Arham wiratama pic pixabay


Sajak-Sajak Arham Wiratama dan Memeluk Rindu



"Rindu yang telah mengkristal di semenanjung hati, biar sesal bertemu ajal."



Harmoni


Ditancapkannya dupa rudraksha

dekat sungai yang mengalirkan

ragam perasaan menjadi harmoni


Dia yang bermata pelangi

mulai menjejak kaki

sambil menghindari batu tajam


Aku yang berjubah malam

melompat kepada deras arus

tanpa perduli dinginnya air


Saat tangan saling berpelukan

pada gelombang ini kami menari

sampai jiwaku dan jiwa-Mu menyatu


Jombang, 5 Juli 2020

22:24



***



Istigfar


Dirapalkannya zikir

sampai hatinya ditumbuhi

rambatan daun mint segar

yang menyejukkan batin


Dirasakannya bara amarah 

tersiram riak ombak kesabaran

dan benang-benang tasbih

menutup nganga luka purba

di tiap badan-jiwa


Serta mengakarlah kilatan sukma

kepada inti cahaya ilahi

sampai redup ruh

menjadi secemerlang surya


Jombang, 8 Juni 2020

11:59



***



Meleburkan Kami agar Menjadi Aku


Ragaku terbikin dari tanah kudus

sedang jiwa ini menjadi bibit 

dalam tubuh biar mengakar tumbuh

sampai daun-daun kebijaksaan

memenuhi reranting pikiran

dan pada akhirnya membuahkan

penyatuan antara Tuhan serta hambanya

persis seperti air keilahian menjadi

nadi di dalam batang sukmaku


Jombang, 22 Agustus 2020

6:34



***



Kemarau Memeluk Salju


Pendar matahari di matanya

terlihat mulai sekarat dan

tidak lagi menghangatkan

laut beku di dalam diri"


Dia genggam kemarau di tanganku

sambil mengucap badai salju

yang belum hendak reda juga

setelah berabad-abad silam


Batu es di dadanya baru mencair

berkat dekap gersang yang

aku beri secara cuma-cuma

dan air dingin itu menjalar


Di jiwa padang pasirku

yang belum menemui 

setitik embun pun

sejak pertama kali hidup


Baru kusadari setelah pelukan menghangat

bahwa dia beri aku hujan penuh keberkahan

dan aku lelehkan tiap gunung kesedihannya

sampai perasaan kami menjadi hutan yang hijau


Jombang, 2 Januari 2021

8:06



***



Menunggu dan Mengejar


Sembilan nyawa sudah ditarik kereta waktu, 

dan kesabaran masih mengekal. Menunggu.

Tanda-tanda akan ketibaanmu di sampingku,

selalu muncul dalam mimpi. Meski getar rindu

tidak membawakanmu ke genggam tanganku.


Tiap reinkarnasiku di dunia ini, jejak-jejakmu

aku ikuti meski hal itu mengarah ke curam jurang.

Jatuh dan berdiri kian lama membawa memar,

sedang kakiku terus mau mengejar. Mungkin perlu

sejenak duduk, menghirup selinting harapan.


Pemantik menyalakan seberkas pendar, dan

biar pula semangat dikulum sampai pudar,

aku pantang berhenti, kecuali kita bertemu lagi.

Mengikis tebal rindu yang telah mengkristal

di sepenanjung hati, biar sesal bertemu ajal.

9 Januari 2020

14:23



***



Buntu


Jejakmu jauh memanjang

di penjuru putih pasir pantai

kerinduan pun menolak terpejam

dan terus terjaga sampai larut malam


Saat laut telah pasang

senyumku lepas dan menghilang

lantas kutemukan dia di antara batu karang

setelah gelombang menyeretnya pulang


Di hadapan samudra yang sebiru lapis lazuli 

kita pernah saling menenun rinai air mata

menjadi derai dan gemerincing tawa


Sekarang sesatunya yang tersisa

adalah segumpal padat penyesalan

yang menyumbat di paru-paru

Jombang, 24 Mei 2020

9:40



***



Taman Kanak-Kanak


Seorang guru di taman kanak-kanak

menanyakan cita-cita siswa-siswinya

sebagian besar menjawab ingin menjadi

dokter, pilot, tentara, polisi, dan presiden


Anak lelaki pendiam yang sering 

duduk di ayunan berderit

ingin menjadi hakim atau pengacara

agar tanah serta sawah orang tuanya 

bisa ia rebut kembali setelah dijarah

oleh kepentingan oknum pabrik


Anak perempuan manis 

dengan hidung mancung

namun selalu pilek itu

ingin menjadi DPR

untuk memperbaiki

tiang perundang-undangan

yang mudah ditumbangkan


Anak pelamun yang selalu

nampak lapar dan suka meminta

makanan sisa dari kantin, ingin sekali

menjadi purnama karena kegelapan saja

yang ia lihat di masa depan

bila kemiskinan di rumahnya 

belum juga terselesaikan

Jombang, 27 Juni 2020

10:37



***



Mujair


Aku lihat dia merokok 

di pinggir sungai,

matanya serapuh 

matahari terbenam

rambutnya kusut 

dicakar-cakar angin

musim semi.


Dia terbatuk kaget 

saat aku mengigit kail,

segera dia tarik 

benang pancingan.

Mendapati ikan mujair gemuk

senyuman terbit di wajahnya.


Terdakilah puncak bukit

kebahagiaan di hati ini,

karena tidak lama lagi

aku akan berada di perutnya

yang kosong.

12 Juni 2020

22:52


Arham Wiratama lahir di Jombang 1 Agustus 1997. Arham pernah menerbitkan buku, Deru Desir Semilir (Intelegensia Media, 2016) dan Segara Duka (J-Maestro, 2018). Karya-karyanya pernah dimuat di Radar Selatan, Radar Jombang, nalarpolitikcom, rubrik.indhependentcom, kuluwungcom, floressastracom, travesiacoid, diksijombangmyblogid, becikid, marewaicom, dan lain-lain tempat. Puisinya yang berjudul “Menembaga” mendapat juara satu di perlombaan pada event Indonesia berpuisi #2 tingkat nasional yang diadakan oleh Poetry Publiser. Temui Arham di facebook: Arham Wiratama (https://www.facebook.com/gerimismenderasapi)



Laman Literasi Kalbar menerima tulisan berupa puisi, cerpen, resensi, & opini. Silakan kirim ke literasikalbar@gmail.com



Ketentuan tulisan bisa baca di Kirim Tulisan



Baca Juga


Puisi Anis Khoirunnisak & Air Mata


Cerpen Pelet Borneo


Resensi Permasalahan Psikologi dalam Novel

***

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post